Kiai Cholil Nafis Sebut 3 Syarat Kritik yang Baik

  • Whatsapp
critics
Ilustrasi.

Inisiatifnews.com – Ketua bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Muhammad Cholil Nafis memberikan pendapatnya, bahwa sebuah konten kritikan akan memberikan maka dan dampak yang baik bagi pihak yang dikritik.

Namun, untuk mencapai itu, ternyata ada 3 (tiga) syarat khusus sehingga kritikan bisa dimaknai secara baik.

“Selama kritik memenuhi 3 syarat maka itu akan jadi cermin untuk memperbaiki diri,” kata kiai Cholil Nafis, Rabu (18/8/2021).

Syarat pertama sebuah kritikan adalah ketika disampaikan dengan niat yang ikhlas untuk memperbaiki pihak yang dikritik. Bukan justru malah bertujuan untuk memuaskan ego sendiri, apalagi sampai malah berujung merendahkan orang lain.

“Ikhlas mengkirik demi kebaikan bukan untuk merendahkan yang dikritik atau ego diri,” tuturnya.

Kemudian, kritikan akan memberikan nilai manfaat yang baik ketika pengkritik memang memiliki dasar dan ilmu untuk mengutarakan kritikannya. Apalagi jika ditambah dengan ide atau solusi untuk memperbaikinya.

“Ilmu tentang hal yang dikritik dan memberi solusinya,” jelasnya.

Terakhir, kritikan akan berpotensi memiliki dampak baik dan positif ketika kritikan tersebut dilakukan dengan menjunjung nilai etika dan harkat dan martabat orang lain.

“Cara mengkritiknya dengan cara yang baik dan bermartabat,” pungkasnya.

Penilaian ini diutarakan oleh Kiai Cholil Nafis untuk merespon kicauan Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Prof Mohammad Mahfud MD.

Di mana Menko Mahfud menyampaikan di akun Twitternya, bahwa kritik adalah sebuah unsur yang baik untuk bahan muhasabah diri. Akan tetapi memang tidak semua kritikan bisa diserap mentah-mentah, perlu ada daya saring yang baik apalagi jika kritikan tersebut sama sekali tidak dibarengi oleh referensi pengetahuan yang baik.

“Saya setuju kritik itu vitamin. Orang harus diberi kebebasan untuk mengritik. Meski begitu kritik itu bukan harus ditelan mentah-mentah. Ia harus didengar tapi bisa dijawab, apalagi kalau referensi isu dan dalil dasarnya salah,” kata Mahfud.