Khatmil Qur'an Di Ponpes Salafiyah Pasuruan

Di Ponpes Salafiyah Pasuruan, Mahfud MD Paparkan Konsep Moderasi Beragama

  • Whatsapp
Mahfud MD
Menko Polhukam Mahfud MD saat mengisi tausiyah di acara Khatmil Qur'an di Ponpes Salafiyah Pasuruan yang kini diasuh oleh KH Idris Hamid. [foto : Istimewa]

Pasuruan, Inisiatifnews.com – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Prof Mohammad Mahfud MD menghadiri acara khatmil Quran di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah, Pasuruan, Jawa Timur, Minggu (2/5) malam.

Acara khataman Alquran di Ponpes tersebut sebetulnya merupakan kegiatan rutin yang diadakan setahun sekali saat malam ke-21 Ramadan. Kebetulan, Mahfud sedang melakukan kunjungan kerja (Kunker) ke Jawa Timur sehingga ia menyempatakn diri menghadiri acara mulai keagamaan tersebut.

Bacaan Lainnya

Acara berlangsung dengan protokol kesehatan (prokes) ketat. Masing-masing jamaah pun tetap menjaga jarak aman minimal satu meter lebih dan memakai masker. Padahal biasanya, sebelum pandemi, acara tumpah ruah dihadiri santri dan masyarakat umum.

“Biasanya yang hadir ribuan orang. Tetapi karena sedang pandemi jamaah yang hadir dibatasi jumlahnya. Acara tersebut tetap mengenakan masker dan menjaga jarak. Acaranya syahdu yang menambah kekhusyuan dan kenikmatan sepuluh malam terakhir Ramadan,” tulis Mahfud MD dalam akun Instagram pribadinya @mohmahfudmd, Senin (3/5).

mahfud md
Menko Polhukam Mahfud MD berjumpa langsung dengan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan KH Idris Hamid. [foto : Istimewa]

Dalam sambutan acara khataman Alquran di Pondok Pesantren yang didirikan oleh almaghfurlah KH Abdul Hamid tersebut, Mahfud menjelaskan tentang konsep moderasi beragama.

“Apa itu moderasi beragama?. Moderasi beragama itu beragama secara sungguh-sungguh, tapi toleran terhadap perbedaan. Dan itu di dalam negara kita, negara Pancasila, dibenarkan,” kata Mahfud MD dalam sambutannya di depan santri, tokoh masyarakat, dan ulama Pasuruan.

Menko Mahfud menyebut, pertemuan kali ini sebagai contoh. Dalam forum ini, semua kalangan berkumpul untuk rangka silaturahmi, yang identik dengan kegiatan agama Islam. Namun pertemuan juga dihadiri oleh orang dari berbagai latar belakang agama.

“Itulah sebenarnya yang diidamkan oleh para pendiri bangsa kita. Bahwa kita itu punya negara yang inklusif. Inklusif itu berbaur dalam kebersatuan, dalam kebersamaan; kebersatuan dalam perbedaan, kebersamaan dalam perbedaan,” tutur mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini.

ponpes salafiyah pasuruan
Dialog hangat dan penuh keakraban antara rombongan Menko Polhukam Mahfud MD bersama Walikota Pasuruan Gus Ipul dengan keluarga ndalem Pondok Pesantren Salafiyah Pasuruan.

Mahfud MD lantas menyinggung perjalanan pendirian Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam hal dasar negara. Menurutnya, ketika Indonesia mau didirikan, ada orang yang ingin mendirikan Indonesia sebagai negara sekuler. Ada pula yang ingin mendirikan negara Islam.

“Siapa yang ingin mendirikan negara sekuler kebangsaan? Bung karno, Bung Hatta, Yamin, dan lain-lain. Yang ingin mendirikan negara Islam itu Wahid Hasyim, Agus Salim, Kahar Moezakir, Bagoes Hadikoesoemo. Masing-masing punya alasan,” kata dia.

Mahfud melanjutkan, kelompok pejuang negara Islam berpendapat, bentuk negara Islam harus terlaksana karena landasan demokrasi. Demokrasi itu yang terbanyak dia yang menentukan, sehingga Indonesia harus jadi negara Islam.

IMG 20210503 WA0010
Menko Polhukam Mahfud MD bersama dengan KH Idris Hamid saat megikuti Khatmil Qur’an di Ponpes Salafiyah Pasuruan.

Namun, kata Menko Polhukam, kalangan negara sekuler kebangsaan seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Yamin juga orang Islam. Namun mereka tidak mau negara Islam. Mereka ingin negara di mana nilai-nilai Islam itu bisa dilaksanakan dengan baik tapi tidak menjadi dasar negara. Lantas terjadi perdebatan, dan diambil jalan tengah yakni konsep NKRI berdasarkan Pancasila.

Negara Pancasila itu negara yang di dalam penyelenggaraannya umat beragama itu dilindungi sepenuh-penuhnya untuk melaksanakan ajaran beragama tapi tidak boleh konflik karena perbedaan agama.

“Kalau anda terlalu ke kanan itu radikal, kalau terlalu ke kiri itu liberal. Islam moderat, moderasi Islam, itu adalah Islam yang ada di tengah. Kita yang beragama apa saja, Islam seperti saya, Kristen seperti Pak Reynhard Direktur Jenderal Pemasyarakatan, laksanakan ajaran Kristen dengan baik, saya laksanakan ajaran Islam saya dengan baik. Lalu dalam hal yang diperlukan bersama, itu kita bersatu,” lanjut Mahfud.

Hal yang diperlukan bersama, tutur Menko Polhukam, adalah urusan yang tidak terbatas pada latar agama manapun. Misalkan dalam urusan membangun keadilan sosial, menegakkan hukum, dan melawan korupsi.

“Membangun keadilan sosial, kan tidak perlu agama apapun. Hindu, Islam, Kristen, Budha, itu bisa bersatu. Menegakkan hukum, itu bersatu, meski agamanya beda. Melawan kedzaliman, menghantam korupsi, agama apa saja, juga harus bersatu. Itulah sebenarnya inti dalam kehidupan kita, berpancasila itu,” imbau Menhan era Presiden KH Abdurrahman Wahid ini.

mahfud md
Mahfud MD bersama KH Idris Hamid saat menghadiri acara Khatmil Qur’an Di Ponpes Salafiyah Pasuruan. Beliau didampingi oleh sekretaris pribadinya yakni Imam Marsudi dan Walikota Pasuruan Saifullah Yusuf. [foto : Istimewa]

Tuan rumah yakni KH Idris Hamid menuturkan, bahwa khatmil qur’an di pondok pesantren yang kini ia asuh tersebut memang rutin diadakan pada bulan Ramadan dan sudah berlangsung puluhan tahun. Sejak ponpes ini diasuh oleh ayahnya, almarhum KH Abdul Hamid atau Kiai Hamid Pasuruan.

Sebelum ke Ponpes Salafiyah, Mahfud menyambangi Lapas II B Pasuruan jelang berbuka puasa. Setelahnya, ditemani Gus Ipul, Wali Kota Pasuruan, Mahfud sowan ke makam almaghfurlah Kiai Abdul Hamid bin Abdullah Umar. (INI)

Pos terkait