Kecewa ke BPK, BEM Nusantara Bentangkan Spanduk 50 Meter

  • Whatsapp
Spanduk di BPK
Spaduk 50 meter milik BEM Nusantara dibentangkan di depan gedung BPK RI.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Koordinator Pusat Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEM Nusantara), Eko Pratama mengaku sangat kecewa dengan kinerja Badan Pengawas Keuangan (BPK).

Hal ini disampaikan Eko lantaran BPK sampai saat ini belum membuka data apapun terkait dengan yang mereka harapkan, yakni dugaan adanya aliran dana asing untuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) Indonesian Corruption Watch (ICW).

Bacaan Lainnya

“BPK RI tidak kooperatif dan terkesan main mata dengan LSM ICW, BPK RI sendiri tidak mau terbuka dengan hasil audit dana asing yang mengalir ke ICW melalui KPK,” kata Eko kepada wartawan, Selasa (31/8/2021).

Oleh karena itu, pihaknya pun terpaksa mengekspresikan rasa kecewanya itu dengan membentangkan spanduk tuntutan sepanjang 50 meter. Spanduk tersebut mereka pasang di depan gedung lembaga pemeriksa keuangan milik Negara itu.

Spanduk berwarna putih tersebut memuat tulisan : BPK RI Kebal UU Keterbukaan Informasi, BPK RI Lindungi ICW, ICW LSM Plat Merah, Kami Butuh Kerja nyata BPK RI, jangan ada dusta di hadapan NKRI dan Pancasila, Skandal dana Hibah asing, ICW LSM By Request, Usut Tuntas, tegakkan Permendagri No. 38 tahun 2008, BPK RI Jangan Tutup Mata, #BEM NUSANTARA MENANTANG.

Diterangkan oleh Eko, bahwa sebelumnya pihak BEM Nusantara melalui Koordinator isu sosial politik sudah melayangkan surat permohonan data audit transaksi perbankan yang diduga adanya aliran dana asing ke ICW.

Permohonan data audit ini dikatakan Eko merupakan buntut dari kajian dan investigasi pihaknya tentang dugaan adanya proyek asing yang mengintervensi kinerja ICW di Indonesia, sehingga membuat lembaga yang fokus pada perkara korupsi di Indonesia tersebut diduga tidak independen lagi.

“Bahwa tabir dana hibah asing ini perlu dibuka, sehingga kepentingan asing tidak mengalir di tubuh ICW, karena kami menganggap ICW adalah LSM by request,” paparnya.

Sejauh ini kata Eko, ICW tidak pernah kooperatif dan terbuka dengan Mahasiswa khususnya BEM Nusantara terkait dengan potensi adanya permainan proyek pesanan yang didapatinya itu.

“Sebut saja saat ICW menemukan dugaan korupsi di sektor migas, salah satu temuan ICW pada tahun 2011 korupsi sebesar Rp18,144 Triliun, tapi tidak diekspos ke publik, setelah kami telusuri ternyata ICW dapat suntikan dana hibah dari organisasi hibah internasional yaitu Revenue Watch Institute (RWI). Ini apa namanya kalau bukan LSM pesanan,” sindir Eko.

Eko tak ingin, ICW memanfaatkan simpatik publik untuk melancarkan berbagai kepentingannya. Untuk itu, kejujuran dianggap Eko penting agar tidak ada tendensi buruk di balik program anti-korupsinya mereka.

“Sikap dan tindakan yang kami buat hari ini adalah bentuk keseriusan kami dalam pengawalan perkara skandal dana hibah asing ICW. Kami tidak ingin LSM ICW ini menggunakan simpati publik dari narasi anti korupsi demi kepentingan pendonornya saja, ini jelas salah,” papar Eko.

Terakhir, ia menyatakan akan melanjutkan kasus dugaan aliran dan asing ke ICW ini sampai ke ranah hukum.

“Kami akan mengambil jalur hukum dan melakukan aksi masa jika PPKM sudah selesai. Kami pastikan kami akan bergerak tuntas dan tidak main-main,” pungkasnya.

Pos terkait