Karena Novel Baswedan Gagal TWK, Politisasinya Kuat Banget

  • Whatsapp
Novel Baswedan
Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan.

Inisiatifnews.com – Demografer muda, Dedek “Uki” Prayudi menilai bahwa tes wawasan kebangsaan (KWK) dalam seleksi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) adalah hal yang sangat wajar.

“TWK ini hal biasa,” kata Uki, Rabu (5/5/2021).

Bacaan Lainnya

Namun ia sangat heran, mengapa ketika ada calon ASN KPK gagal dalam ujian TWK tersebut dan salah satunya adalah penyidik senior Novel Baswedan, muncul politisasi yang sangat kuat di luar lingkaran KPK. Bahkan ada tudingan jika KPK saat ini tengah dilemahkan oleh negara.

“Karena terkait NB (Novel Baswedan -red) aja politisasinya kuat,” ujarnya.

Ia juga menyinggung Bambang Widjojanto. Di mana mantan komisioner KPK tersebut membela habis-habisan Novel Baswedan.

Bagi Uki, yang diperjuangkan Bambang bukanlah KPK untuk perbaikan internalnya, melainkan hanya memperjuangkan jabatan Novel di lembaga antirasuah itu.

Bahkan bagi mantan juru bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) itu, pembelaan Bambang ke Novel menunjukkan sisi gelap lembaga yang pemberantasan korupsi itu.

“Pak Bambang itu gak perjuangkan KPK, beliau perjuangkan Novel Baswedan. Ketidakterimaan, ketakutan dan kecurigaannya semua tentang Novel Baswedan. Sedangkan saya pikir justru di situ episentrum penyakit KPK,” tandasnya.

Sebelumnya, praktisi hukum yang kini menjadi KPK-nya Balaikota DKI Jakarta, Bambang Widjojanto menilai, bahwa TWK di internal KPK adalah mekanisme untuk menyingkirkan para pegawai lembaga antirasuah yang dianggapnya terbaik.

“Kau diduga singkirkan para insan terbaik KPK yang tengah menangani kasus mega korupsi di bumi pertiwi, seperti Bansos,” kata Bambang. []

Pos terkait