Moderasi Beragama di Tengah Masa Transisi Darurat Bencana Sulbar

  • Whatsapp
moderasi agama
Ilustrasi.

Inisiatifnews.com – Salah satu upaya untuk menjaga kebinnekaan di Indonesia adalah menjalankan agama yang moderat. Apalagi di tengah situasi bangsa di mana ada beberapa kelompok masyarakat berbasis agama tertentu yang merasa ingin mengeklusifkan diri dengan menafikan perbedaan yang ada.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh akademisi dari Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Muhammad Nasir. Ia menyebut bahwa moderasi beragama adalah salah satu ikhtiar bangsa hidup rukun.

Bacaan Lainnya

“Moderasi beragama sendiri memiliki tujuan untuk menciptakan kehidupan harmonis, rukun dan damai dalam perbedaan,” kata Nasir dalam webinar dengan tema “Komitmen Menjaga Moderasi Beragama pada Masa Transisi Darurat Bencana di Sulbar” pada hari Sabtu (24/4/2021).

Ia juga menyebut, bahwa bencana sosial bisa muncul ketika ada sekelompok masyarakat tertentu yang ingin mengimplementasikan pemikirannya lewat jalur kekerasan.

“Paham atau aliran yang menginginkan perubahan sosial dan politik dengan cara kekerasan dapat membawa ancaman kehidupan dalam keberagaman atau moderasi beragama,” jelasnya.

Namun untuk menciptakan moderasi beragama yang masif di kalangan masyarakat, tentu memerlukan peran aktif para tokoh agama untuk memberikan pendidikan kepada warga sekitarnya.

Hal ini seperti yang disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Barat (Kakanwil Kemenag Sulbar), Muflih B. Fattah. Ia menyebut jika pihaknya sudah melakukan langkah-langkah konkret untuk sosialisasi kepada para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk menyebarkan pesan-pesan moderat.

“Para penyuluh agama dan stakeholder lainnya telah kami berikan pembinaan dan tugas untuk menyebarkan pesan-pesan moderasi beragama dengan harapan terbangun harmonisasi keagamaan di Sulbar,” kata Muflih.

Muflih B. Fattah
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Barat (Kakanwil Kemenag Sulbar), Muflih B. Fattah.

Dan yang tak kalah penting menurutnya adalah bagaimana masyarakat bisa peka terhadap paham-paham radikal yang bisa memicu persoalan baru di kalangan masyarakat.

“Di lain hal perlu adanya kewaspadaan terhadap aliran-aliran radikal ekstrimisme yang bisa masuk di Sulbar dan mengganggu keutuhan bangsa dan negara,” sambungnya.

Pos terkait