Desak Densus 88 Bubar, Fadli Zon Dianggap Biarkan Terorisme Subur

  • Whatsapp
ratna sarumpaet dan fadli zon
Foto Ratna Sarumpaet bersama politisi DPP Partai Gerindra Fadli Zon.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Desakan pembubaran Densus 88 Antiteror Mabes Polri yang dinarasikan Fadli Zon mendapatkan kecaman keras dari berbagai kalangan, salah satunya adalah Muhammad AS Hikam.

Akademisi dari President University tersebut menilai, siapapun yang mendorong tim elit Polri yang fokus pada penanggulangan terorisme untuk bubar, maka mereka sebenarnya mendukung kelanggengan ancaman terhadap negara.

Bacaan Lainnya

“Kalau ada orang yang mengusulkan agar dilakukan pembubaran terhadap Densus 88 Polri, berarti ia sedang melakukan atau mendukung semacam sikap pembiaran terhadap ancaman eksistensial terhadap NKRI,” kata Hikam, Jumat (8/10).

Jika ada kritikan terhadap sebuah lembaga negara, ia menilai hal itu wajar karena tidak semua lembaga tanpa kekurangan. Hikam pun menyebut hal tersebut sama dengan DPR.

“Harus diakui bahwa tidak ada satupun lembaga yg sempurna dan atau tanpa cela, termasuk lembaga parlemen kita yang terhormat dan para politisi di dalamnya,” ujarnya.

Akan tetapi, kondisi itu tidak boleh membuat masyarakat justru mendorong pembubaran lembaga tersebut.

“Kendati parlemen kita juga banyak masalah dan rakyat sering dikecewakannya, tetapi kita harus mendukung terhadap semua upaya penguatan Parlemen,” tandasnya.

“Rakyat bukan malah ingin membubarkannya, karena lembaga tersebut adalah “sine qua non” alias kemutlakan bagi eksistensi Negara ini,” tambah Hikam.

Hal serupa juga diarahkan ke Densus 88. Hikam menyebut bahwa keberadaan satuan khusus itu penting untuk penanggulangan ancaman negara dari sisi terorisme.

“Dalam konteks bernegara saat ini, kehadirannya bisa dikatakan sebagai sebuah keniscayaan bagi upaya menghadapi dan menanggulangi ancaman keamanan nasional yang sifatnya eksistensial,” paparnya.

Karena bagaimanapun, Hikam menegaskan bahwa sejauh ini, terorisme masih menjadi ancaman bagi Indonesia.

“Terorisme adalah salah satu ancaman yang seperti itu, sehingga Densus 88 harus ada dan berfungsi efektif,” imbuhnya.

Hikam menyarankan, orang-orang seperti Fadli Zon sebagai influencer lebih mengedepankan narasi konstruktif, bukan sekedar nyinyir dan distruktif.

“Yang diperlukan adalah peningkatan kualitas dan efektifitas kinerja Densus 88 Polri. Bukan pembubaran,” pungkasnya.

Fadli Zon dorong Densus 88 Dibubarkan

Sebelumnya, Anggota Komisi I DPR RI Fadli Zon menyinggung soal Densus 88 Antiteror yang menyebut, bahwa kemenangan Taliban di Afghanistan bisa menginspirasi kelompok teroris di Indonesia untuk eksis.

Menurutnya, narasi semacam itu sudah tidak relevan lagi di situasi saat ini. Bahkan Fadli menyebut hal ini cenderung wujud dari ketakutan terhadap kiprah Islam alias Islamophobia.

“Narasi semacam ini tak akan dipercaya rakyat lagi, berbau Islamofobia. Dunia sudah berubah,” kata Fadli di akun Twitter pribadinya, Selasa (5/10).

Atas dasar itu, Fadli Zon pun menyarankan agar Densus 88 dibubarkan saja.

“Sebaiknya Densus 88 ini dibubarkan saja. Teroris memang harus diberantas, tapi jangan dijadikan komoditas,” pungkasnya.

Pos terkait