PB SEMMI Dorong AM Sangaji Jadi Pahlawan Nasional

  • Whatsapp
bintang wahyu saputra
Bintang Wahyu Saputra.

Inisiatifnews.com – Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI) mendukung tokoh Maluku, Abdoel Moethalib (AM) Sangaji menjadi pahlawan nasional.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PB SEMMI, Bintang Wahyu Saputra, kepada wartawan di Jakarta, Senin (9/8/2021).

Bacaan Lainnya

Menurut Bintang, AM Sangaji sudah memenuhi kriteria menjadi pahlawan nasional. Karena sepak terjangnya dalam urusan kebangsaan dahulu, serta kedekatannya dengan para guru dan pendiri bangsa seperti Raden Hadji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto.

“AM Sangaji merupakan rekan HOS Tjokroaminoto sekaligus salah seorang mentor Soekarno,” kata Bintang.

Selain itu, Bintang juga menyebut bahwa AM Sangaji juga merupakan tokoh organisasi yang menjadi tempat Soekarno berguru, yakni Syarikat Islam, di mana organisasi tersebut juga menjadi bagian dari satu rumpun organisasi yang kini ia pimpin itu.

“Jadi, sebagai salah seorang tokoh Syarikat Islam dan memiliki kontribusi besar terhadap perjuangan bangsa dan negara, sudah seharusnya pemerintah menetapkan AM Sangaji menjadi pahlawan nasional,” tutupnya.

Perlu diketahui, bahwa AM Sangadji lahir di Pulau Haruku tepatnya di Negeri Rohomoni yang masyarakatnya dikenal menjunjung tinggi adat dan agama. Nama Sangadji sendiri merupakan label dari keluarga Sangadji Hatuhaha. Sangadji sendiri merupakan gelar untuk wakil Kesultanan Ternate pada masanya di Pulau Haruku (Nusa Hatuhaha).

Bersama Oemar Said Tjokroaminoto dan beberapa pejuang sezamannya seperti H. Agoes Salim, AM Sangadji turut andil dalam mendirikan organisasi Sarekat Islam pada tahun 1912, organisasi ini sebelumnya dikenal sebagai Serikat Dagang Islam yang didirikan pada tahun 1905.

Ia juga pernah berpartisipasi sebagai peserta dalam Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928 di Jakarta. Dikenal piawai dalam berpidato AM Sangadji pun jelas memiliki mobilitas tidak hanya di Maluku tempat asalnya, tapi juga pernah berkiprah di Borneo, terlebih lagi di Jawa.

Pada tahun 1920-an, di Samarinda Kalimantan Timur, Abdoel Moethalib Sangadji mendirikan Balai Pengadjaran dan Pendidikan Rakjat (BPPR) serta mengelola Neutrale School untuk menampung anak-anak sekolah dari kalangan bumiputera.

Kemudian, setelah mendengar berita Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, AM Sangadji melakukan perjalanan dari Samarinda ke Banjarmasin untuk bertemu dengan pemimpin Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI), menyebarkan berita kemerdekaan bangsa Indonesia di daerah yang dilalui, dan mengibarkan bendera Sang Saka Merah Putih.

Oleh para pejuang kemerdekaan sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Abdoel Moethalib Sangadji disebut sebagai pemimpin tua dan dijuluki Jago Tua, seperti diwartakan dalam beberapa surat kabar di ibu kota Republik, Hindeburg Kalimantan, serta Merdeka Solo. Pihak Kolonial Belanda dan Jepang pun tahu tentang kedudukan dia sebagai pemimpin tua itu.

Untuk itu, pada bulan April 1946 polisi Belanda berhasil menangkap Abdoel Moethalib Sangadji dan memenjarakannya di penjara Banjarmasin. Selepas keluar penjara Banjarmasin, ia menyeberang ke pulau Jawa. Ia kemudian memimpin Laskar Hisbullah yang berpusat di Yogyakarta dan pernah menugaskan R. Soedirman untuk membentuk Laskar untuk daerah Martapura dan Pelaihari, serta Tamtomo sebagai penghubung Markas Besar Hisbullah Yogya untuk Kalimantan. Akan tetapi, ia kemudian tewas ditembak militer ketika Agresi Militer Belanda I di Yogyakarta tahun 1947.

Pos terkait