BIN Ajak Generasi Muda Tak Mudah Terpengaruh Paham Teroris

  • Whatsapp
Wawan Hari Purwanto
Deputi VII Bidang Komunikasi dan Informasi Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto.

Inisiatifnews.com – Juru bicara Badan Intelijen Negara (BIN) Wawan Hari Purwanto mengingatkan kepada bangsa Indonesia, khususnya kaum muda untuk tidak mudah termakan doktrin kelompok teroris.

Menurutnya, kelompok ini akan mendoktrin para calon kadernya untuk berani melakukan bom bunuh diri.

Bacaan Lainnya

“Kita ingin ajak semua pihak agar berpikir jernih, kalau ada ajakan-ajakan untuk berperilaku untuk berani mati tanpa berani hidup maka kita harus waspada,” kata Wawan dalam diskusi online yang digelar oleh BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Kamis (15/4/2021).

Padahal sebagai generasi muda Indonesia, seseorang bisa menjelma menjadi seorang pemimpin yang mampu memimpin bangsa dan negara untuk menuju kepada kebaikan. Namun ketika ada gerakan atau paham yang justru mengajak untuk melakukan terorisme apalagi sampai berani mati sia-sia, seharusnya tidak diikuti.

“Kita sebagai pemimpin harus berani hidup karena mati adalah keniscayaan, matilah setelah hidup yang sudah memberikan manfaat kepada orang lain,” tuturnya.

Lebih lanjut, Deputi VII bidang Komunikasi dan Informasi BIN ini juga mengingatkan jika saat ini ada fenomena baru yang cukup tren di kalangan kelompok teroris. Di mana mereka menjaring anak-anak muda untuk disiapkan sebagai pengantin, alias pelaku bom bunuh diri.

“Perekrutan generasi muda sebagai kelompok teroris mengejutkan semua pihak. Dulu pelaku teroris sudah dewasa, ada Amrozi, Abu Bakar Baasyir dan sebagainya. Dan anak-anak muda ini sudah dipilih untuk menjadi kader dan pasrah jadi pasangan pengantin peledakan bom,” jelasnya.

Karena sasaran perekrutan saat ini banyak dilakukan terhadap generasi muda, Wawan pun mengharapkan kerjasama semua pihak, khususnya adalah keluarga agar benar-benar mampu mendeteksi perilaku sanak saudara mereka agar tidak terjerumus dan terpapar paham radikalisme yang berujung pada terorisme.

Lone wolf ini sulit terdeteksi kecuali di kalangan keluarga. Ini yang perlu dijejaki oleh kedekatan anggota keluarga ketika ada gerakan-gerakan yang mencurigakan,” tutur Wawan.

“Jangan sampai dia terafiliasi dengan kelompok terorisme,” pungkasnya.

Pos terkait