Cak Rofi’i Harap Tak Ada Pihak Intervensi dan Provokasi Kasus KM50

Masyarakat Peduli NKRI
Konferensi pers Masyarakat Peduli NKRI untuk menyikapi upaya provokasi dan intervensi terhadap kasus KM50 yang masih disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Jakarta, Inisiatifnews.com – Koordinator Masyarakat Peduli NKRI, Muhammad Rofi’i Mukhlis menilai seharusnya semua pihak mengikuti dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan, salah satunya adalah perkara KM50 yang menewaskan 6 (enam) pengawal Habib Rizieq Shihab.

“Meminta kepada semua umat beragama yang ada di Indonesia khususnya di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya untuk mengikuti dan menaati proses hukum yang sedang berjalan,” kata Rofi’i Mukhlis dalam pernyataan sikapnya, Kamis (9/12).

Bacaan Lainnya

Seruan ini dikatakan tokoh yang karib disapa Cak Rofi’i tersebut sebagai respon adanya seruan untuk melakukan doa bersama namun memaksakan diri menuding pihak kepolisian yang bersalah sebagai pelanggaran HAM berat. Sementara proses hukum untuk membuktikan salah benarnya masih berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Oleh sebab itu, Cak Rofi’i mengimbau agar tidak ada pihak yang justru memperkeruh suasana dengan melakukan provokasi maupun intervensi dalam bentuk apapun.

“Kepada semua pihak untuk tidak melakukan tindakan provokatif termasuk melakukan intervensi kepada proses hukum,” ujarnya.

Kemudian, ia juga mengharapkan agar majelis hakim PN Jakarta Selatan dapat memproses hukum kasus tersebut secara adil dan transparan.

“Kepada para penegak hukum khususnya para hakim yang menyidangkan kasus KM50 untuk memutus perkara tersebut dengan transparan, benar dan seadil-adilnya,” tegasnya.

Di sisi lain, Cak Rofi’i juga menyayangkan adanya labelisasi syuhada terhadap 6 laskar pengawal Habib Rizieq. Mengingat di dalam persidangannya pun, keenam pasukan khusus dari FPI tersebut melakukan serangan awal kepada anggota yang bertugas, sekaligus ada upaya penyerangan dengan senjata tajam hingga senjata api.

“Yang namanya orang melawan aparat negara, begitu gampangnya dikatakan syuhada, begitu gampangnya dikatakan syahid,” tandasnya.

Pun demikian, ia lebih memilih untuk menunggu saja hasil dari proses hukum yang berjalan, untuk membuktikan secara terbuka siapa yang salah dan siapa benar.

Pos terkait