AHY Melambung Dalam Survei, Demokrat: Saatnya Regenerasi Pemimpin

IMG 20220110 WA0007
Deputi Riset dan Survei Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DPP Partai Demokrat Mohammad Jibriel.

Inisiatifnews.com – Ketua Umum (Ketum) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi satu-satunya tokoh nasional non pejabat publik yang masuk dalam empat besar kandidat capres dengan elektabilitas 6,8 persen dalam salah satu hasil survei nasional Indikator Politik Indonesia yang dirilis Minggu (9/1) kemarin.

Dalam survei yang dilaksanakan tanggal 6-11 Desember 2021 ini, AHY juga menempati posisi tiga besar kandidat Cawapres dengan 12 persen. Bahkan dua besar dalam elektabilitas Ketua-ketua Umum Parpol sebagai kandidat Capres.

Bacaan Lainnya

“Ini kenaikan yang cukup signifikan dibandingkan hasil survei November lalu. Waktu itu, elektabilitas Ketua Umum AHY mencapai 4,8 persen dan berada pada peringkat enam kandidat Capres. Sebagai kandidat Cawapres, elektabilitas Ketum AHY berada 9 persen, berada pada peringkat lima besar,” kata Deputi Riset dan Survei Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) DPP Partai Demokrat Mohammad Jibriel dalam keterangannya, Selasa (11/1).

Jibriel mengklaim, kenaikan elektabilitas AHY merupakan buah kerja-kerja kepartaian yang fokus membantu rakyat menghadapi pandemi Covid-19 dan memulihkan ekonomi. Prinsip Demokrat berkoalisi dengan rakyat, diterjemahkan menjadi berbagai Gerakan Nasional Peduli Demokrat (GNPD), dari tanggap bencana hingga bantuan pendidikan anak.

Demokrat di bawah pimpinan AHY, kata Jibriel, juga mewakili aspirasi publik. Misalnya dengan menolak Rancangan Undang-undang Cipta Kerja yang memberatkan masyarakat, khususnya para pekerja dan profesional, menolak RUU Minerba, dan juga berada di garda terdepan dalam memberikan kritik membangun dalam penanganan pandemi Covid-19 yang kala itu terasa stagnan. “Demokrat di bawah pimpinan AHY selalu mewakili aspirasi publik,” tambahnya.

Di sisi lain, dalam temuan survei ini, terdapat 38,6 persen responden setuju perpanjangan masa jabatan presiden tiga periode. Ini haris menjadi Wake Up Call bagi partai merapatkan barisan dengan elemen masyarakat sipil untuk menjaga prinsip dalam melaksanakan demokrasi. Sebab, pembatasan kekuasaan adalah keharusan menurut konstitusi dan prinsip dalam berdemokrasi.

“Ini lampu kuning bagi kita. Wacana perpanjangan masa jabatan tiga periode tidak sesuai dengan konstitusi kita. Pasal 7 UUD 1945 tegas mengatur masa jabatan presiden hanya dua periode. Kedua,  prinsip dalam negara yang berdemokrasi dewasa, matang dan modern adalah membatasi masa jabatan Presiden maksimal dua periode,” tutur Jibriel.

Karena itu, Jibriel mengingatkan, tahun 2024 harus menjadi momentum pergantian kepemimpinan. Ini wajib harus disambut dengan semangat perubahan dan regenerasi kepemimpinan. Apalagi sebagian besar penduduk Indonesia kini berusia di bawah 40 tahun. Generasi ini  menghendaki kepemimpinan yang bisa memahami persoalan-persoalan mereka dengan baik.

“Jangan sampai terjadi kesenjangan generasional yang membuat pemimpin tidak nyambung dengan yang dipimpin,” harapnya.

Untuk diketahui, dalam hasil survei Indikator Politik Indonesia yang dirilis Minggu (9/1), lembaga ini menyigi elektabilitas para ketua umum partai politik. Hasilnya, di urutan pertama, Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto berada di posisi teratas meraih elektabilitas 52,6 persen. Posisi kedua yakni Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dengan 11,1 persen.

Di urutan ketiga, ada nama Ketum Golkar Airlangga Hartarto 6,0 persen. Di bawah Airlangga, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dengan 3,7 persen. Urutan kelima, ada Ketum Perindo Hary Tanoesudibjo 2,7 persen.

Selanjutnya, Ketum Partai NasDem Surya Paloh 1,7 persen, Ketum PKB Muhaimin Iskandar 1,1 persen, Presiden PKS Ahmad Syaikhu 0,8 persen. Ketum PBB Yusril Ihza Mahendra 0,6 persen.

Indikator Politik juga menyajikan simulasi 9 nama ketum parpol. Hasilnya tak jauh berbeda. Prabowo masih di puncak meraih 54,4 persen. Disusul AHY 11,8 persen, Airlangga 6,8 persen, Megawati 4,6 persen, Surya Paloh 1,6 persen. Muhaimin Iskandar 1,5 persen, Ahmad Syaikhu 1,3 persen, Zulkifli Hasan 0,2 persen, dan Suharso Monoarfa 0,1 persen. (INI)

Pos terkait