Mahfud MD Kutuk Aksi Kekerasan di Indonesia

  • Whatsapp
mahfud md
Menko Polhukam, Mahfud MD.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Menko Polhukam Prof Mohammad Mahfud MD menyatakan bahwa pemerintah mengutuk keras aksi kekerasan dan tindakan kriminal yang dewasa ini terjadi dan menghebohkan masyarakat Indonesia.

Beberapa kasus antara lain tentang aksi penyerangan ustadz di dalam Masjid Baitusysyakur, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Kemudian adanya penembekan terhadap seseorang hingga tewas usai menjalankan shalat maghrib di kawasan Tangerang Kota, dan yang terakhir adalah pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar oleh seorang pemuda 22 tahun.

Bacaan Lainnya

“Pemerintah menyatakan sangat menyesalkan kejadian tersebut dan mengutuk para pelakunya,” kata Mahfud MD dalam video yang dirilis oleh Kemenko Polhukam RI, Sabtu (25/9).

Ia pun memerintahkan kepada aparat penegak hukum untuk menuntaskan kasus tersebut secara terang benderang.

“Saya sudah memerintahkan dan menegaskan kembali sekarang ini kepada aparat keamanan untuk mengusut kejadian itu,” ujarnya.

Mahfud juga mengatakan bahwa para pelaku sudah ditangkap oleh Polri, termasuk pelaku pembakaran mimbar Masjid Raya Makassar dan saat ini sedang diproses untuk disidik. Namun, ia meminta agar prosesnya dilakukan secara hati-hati dan terbuka agar semua masyarakat tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Maka pemeriksaan ini harus tuntas dan terbuka, jangan terburu-buru memutuskan bahwa pelakunya orang gila seperti yang sudah-sudah. Dulu ketika (alm) Syekh Ali Jaber dianiaya oleh seseorang lalu ada yang berteriak keluarganya bahwa pelakunya orang gila,” terangnya.

Bagi Mahfud, pemerintah sangat tidak sepakat dengan kondisi tersebut, di mana pelaku penyerangan selalu dikatakan sebagai orang dengan gangguan jiwa. Menurutnya, persoalan apakah pelaku memiliki gangguan jiwa atau tidak, sebaiknya majelis hakim yang menangani perkara itu yang memutuskannya.

“Pemerintah tidak sependapat setiap pelaku harus dianggap orang gila, biarlah orang-orang yang sudah ditangkap ini diproses dibawa ke pengadilan, kalau ada keragungan bahwa yang bersangkutan sakit jiwa atau tidak, itu biar hakim yang memutuskan,” tegasnya.

Selain itu, Mahfud MD juga sudah memerintahkan kepada seluruh aparat keamanan dari seluruh tingkatan untuk meningkatkan kewaspadaannya di wilayah hukum masing-masing.

“Saya sudah perintahkan ke aparata keamanan di pusat dan daerah untuk meningkatkan pengawasan dan kesiapsiagaan untuk menjaga keamanan dan membangun harmoni di tengah-tengah masyarakat,” tuturnya.

Selain itu, obyek-obyek vital dan fasilitas publik juga perlu ditingkatkan kewaspadaannya. Hal ini untuk mengantisipasi adanya serangan-serangan yang tidak perlu terjadi, khususnya di momentum bulan September ini.

“Saya minta juga agar rumah-rumah ibadah dijaga, diamati dengan sungguh-sungguh, tokoh-tokoh agama, fasilitas keagamaan, fasilitas publik lainnya, (khususnya) di masa sekarang ini masa yang biasanya kalau menjelang bulan September selalu ramai dengan isu-isu seperti ini, supaya dijaga dengan baik,” tandasnya.

Terakhir, Menko Mahfud juga menyatakan bahwa pemerintah khususnya aparat penegak hukum dan aparat keamanan lainnya tidak perlu ragu untuk menindak masyarakat yang melakukan pelanggaran hukum tersebut.

“Pemerintah tidak perlu ragu untuk melakukan tindakan, masyarakat juga tidak perlu segan untuk melaporkan jika mengalami sesuatu perundungan, ancaman atau bahkan mencurigai seseorang atau sekelompok yang akan melakukan tindakan tidak baik atau melanggar hukum untuk melaporkan aparat keamanan setempat,” pungkasnya.

Pos terkait