Tangani Ancaman Terorisme, Hikam Nilai RAN PE Perlu Libatkan Publik

  • Whatsapp
Muhammad AS Hikam
Foto : Istimewa

Inisiatifnews.com – Akademisi dari Universitas Presiden, Muhammad AS Hikam menilai bahwa radikalisme berbasis intoleran hingga berujung pada terorisme adalah salah satu ancaman tersendiri yang dialami Indonesia.

Hal ini kata Hikam merujuk pada hasil Global Terrorism Index tahun 2019.

Bacaan Lainnya

“Menurut indeks internasional ancaman terorisme sampai 2019 ini, Indonesia mengawatirkan dibandingkan kondisi di Amerika. Jadi kita tidak boleh lalai karena ini nyata,” kata Hikam dalam diskusi dengan tema “Indonesia di Tengah Tantangan Terorisme” yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Pendidikan Pancasila Untuk Demokrasi di D’Hotel, Jakarta Selatan, Sabtu (10/4/2021).

Apalagi berdasarkan pengamatannya, bahwa kelompok teroris di Indonesia bukan merupakan kelompok yang bergerak sendiri, melainkan ada afiliasi. Bahkan bisa jadi, kelompok ini juga punya irisan dengan kelompok teroris di Timur Tengah.

“Saya rasa naif apabila terorisme di Indonesia berdiri sendiri, karena kelompok ISIS ini kan membangun kelompok atau organisasi tertentu yang akan mengembangkan pemahamannya,” ujarnya.

Untuk itu, ia pun berharap ada gerakan masyarakat sipil yang bisa mendeteksi dini jaringan kelompok teroris ini, setidaknya dimulai dari lingkungan mereka masing-masing.

“Negara dan masyarakat sipil bersinergi membagi tugas secara sistematik dan masif berupa sebuah gerakan nasional,” tuturnya.

Secara khusus, Menteri Riset dan Teknologi era Presiden KH Abdurrahman Wahid (alm. Gus Dur) ini memang belum memahami secara utuh tentang regulasi yang diteken oleh Presiden Joko Widodo, yakni Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 7 Tahun 2021 tentang tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Ekstremisme Berbasis Kekerasan yang Mengarah pada Terorisme Tahun 2020-2024 (RAN PE).

Namun ia berharap dalam regulasi yang ditetapkan tanggal 6 Januari 2021 dan mulai diundangkan pada tanggal 7 Januari 2021 tersebut bisa melibatkan masyarakat sipil secara aktif.

“Saya mencoba baca RAN PE itu, tentang keterlibatan mayarakat sipil perlu dan deradikalisasi dalam lampirannya ini banyak sekali cita-citanya yang melibatkan masyarakat sipil, tapi belum terlaksana juga,” paparnya.

Tidak hanya masyarakat sipil saja, Hikam juga menilai keterlibatan kelompok tokoh agama juga tak kalah penting lagi. Karena dengan peran mereka, setidaknya masyarakat bisa tercerahkan pemahamannya dan dibimbing secara spiritual dengan baik.

“Peran deradikalisasi dengan keterlibatan kelompok agama sangatlah penting, bukan hanya kelompok agama tertentu tetapi semua kelompok agama harus terlibat dalam peran deradikalisasi, karena mereka ini kan bisa masuk kemana aja dengan berbagai macam cara,” sambungnya.

“Ini yang perlu di kembangkan karena saya yakin RAN PE ini sangat luar biasa,” pungkas Hikam. [NOE]

Pos terkait