Ini 3 Kemungkinan Usai Ali Kalora Tewas

  • Whatsapp
Stanislaus Riyanta
Stanislaus Riyanta

Jakarta, Inisiatifnews.com – Pengamat Intelijen dan terorisme, Stanislaus Riyanta menilai, tewasnya Ali Ahmad alias Ali Kalora dan rekamnya yakni Jala Ramadhan alias Ikrima membuat kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) kacau balau.

Pasalnya, Ali Kalora diketahui adalah pemimpin organisasi teroris yang berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) itu, sehingga mentalitas para jamaahnya rentan terganggu.

Bacaan Lainnya

“Dengan tewasnya Ali Kalora dan Ikrima maka kekuatan kelompok kombatan MIT menjadi berkurang drastis,” kata Stanislaus kepada wartawan, Senin (20/9).

Terlebih lagi, dalam operasi penangkapan Ali Kalora dan Ikrima tersebut, aparat mengamankan senjata yang menjadi salah satu pendukung alat militer kelompok MIT itu.

“Satu senjata laras panjang dengan jenis menyerupai M-16 berhasil diamankan aparat keamanan,” jelasnya.

Namun dari kacamata intelijen, Stanislaus menyampaikan, bahwa tewasnya Ali Kalora dalam operasi yang digelar oleh Satgas Madago Raya itu bisa dilihat 3 (tiga) kemungkinan yang ada.

1. Motif Balas Dendam

Ada kemungkinan upaya dari MIT untuk melancarkan serangan balas dendam karena pemimpin mereka sudah tewas di tangan aparat.

“Pertama adalah melakukan aksi akhir karena sudah merasa terdesak motif balas dendam,” terang Stanislaus.

Aksi akhir ini kata Stanislaus, bisa berupa aksi teror atau serangan lain, walaupun kecil kemungkinan menggunakan bom karena sulitnya memperoleh bahan baku.

“Selain motif balas dendam, sisa anggota MIT akan melakukan aksi balasan jika merasa malu untuk menyerah dan perhitungan tidak mampu bertahan lama jika terus di hutan,” imbuhnya.

Apabila kemungkinan ini yang bakal dipilih oleh kelompok militan MIT, maka seluruh jajaran aparat harus memastikan ruang favorit kelompok teroris ini terjaga dengan baik demi meminimalisir potensi serangan balik. Seperti halnya bank, kantor kepolisian dan termasuk tempat ibadah.

Di sisi lain, ia menduga fenomena kasus Santoso pun kemungkinan masih terjadi, di mana banyak masyarakat yang justru memberikan empati kepada teroris bahkan di saat kematiannya.

“Yang harus diwaspadai adalah munculnya pembelaan dan simpati dari kelompok tertentu atas tewasnya Ali Kalora dan Ikrima. Sebelumnya pada 2020 ketika dua anggota MIT tewas ditembak aparat karena melakukan perampasan senjata pada anggota Polri yang berjaga di Bank, pemakamannya mendapat simpati dari sejumlah masyarakat bahkan dielu-elukan seperti layaknya pahlawan. Hal yang sama juga terjadi pada saat pemakaman pemimpin MIT Santoso pada 2016,” tandasnya.

2. Tetap Bersembunyi

Kemungkinan kedua adalah kelompok MIT ini akan tetap bertahan di tengah persembunyiannya di dalam hutan.

Aktivitas kelompok ini bisa saja normal seperti biasa, kemungkinan akan sesekali keluar dari hutan untuk mencari bahan pokok demi mereka bisa bertahan hidup.

“Kelompok MIT sudah terbukti mampu bertahan bertahun-tahun hidup di hutan, walaupun mereka juga tetap sesekali turun ke perkampungan untuk memenuhi logistik dan kebutuhan lain,” tutur Stanis.

Namun jika ini yang dilakukan, maka diperkirakan sisa kelompok MIT tersebut tidak akan bertahan lama, karena kejaran aparat keamanan yang semakin solid dan berpengalaman di medan Poso.

3. Menyerah

Kemungkinan terakhir adalah mereka menyerahkan diri dengan damai kepada aparat keamanan untuk ditindaklanjuti. Karena secara umum, mereka saat ini kehilangan nahkoda utama, kemudian kekurangan persenjataan dan mental pun pasti terganggu.

“Kemungkinan ketiga adalah menyerah kalah. Dengan tertembaknya Ali Kalora dan Ikrima serta berkurangnya senjata yang dimiliki, maka semangat dari sisa kelompok MIT akan jatuh,” paparnya.

“Selain itu, tanpa Ali Kalora kelompok tersebut menjadi lemah sehingga akan mudah terkejar dan ditangkap oleh aparat keamanan,” sambungnya

Oleh karena itu, demi memperkecil risiko maka kemungkinan menyerah adalah situasi terbaik. Dan jika kemungkinan ketiga ini dilirik, maka ia memberikan saran kepada aparat untuk membuka kesempatan kepada para DPO kelompok MIT ini untuk menyerahkan diri dengan baik.

“Untuk mewujudkan ini maka aparat keamanan juga perlu melakukan dialog kepada para tokoh yang bisa berhubungan dengan sisa kelompok MIT untuk menghimbau agar mereka menyerah,” ucapnya.

Pos terkait