Dedi Kurnia Syah Sarankan PKS Contoh Kerja PAN Galang Dukungan Rakyat

  • Whatsapp
dpp pks
Kantor DPP PKS di Jalan T.B. Simatupang No.82, Jakarta Selatan.

Inisiatifnews.com – Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah Putra menyarankan kepada Partai Keadilan Sejahtera (PKS) agar mengubah gaya politik jika ingin kuat di dalam kontestasi politik 2024 mendatang.

Apalagi di dalam survei yang dilakukannya, partai berlambang padi dan dua buah bulan sabit itu cenderung turun, dan kali ini berada di urutan nomor 8 sebagai kelompok partai menengah.

Bacaan Lainnya

“Menurunnya PKS sampai posisi 8. Ini pertama kali IPO mendapatkan catatan angkanya, karena biasnya (PKS) selalu konsisten berada di iring-iringan dengan PKB,” kata Dedi, Sabtu (14/8/2021).

Walaupun sama-sama berada di luar jalur kekuasaan saat ini, PAN dinilai cenderung lebih soft dalam melakukan gerakan politiknya dibanding PKS.

Kesalahan yang mungkin membuat suara partai berbasis Islam tersebut menurun karena gaya politik yang kurang tepat. Memang sejauh ini PKS sering kali mengeluarkan statemen-statemen politik untuk memberikan kritikan kepada pemerintah. Akan tetapi sayangnya, cara tersebut saat ini kurang efektif dilakukan.

“PKS lebih banyak menyampaikan argumentasi politik, melakukan kunjungan, pemberitaan semakin banyak, tapi faktanya justru PKS menurun,” ujarnya.

Ia menyebut, bahwa gerakan yang nyata langsung bisa dirasakan oleh rakyat jauh lebih bisa ditangkap dengan baik oleh publik terkait dengan sensifitas partai kepada rakyat. Misalnya dalam menjalankan program vaksinasi dan kegiatan lainnya yang lebih faktual dan akomodatif.

Pengajar Ilmu Komunikasi di Fakultas Komunikasi dan Bisnis Universitas Telkom tersebut menyebut bahwa Partai Amanat Nasional (PAN) bisa dijadikan contoh bagaimana gaya politik dijalankan saat ini.

Dedi menilai, bahwa PAN di bawah kepempinan Zulkifli Hasan lebih banyak bergerak di grassroot untuk menggalang dukungan. Beberapa program yang langsung bisa menyentuh masyarakat bawah dijalankan, sehingga dukungan publik lebih mudah dijaring dibanding memperanyak koar-koar promosi politik seperti PKS.

“Artinya, gerakan-gerakan parpol yang bergerak di bawah membantu program-program pemerintah entah itu dalam (kegiatan) vaksinasi atau mungkin charity politik, itu lebih berdampak dibandingkan mereka yang melakukan promosi-promosi,” tuturnya.

Bukan menghilankan promosi, Dedi lebih menyarankan poris bersentuhan ke rakyat lebih didominasi lagi dilakukan oleh PKS.

“Saya kira mestinya dikurang-kurangi promosi politik itu termasuk melakukan program-program charity yang berjangka pendek,” tandasnya.

Ditambah lagi, kekuatan politik dengan menggunakan gaya promosi politik tidak akan bertahan lama. Apalagi kontestasi politik elektoral masih 3 (tiga) tahun lagi.

“Karena promosi yang dilakukan hari ini belum tentu bertahan sampai pada proses pemilu 2024. Tentu untuk mempertahankan konsistensi logistik tentu akan sangat besar lagi,” papar Dedi.

Pos terkait