Kemajuan Teknologi Permudah Orang Terpapar Paham Radikal dan Teroris

  • Whatsapp
stanislaus
Stanislaus Riyanta. [foto : Istimewa]

Inisiatifnews.com – Pengamat Intelijen dan Terorisme, Stanislaus Riyanta menyampaikan bahwa perkembangan teknologi di era saat ini ternyata ikut merubah pola seseorang menjadi teroris.

Betapa tidak, jika era dahulu untuk membuat seseorang menjadi radikal hingga teroris perlu tahapan-tahapan yang cukup panjang. Akan tetapi dengan perkembangan teknologi informasi seperti saat ini, pesan-pesan kelompok teroris mudah masuk ke target mereka, bisa melalui platform sosial media maupun ponsel pintar mereka masing-masing.

Bacaan Lainnya

“Jadi kalau kita lihat tangga orang menjadi teroris dengan adanya 4.0 ini malah membuat orang jadi lebih cepat, padahal tahapan menjadi teroris ada 6-7 tahapan, tapi ini cukup dengan terpapar lalu jadi teroris,” kata Stanislaus dalam keterangannya dikutip Holopis.com dari channel youtube Humas BNPT, Minggu (31/10).

Kemudian, Stanis menjelaskan bahwa salah satu dasar orang bisa menjadi teroris itu diawali dengan adanya rasa benci terhadap sesuatu. Kemudian kebencian itu ia manifestasikan kepada struktur pemikiran dan perasaan untuk melakukan perlawanan. Di situlah cikal bakal teroris muncul di dalam diri seseorang.

“Awal mula orang menjadi radikal itu diawali dengan kebencian. Orang benci lalu jadi radikal kemudian bergabung dengan kelompok (teroris) kemudian terlatih lalu menjadi teroris,” terangnya.

Sayangnya, ada struktur lain di mana orang bisa menjadi teroris, yakni tidak harus bergabung atau terafiliasi secara langsung dengan kelompok teroris.

“Ada juga yg terpapar, radikal kemudian jadi teroris tanpa bergabung dengan teroris,” imbuhnya.

Bagi Stanislaus, orang-orang yang menjadi teroris tanpa tergabung secara langsung dan aktif dengan kelompok teroris inilah yang cukup sulit dideteksi. Karena mereka bisa menjadi teroris hanya cukup dengan modal benci, lalu memiliki kemauan dan keberanian melakukan tindakan teror.

“Dulu (teroris) organisasinya rapih, ada pelatihan dan tahapan-tahapan lainnya yang rapih. Sekarang hanya dengan melihat konten, mereka merasa ingin menjadi seperti itu (teroris) lalu melakukan aksi, itu banyak,” ujar Stanislaus.

“Saya pernah melakukan wawancara terhadap salah satu pelaku teror lone wolf, mereka terpaparnya dari internet lalu mereka punya ide, punya kemauan lalu melakukan aksi,” paparnya.

Kemudian banyak mereka pelaku lone wolf ini gagal melancarkan aksinya secara sempurna. Hal ini menurut Stanislaus karena mereka hanya terpapar dengan konten-konten teroris tanpa memiliki keterampilan yang baik untuk melancarkan aksinya.

“Masalahnya memang mereka ini tidak terlatih ya cenderung ceroboh,” tambahnya.

Konten teroris sasar anak muda

Alumni S2 Sekolah Tinggi Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) tersebut mengatakan, bahwa konten-konten kelompok teroris ini dibuat di internet untuk membidik kalangan anak muda. Selain karena mereka masih mencari jati diri, kaum milenial cenderung lebih banyak berinteraksi dengan gadget maupun perangkat terhubung dengan internet dibanding orang-orang tua.

“Cepetnya konten-konten membuat bom dan konten melakukan aksi teror itu gampang sekali didownload, dan itu menarik bagi anak muda,” terang Stanislaus.

Ditambah lagi, rendahnya literasi dan minimnya semangat kebangsaan juga memicu cepatnya pemuda Indonesia terpapar radikalisme dan teroris dari konten di internet yang cenderung dibungkus dengan narasi keagamaan.

“Mereka lebih tertarik melihat konten membuat bom daripada konten misalnya tentang pancasila,” tuturnya.

Teroris dianggap man of hero

Alasan lain mengapa banyak anak muda tertarik dengan kelompok teroris, karena banyak generasi muda Indonesia yang terdoktrin dan tertarik dengan gerakan kelompok tersebut. Terlebih lagi mereka menganggap para pelaku teror dan tokoh maupun aktor teror adalah pahlawan.

Kurangnya sosok man of hero di mata generasi milenial Indonesia ini yang penting disikapi oleh para stakeholder yang ada, agar para anak bangsa tidak mudah terpapar paham radikal.

Pos terkait