Banyak Anak Muda Terpapar Radikalisme, Ini Kata Ahmad Basarah

  • Whatsapp
Ahmad Basarah
Wakil Ketua MPR RI dan Wasekjen DPP PDI Perjuangan, Ahmad Basarah. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews.com – Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah mengungkapkan beberapa alasan mengapa anak muda atau generasi milenial mudah untuk dipengaruhi gerakan radikalisme. Menurut Basarah, salah satu alasannya adalah pembubaran Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (BP7).
Saat menjadi narasumber Dialog Empat Pilar, Basarah mengatakan hilangnya materi Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) dari kalangan pelajar, mahasiswa dan aparatur negara juga menjadi salah satu alasan.

Menurut Basarah, sejak BP7 dibubarkan tidak ada lagi lembaga yang berkewajiban mensosialisasikan dasar dan ideologi negara. Sedangkan sejak P4 ditiadakan, tidak ada lagi pelajaran mengenai dasar dan ideologi negara kepada pelajar, mahasiswa dan aparatur negara.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, lanjut Basarah generasi milenial mencari-cari ideologi dan dasar negara yang dipakai di negara lain, meski belum tentu sesuai dengan Indonesia. Kondisi ini semakin rumit, karena generasi muda lebih percaya kepada media sosial, daripada media massa konvensional.

Terbukti tingkat kepercayaan masyarakat kepada medsos mencapai 20,3%. Angka ini lebih besar daripada kepercayaan masyarakat terhadap informasi yang dikeluarkan secara resmi oleh website lembaga pemerintah hanya 15,3%.

“Harus diakui, negara pernah abai terhadap pentingnya sosialisasi dasar dan ideologi negara. Dianggapnya sila-sila dalam Pancasila, itu bisa diartikan sesuai rezim pemerintahan yang berkuasa. Sehingga saat penguasanya berganti, Pancasilanya pun harus berganti. Lantas bagaimana anak-anak muda akan memahami Pancasila, kalau disosialisasikan pun tidak pernah,” kata Ahmad Basarah dalam keterangannya, Senin (26/4/2021).

Menurut Basarah, anak muda gampang dipengaruhi untuk melancarkan gerakan radikalisme dan aksi bom bunuh diri, karena umumnya mereka memiliki jiwa militan yang sangat kuat. Kepada anak-anak muda itu ditanamkan keyakinan semua yang dari barat adalah kafir dan thogut, termasuk masalah demokrasi dan Pancasila. Akibatnya banyak anak muda yang terpengaruh dan larut dalam aksi radikalisme.

Ia pun mengutip mantan pelaku Bom Bali, ustadz Ali Imron dalam sebuah diskusi. Dalam diskusi tersebut, Ali Imron mengatakan untuk mengubah seseorang menjadi teroris cukup mudah hanya membutuhkan waktu dua jam. Tetapi untuk mengubah teroris menjadi tidak teroris membutuhkan waktu yang sangat lama.

“Menurut Ali Imron, pelaku Bom Bali, dalam sebuah diskusi, untuk mengubah seseorang menjadi teroris sangat mudah hanya butuh waktu dua jam. Sementara untuk mengeluarkannya dari kelompok radikalisme itu butuh waktu yang sangat lama. Inilah salah satu alasan mengapa banyak generasi milenial terpapar radikalisme,” imbuh Basarah.

Sementara itu Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti mengatakan, dulu aksi ekstremisme didorong oleh faktor ekonomi dan kesejahteraan. Tetapi kini, alasan tersebut sudah bergeser menjadi persoalan ideologi, demokrasi dan politik.

Keterlibatan generasi milenial dalam aksi ekstremisme kata Abdul Mu’ti, karena pada usia muda mereka tengah mencari identitas dan jatidiri. Kalau tidak dapat bimbingan yang benar, mereka akan mudah terbawa arus yang mempengaruhinya.

“Ada kekosongan jiwa sehingga gampang dipengaruhi, termasuk untuk menjadi pelaku bom bunuh diri. Juga kurangnya pengetahuan, dan teladan yang bisa mereka temukan. Mengapa gerakan anti Pancasila makin banyak karena mereka tidak melihat dengan Pancasila Indonesia makin baik dan makmur,” tutur Abdul Mu’ti.

“Karena itu muncul keinginan mencari ideologi baru, apalagi di luar memang ada ideologi yang membuat suatu negara maju,” tambahnya.

Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam aksi ekstremisme juga dipengaruhi minimnya ruang terbuka yang bisa menjadikan mereka berekspresi dengan leluasa. Termasuk bersosialisasi dan menyalurkan bakat serta hobinya dan hal tersebut membutuhkan peran serta kehadiran negara secara lebih besar lagi.

“Harus ada evaluasi sejauh mana keberhasilan kita mengantisipasi ekstremisme. Yang pasti, penanganan ekstremisme harus menjadi kebutuhan bersama atau semesta partisipatif. Bukan hanya BNPT atau Densus, tapi bersama sama, termasuk menggabungkan partisipasi yang berbeda beda,” tandas Abdul Mu’ti.

Sebagai informasi, maraknya aksi radikalisme dan bom bunuh diri, itu terlihat jelas dalam kurun 2000-2020. Selama itu tercatat 553 serangan teror di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia artinya, rata-rata setiap bulan terjadi dua kali aksi teror dalam dua puluh tahun terakhir.

Dari jumlah tersebut beberapa pelakunya tergolong masih muda seperti Nana Ikhwan Maulana (20 tahun) pelaku bom bunuh diri di hotel Ritz-Carlton tahun 2009, Dani Dwi Permana (18 tahun) pelaku bom bunuh diri di hotel JW Marriott pada 2009, Sultan Ajiansyah (22 tahun) penyerang pos lalu lintas Cikokol-Tangerang, pada 2016.

Ada juga Rabbial Muslim Nasution (24 tahun) pelaku bom bunuh diri di Polrestabes Medan pada 2019, Lukman (26 tahun) pelaku bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar dan Zakiah Aini (26 tahun) pelaku teror di Mabes Polri pada 2021.

Adapun dalam dialog tersebut, tema yang dibahas adalah Menangkal Penyusupan Paham Ekstrimisme, Di Kalangan Anak Muda. Selain Basarah, dialog tersebut juga menghadirkan narasumber Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti.

Pos terkait