9 Anggotanya Ditangkap, Nining Cs Duduk Bareng Baintelkam Polri

  • Whatsapp
GEBRAK
Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) melakukan audiensi dengan Wakabaintelkam Mabes Polri. [foto : KASBI]

Inisiatifnews.com – Sejumlah tokoh dari Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) telah mendatangi Mabes Polri. Dalam kunjungannya itu, mereka membahas tentang kasus penangkapan 9 (sembilan) orang anggotanya dalam aksi unjuk rasa di Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS) di depan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek).

Dalam pertemuan yang dihadiri oleh Wakil Kepala Badan Intelijen dan Kemanana (Wakabaintelkam) Mabes Polri, Irjen Pol Suntana, koordinator GEBRAK, Nining Elitos mengaku apa yang dilakukan pihaknya dalam aksi unjuk rasa tidak ada yang salah. Bahkan menjadi bagian dari pemenuhan harapan Presiden Jokowi agar ada kritikan yang membangun bagi keberlangsungan berbangsa dan bernegara.

Bacaan Lainnya

“Joko Widodo selaku presiden RI yang pernah menyampaikan bahwa pemerintah butuh kritikan, saran dan butuh didemo. Tapi kenyataan bicara lain,” kata Nining, Jumat (11/6/2021).

Namun ketika ada massa aksi yang melakukan unjuk rasa dan ditangkap oleh Kepolisian, ia merasa hal itu aneh dan kontradiktif dengan semangat membangun dengan kritikan yang sempat disuarakan Presiden Joko Widodo saat kampanye Pilpres dahulu. Dan penangkapan-penangkapan terhadap massa demonstran itu disebut Nining sebagai bentuk kriminalisasi aktivis.

“Ketika rakyat melakukan unjuk rasa, banyak sekali aktifis yang ditangkap dengan berbagai macam alasan. Bukan hanya di Jakarta, kriminalisasi aktifis ini terjadi di berbagai daerah di Indonesia seperti Banten, Semarang, Kalimantan dan daerah lain,” ujarnya.

Kemudian, wanita yang kini menjabat sebagai Ketua Umum Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) tersebut juga tak sependapat jika persoalan pandemi COVID-19 dijadikan dalih untuk melakukan penangkapan terhadap massa aksi unjuk.

Karena menurutnya, setiap aksi unjuk rasa yang dilakukan pihaknya selalu mematuhi aturan yang ada, salah satunya adalah pemberlakuan protokol kesehatan.

“Pelanggaran protokol kesehatan dijadikan alasan penangkapan. Padahal di lapangan, tentunya perangkat aksi sudah memastikan prokes dijalankan,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, departemen organisasi Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Syamsudin menambahkan bahwa aksi unjuk rasa yang dilakukan pihaknya sama sekali tidak bertujuan untuk mengacaukan Indonesia. Justru ia menilai apa yang dilakukan pihaknya dalam menggelar aksi unjuk rasa adalah bagian dari upaya mengontrol kebijakan pemerintahan agar lebih baik lagi.

“Sebenarnya kita semua memiliki tujuan yang sama yakni membuat negara ini menjadi lebih baik, tapi kita selalu dibenturkan,” kata Syamsudin.

Ada beberapa kasus penangkapan dan kriminalisasi aktivis terjadi dewasa ini. Bukan hanya di Jakarta, bahkan di beberapa daerah pun disebutnya juga terjadi.

“Bahkan kemarin ada salah satu anggotanya di serikat tani di Minahasa ditangkap karena dilaporkan pihak perusahaan,” terangnya.

Oleh karena itu, Syamsudin pun berharap kepada Polri agar lebih bijak dalam melaksanakan restorative justice dan penegakan hukum.

“Kami meminta agar pihak kepolisian lebih cermat dalam menindaklanjuti laporan dari perusahaan-perusahaan terhadap rakyat kecil. Apa lagi terhadap kaum tani di pedesaan,” pungkasnya.

9 demonstran GEBRAK tak ditahan

Sebelumnya, ada 9 (sembilan) orang massa dari GEBRAK yang melakukan aksi unjuk rasa di depan Kemendikbud Ristek telah ditangkap dan sempat diamankan di Mapolda Metro Jaya. Dari 9 orang yang diproses, mereka adalah mahasiswa dan anggota KASBI.

Hal ini seperti yang telah disampaikan oleh Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus. Ia mengatakan bahwa kesembilan orang tersebut dijerat dengan pasal di dalam Undang-Undang Nomor 4 tentang Wabah Penyakit.

“Kami tetepkan tersangka kesembilan orang. Tidak ditahan. Ancamannya 4 bulan, Pasal 216, 218. Kemudian di Undang-Undang wabah penyakit Nomor 4, tidak dilakukan penahanan, tapi prosesnya berjalan,” ujar Yusri, Selasa (4/5).

Yusri juga mengatakan, bahwa kesembilan orang tersebut sebelumnya juga pernah diamankan saat demo Hari Buruh atau May Day, 1 Mei 2021.

“Hari buruh hadir mereka kami amankan, tanggal 3 Mei mereka hadir juga bersama. Setelah kita periksa HP-nya ada mengajak FSBN Kasbi untuk kumpul. Makanya ini tidak semua mahasiswa,” terangnya. []

Pos terkait