PB SEMMI Apresiasi Polri Tahan Ferdinand Hutahaean

bintang wahyu saputra
Bintang Wahyu Saputra.

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Ketua Umum Pengurus Besar Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (PB SEMMI), Bintang Wahyu Saputra bersyukur dan mengapresiasi penyidik Bareskrim Mabes Polri yang menetapkan Ferdinand Hutahaean sebagai tersangka kasus ujaran kebencian terhadap suku, agama, ras dan antar golongan (SARA) dan langsung ditahan.

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT. Terima kasih Pak Kapolri akhirnya pembuat gaduh Indonesia Ferdinand Hutahaean resmi ditetapkan sebagai tersangka dan langsung ditahan di rutan Mabes Polri,” kata Bintang, Selasa (11/1).

Bacaan Lainnya

Menurut Bintang, sikap tegas Polri tersebut menunjukkan bahwa lembaga penegak hukum tersebut sangat transparan dan profesional dalam menangani perkara hukum yang ada.

“Ini menunjukkan Polri bekerja profesional dan transparan sebagaimana yang saya yakini selama ini,” imbuhnya.

Bintang mengharapkan apa yang dialami Ferdinand bisa menjadi pelajaran berharga untuk semua pihak agar lebih bijak dan berhati-hati dalam menggunakan media sosial.

Selain itu, ia juga mengajak kepada seluruh elemen masyarakat agar bisa semakin menguatkan jalinan silaturahmi, memperluas toleransi dan menghargai perbedaan di antara semua anak bangsa.

“Sekarang saatnya kita pererat persatuan dan kesatuan semua komponen bangsa dengan beragam latar belakang yang berbeda. Karena sebetulnya heterogenitas yang menjadi ciri bangsa Indonesia adalah kekuatan dan wujud nyata nilai-nilai Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika,” tuturnya.

Bintang melanjutkan, bahwa dengan ditahannya Ferdinand Hutahaean menjadi bukti Polri benar-benar sudah berubah dan meninggalkan paradigma lama yang sudah usang dan dianggap mencoreng institusi Polri sebagai penegak hukum.

“Kepada teman-teman yang selama ini menganggap Polri belum berubah dan masih memandang buruk lihatlah sekarang. Saya ingin katakan Keadilan masih ada dan Polri membuktikan itu sekarang. Proses hukum terhadap Ferdinand dilakukan Polri dengan professional dan transparan,” ucap Bintang.

Lebih lanjut, Bintang juga kembali menyinggung tagar #PercumaLaporPolisi yang sempat menjadi trending di media sosial beberapa waktu lalu. Ia menyebutkan pembuat tagar tersebut harus berani menghapus karena ternyata Polisi tidak seperti dugaan mereka.

“Sekarang saatnya kita semua meramaikan media sosial dengan tagar #TidakPercumaLaporPolisi. Saya mengajak masyarakat terutama para pegiat media sosial menyertakan tagar #TidakPercumaLaporPolisi pada setiap postingannya,” pungkasnya.

Ferdinand Hutahaean Ditahan Usai Dilaporkan Haris Pertama

Perlu diketahui, bahwa Ferdinand mengunggah cuitan di akun Twitter pribadinya yang dinilai memiliki unsur ujaran kebencian dan berpotensi memicu keonaran. Dimana ia menyebut bahwa “Allahmu ternyata lemah”.

“Kasihan sekali Allahmu ternyata lemah harus dibela. Kalau aku sih Allahku luar biasa, maha segalanya, DIA lah pembelaku selalu dan Allahku tak perlu dibela,” tulis @FerdinandHaean3 pada hari Selasa 4 Januari 2022 pukul 10.54 melalui perangkat iPhone.

Usai mengunggah konten tersebut, Ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Haris Pertama mendatangi Bareskrim Mabes Polri pada tanggal 5 Januari 2022. Di sana ia bersama dengan beberapa pengurus KNPI lainnya resmi melaporkan Ferdinand atas tweet tersebut.

Kemudian, usai pelaporan itu, Polisi pun menerbitkan surat laporan dengan nomor LP/B/007/I/2022/SPKT/BARESKRIM POLRI.

Selanjutnya, pada tanggal 6 Januari 2022, Polisi akhirnya menerbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP), sehingga tim penyidik langsung bekerja melakukan pemanggilan terhadap berbagai pihak untuk menyidik kasus tersebut.

Kemudian, pada hari Senin (10/1), Ferdinand Hutahaean pun dipanggil untuk dimintai keterangan, dan pada malam harinya, Ferdinand pun ditetapkan sebagai tersangka sekaligus ditahan selama 20 hari ke depan untuk proses hukum lebih lanjut.

Ferdinand Hutahaean saat ini tengah menjadi warga binaan di Rutan Cabang Jakarta Pusat Mabes Polri.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri (Karo Penmas) Brigjen Pol Ahmad Ramadhan menyampaikan, bahwa Ferdinand hanya dikenakan pasal tentang potensi menimbulkan keonaran di tengah masyarakat akibat tweetnya itu, bukan pasal tentang Penodaan Agama.

“Sementara tidak. Jadi pasalnya 14 ayat 1 dan ayat 2 peraturan hukum pidana, UU 1 Tahun 1946,” ujarnya.

Pasal 14 KUHP
(1) Barang siapa, dengan menyiarkan berita atau pemberitahuan bohong, dengan sengaja menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, dihukum dengan hukuman penjara setinggitingginya sepuluh tahun.

(2) Barang siapa menyiarkan suatu berita atau mengeluarkan pemberitahuan, yang dapat menerbitkan keonaran dikalangan rakyat, sedangkan ia patut dapat menyangka bahwa berita atau pemberitahuan itu adalah bohong, dihukum dengan penjara setinggi-tingginya tiga tahun.

Pos terkait