Ini Sebab Demokrasi yang Ideal Belum Tercapai di Indonesia

  • Whatsapp
Abdul gaffar karim
Abdul Gaffar Karim

Inisiatifnews.com – Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (FISIPOL UGM) Yogyakarta, Abdul Gaffar Karim menyampaikan perspektifnya mengapa demokrasi secara ideal di Indonesia masih belum tercapai sampai saat ini.

Secara fundamental, demokrasi bisa dikatakan ideal ketika kedaulatan benar-benar ada di tangan rakyat dan rakyat mampu melakukan kontrol terhadap segala bentuk pengelolaan pemerintahan dari orang-orang yang telah ia berikan mandat.

Bacaan Lainnya

“Demokrasi yang ideal banyak standar,” kata Abdul Gaffar dalam Tadarus Demokrasi dengan tema “Relasi Agama dan Demokrasi” yang digelar oleh MMD Initiative, Sabtu (17/4/2021).

“Kalau kita kembali pada prinsip dasar yakni kedaulatan ada di tangan rakyat, rakyat memberikan mandat dengan segala kebebasannya bisa dikelola. Maka rakyat harus lakukan peran kontrol sebaik-baiknya,” lanjutnya.

Sayangnya, idealitas demokrasi ini masih belum tercapai karena diksi kedaulatan ada di tangan rakyat hanya sebuah jargon dan teori semata. Faktanya, dalam kontestasi politik elektoral misalnya, suara-suara rakyat kerap dijadikan sebatas barang komoditas bagi para kandidat calon wakil rakyat ataupun calon kepala pemerintahan saja.

Karena hanya faktor komoditas semata, maka masyarakat mudah dibelah dengan sentimen tertentu yang dibuat oleh para peserta pemilu, baik sentimen rasial apalagi keagamaan. Bahkan keterbelahan itu pun tak jarang tetap berlanjut walaupun proses politik elektoral telah usai.

“Tapi masalahnya banyak rakyat kita mudah dibelah oleh kemenangan-kemenangan kandidat baik di tingkat lokal dan nasional. Bahkan cenderung masyarakat masih memilih melanjutkan keterbelahan itu walaupun pemilu telah usai sehingga proses pemerintahan tidak terkontrol karena masyarakat asyik ribut sendiri,” jelasnya.

Kondisi ini yang membuat mengapa demokrasi secara ideal di Indonesia masih belum tercapai.

Bagi Abdul Gaffar, situasi faktual ini perlu disikapi oleh semua pihak, khususnya para intelektual dan tokoh baik tokoh bangsa maupun tokoh keagamaan. Sehingga keterbelahan masyarakat bisa diselesaikan dan kontrol publik terhadap pemerintahan yang berjalan bisa dilakukan dengan baik demi kemajuan bersama.

“Sehingga idealnya demokrasi tidak tercapai. Maka orang-orang yang punya suara dan opini harus ikut bagaimana menghentikannya,” pungkasnya. [NOE]

Pos terkait