Ogah Gabung Partai Buruh, KSBSI : Kami Tak Mau Bayar Mahal Kegagalan

  • Whatsapp
Presiden Buruh
Tiga presiden buruh, KSPI Said Iqbal, KSBSI Elly Rosita Silaban dan KSPSI Andi Gani Nena Wea saat foto bersama dengan Presiden Joko Widodo di Istana Negara Jakarta. [foto : Istimewa]

Jakarta, Inisiatifnews.com – Presiden Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban tampaknya menjadi salah satu pihak yang tidak sependapat dengan hadirnya Partai Buruh yang dideklarasikan oleh sahabat-sahabatnya itu, termasuk Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KPSI) dan Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI).

Elly mengungkapkan, bahwa Partai Buruh sebenarnya memiliki prospek yang suram jika dipaksakan untuk dikibarkan di Indonesia. Sebab, dalam banyak sejarah, pendirian Partai Buruh sering berakhir dengan kisah pilu.

Bacaan Lainnya

“Karena kebanyakan berpikir akan sukses dengan jumlah potensi suara pekerja yang masif,” ingat Elly dalam keterangannya beberapa waktu yang lalu.

Diungkapkan Elly, kehebatan Labour Party di Inggris, Australia, Wales, New Zealand, terjadi karena kekhasan kelompok commonwealth countries. Sedangkan situasi tersebut tidak bisa dialami negara lainnya, kecuali Norwegia, Israel, Brasil dengan Partido Trabalhista yang memiliki kaum kiri yang banyak.

“Itulah sebabnya di luar negara-negara ini, umumnya Partai Buruh gagal total,” sebutnya.

Analisa suramnya masa depan Partai Buruh di Indonesia

Elly mengingatkan, mendirikan Partai Buruh tidak cukup dengan modal angka data statistik jumlah buruh yang tahun ini berjumlah 128 juta. Atau hanya karena ketidakpuasan politik, apalagi romantisme aktivis buruh.

Dari pengalaman sejarah Partai Buruh, inilah prasyarat Partai Buruh di negara lain sukses, sementara di negara lainnya banyak gagal.

Pertama, papar Elly, saat Labour Party di Inggris, Australia, Austria, New Zeland didirikan, jumlah buruh yang menjadi anggota serikat buruh (trade union density) sudah 35 persen dari keseluruhan buruh nasional.

Bandingkan dengan Indonesia yang hanya 2,7 juta hanya 2 persen dari total pekerja. Ini menjadi parameter penting karena sebagai basis potensi pemilih.

“Untuk angka threshold partai politik saja jumlah 2,7 juta ini tidak cukup. Padahal belum tentu semua memilih Partai Buruh,” sebutnya.

Kedua, lanjut dia, hanya boleh ada satu serikat konfederasi nasional di negara tersebut, agar saluran politik buruh hanya melalui satu serikat tunggal. Bandingkan dengan Indonesia yang memiliki ratusan serikat buruh. Misalnya di Inggris hanya satu (Trade Union Council), Australia (Australian Trade Union Confederation) dan lainnya. Kecuali di Brasil ada beberapa serikat, karena memang beda sejarah dengan negara persemakmuran.

Ketiga, tambah Elly, sejumlah partai politik biasanya hanya dua kadang ada partai konservatif versus Partai Buruh, atau partai nasionalis versus Partai Buruh. Karena kalau banyak partai, suara buruh akan terpecah ke beberapa partai.

Mengapa serikat buruh di USA, German, Prancis, Austria, Denmark, Belgia, Italia, dan lainnya tidak menggunakan Partai Buruh? Tetapi malah memakai Partai Sosial Demokrat? Karena mereka tidal memiliki salah satu atau tiga alasan di atas.

Mengapa Leach Walesa, Polandia saat revolusi tidak menggunakan Partai Buruh malah dengan serikat Solidarnoz? Mengapa India, Jepang, Korea, Philippina dan lainnya gagal mendirikan PB? Lagi-lagi karena alasan tersebut.

Oleh karena itulah, ia tak ingin terjerembab dengan sejarah pengalaman kelam Partai Buruh sejenis yang pernah diupayakan lahir di luar negeri itu. Namun ia tak melarang Partai Buruh lahir di Indonesia dan mempersilakan teman-temannya itu melanjutkan perjuangannya, walaupun masih ada kemungkinan kecil sejarah kelam yang ia sebutkan itu tak berlaku di Indonesia.

“Saya memilih lebih baik belajar dari pengalaman orang lain, ketimbang membayar mahal kegagalannya. Namun, karena bikin Partai Buruh adalah hak konsitusional, jadi silakan, mana tahu sejarah dunia lain tidak berlaku di Indonesia,” pungkasnya.

Deklarasi Partai Buruh

Sejumlah organisasi serikat pekerja berencana menghidupkan kembali Partai Buruh untuk berpartisipasi pada Pemilu 2024 mendatang. Ada sejumlah serikat buruh yang akan mendirikan Partai Buruh.

partai buruh
Deklarasi Partai Buruh di Kongres VI yang digelar di Hotel Grand Cempaka, Cempaka Putih, Jakarta Pusat pada hari Senin 4 Oktober 2021.

Di antaranya Rumah Buruh Indonesia-FSPMI, Rumah Buruh Indonesia-KSPI, Organisasi Rakyat Indonesia-KSPSI, KPBI, Rumah Buruh Indonesia-FSP KEP, dan Rumah Buruh Indonesia-FSP FARKES.

Selain itu, ada pula pengurus partai buruh yang lama, Serikat Petani Indonesia (SPI), Forum Pendidik dan Tenaga Honorer Swasta Indonesia (FPTHSI) dan Gerakan Perempuan Indonesia (GPI) turut jadi pendiri.

Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Said Iqbal mengatakan, rencana pendirian Partai Buruh ini karena selama ini suara-suara dari kelompok buruh tidak pernah terakomodir di parlemen.

“Suara kaum buruh dan petani nelayan serta konstituen partai buruh harus diberikan kesempatan yang sama melalui jalur parlemen,” ujar Said Iqbal.

Pos terkait