Dialog Bareng Ratusan Pimpinan Pesantren, Mahfud MD Ajak Ulama Jaga Negara

  • Whatsapp
Mahfud MD
Menko Polhukam, Prof Mohammad Mahfud MD saat mengikuti salat Tarawih berjamaah di Masjid Istiqlal Jakarta pada hari Jumat 16 April 2021. [foto : Junaidi/Inisiatifnews]

Jakarta, Inisiatifnews.com – Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Prof Mohammad Mahfud MD menegaskan, bahwa para ulama dan kaum santri memiliki peran yang cukup penting dalam memerdekaan Indonesia dari tangan para penjajah.

Hal ini disampaikan oleh Mahfud MD dalam dialog virtual dengan 250 lebih pimpinan Pondok Pesantren di seluruh Indonesia, dalam rangka Hari Santri yang jatuh pada tanggal 22 Oktober lalu.

Bacaan Lainnya

“Kaum Santri santri-lah yang ikut mendorong secara habis-habisan memerdekakan bangsa ini,” ujar Mahfud MD, Jumat malam (29/10).

Tanpa mengesampingkan peran tokoh agama lainnya, ujar Mahfud, kemerdekaan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila adalah warisan para ulama, tokoh-tokoh Islam dari berbagai latar belakang suku dan ormas Islam yang berbeda.

Untuk itu, Mahfud mengajak pimpinan pondok pesantren yang hadir dalam dialog virtual ini, ikut menjaga negara dari ancaman ideologi yang bertentangan dengan Pancasila dan undang-undang 1945.

“Umat Islam waktu itu sekitar 87% dengan 70 juta penduduk pada tahun 1945. Tapi waktu itu demi kemerdekaan, demi kebersamaan disetujui kata ‘kewajiban menjalankan sayariat Islam bagi pemeluknya’ diganti dengan ‘Ketuhanan yang Maha Esa’,” tambah Mahfud yang bercerita terkait kesepakatan di dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) saat itu.

Pasca kemerdekaan bulan Agustus 1945, lanjut Mahfud, penjajah kembali ingin kembali merebut Indonesia. Dan di dalam kesempatan ini, menurut Mahfud, kaum santri tampil kembali menjadi pembela negara.

Dalam keadaan genting pasca kemerdekaan, lanjutnya, kaum santri tampil kembali melawan penjajah. Pada 9 September 1945 Kyai Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad yang isinya Ummat Islam wajib melawan penjajah dan berperang mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Lalu fatwa yang semula dikeluarkan di Tebuireng itu, diulangi lagi melalui rapat PBNU di Bubutan Surabaya tangal 21-22 Oktober dimana fatwanya Kyai Hasyim Asyari dikeluarkan menjadi Fatwa Resolusi Jihad. Jawa Timur bergelora, kemudian terjadilah peristiwa 10 November yang kita kenal Hari Pahlawan itu,” ujar Menko Polhukam.

dialog pondok pesantren
Foto : Istimewa.

Dalam berbagai peristiwa perang kemerdekaan, menurut Mahfud yang merupakan pengurus Dewan Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Seluruh Indonesia ini mengatakan, bahwa peran santri sangat nyata dalam mempersatukan ideologi dan mempersatukan kekuatan melawan penjajah.

“Di sini tampak, betapa santri memiliki peran penting, pertama mempersatukan ideologi, kedua mempersatukan kekuatan melawan penjajah untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga lahir negara bedasar Pancasila, itulah peran kaum santri,” pungkas Mahfud.

Dalam dialog bertema “Peranan Kaum Santri dalam Mengawal NKRI” ini, para pengasuh Poondok Pesantren tampak antusias. Para pimpinan Pondok Pesantren secara bergantian meneguhkan sikap menjaga negara sebagai warisan para ulama.

Pimpinan Pondok Pesantren seperti Kyai Nazrul Haq Muiz dari Ponpes Al-Badar Pare-pare Sulawesi Selatan, Kyai Khozin Adnan dari Pondok Pesantren Darul Al-Barokah Sumatera Barat, Kyai Badawi Basyir dari Ponpes Darul Falah Jekulo Kudus dan beberapa pimpinan pesantren lainnya, turut sharing dan berbagi ide serta gagasan terkait peran pondok pesantren dalam mengawal pembangunan bangsa ke depan. (*)

Pos terkait