Gugatan PT 0% di MK Potensi Biaskan Hasil Survei Capres 2024

Karyono IPI
Karyono Wibowo.

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Analis politik, Karyono Wibowo menilai bahwa berbagai hasil yang dikeluarkan dari lembaga survei untuk membaca tren politik termasuk potensi calon presiden dan calon wakil presiden untuk Pilpres 2024 masih belum bisa dijadikan acuan final untuk mengukur potensi yang akan terjadi.

Bahkan bagi Karyono, berbagai hasil survei dari beberapa lembaga survei ternama itu masih sebatas memotret kondisi riil saat ini saja, dimana kondisi ideal pemilu yang sedang berjalan, sehingga belum bisa dipastikan seperti apa situasi pilpres 2024 nantinya.

Bacaan Lainnya

“Peta koalisi dan formasi pasangan capres saat ini ibarat puzzle yang belum tersusun utuh. Saat ini baru tersusun kepingan-kepingan dari penggalan gambar yang masih sulit diterka,” kata Karyono Wibowo kepada wartawan, Rabu (12/1).

Apalagi saat ini banyak pihak yang justru menggugat ambang batas pencalonan presiden dan wakil presiden sebesar 20 persen seperti yang termaktub di dalam Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu ke Mahkamah Konstitusi (MK).

Di dalam judicial review (JR) tersebut, mereka menginginkan supaya ambang batas itu dihapuskan menjadi 0 persen, agar bisa lebih banyak orang yang bisa mencalonkan diri sebagai Presiden maupun Wakil Presiden di Pemilu 2024 mendatang.

Dan jika gugatan itu dikabulkan oleh MK, maka kemungkinan besar peta politik akan sangat berubah.

“Secara tak langsung, putusan MK nanti turut mempengaruhi peta koalisi pilpres 2024 yang akan datang. Jumlah pasangan capres dalam koalisi nanti bisa dua pasang dan bisa lebih dari dua pasangan, tergantung perkembangan dinamika politik ke depan. Tetapi, ada kecenderungan kuat jumlah pasangan capres akan bertambah jika MK mengabulkan permohonan JR untuk menghapus ambang batas pengajuan pasangan capres (Presidential Threshold) dari 20% kursi di DPR atau 25% suara sah menjadi 0%,” papar direktur eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) itu.

Perlu diketahui, bahwa berdasarkan hasil survei terkini dari 5 (lima) lembaga survei yang ada, merilis seberapa potensial nama-nama tokoh publik untuk dipilih masyarakat sebagai Presiden di Pilpres 2024 mendatang. Antara lain ;

1. Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) ;
– Prabowo Subianto : 19,7%
– Ganjar Pranowo : 19,2%
– Anies Baswedan : 13,4%

2. Poligov Strategic Consulting ;
– Prabowo Subianto : 25,5%
– Ganjar Pranowo : 19,1%
– Anies Baswedan : 18,3%

3. KedaiKopi ;
– Prabowo Subianto : 55,4%
– Anies Baswedan : 37,4%
– Ganjar Pranowo : 34,5%

4. Populi Center ;
– Ganjar Pranowo : 58,3%
– Anies Baswedan : 47,3%
– Prabowo Subianto : 46,6%

5. Charta Politika Indonesia ;
– Ganjar Pranowo : 25,8%
– Prabowo Subianto : 22,3%
– Anies Baswedan : 17,7%

Jika melihat posisi elektabilitas dari tiga nama yang berada di posisi teratas dapat dibaca bahwa sementara ini terjadi persaingan ketat antara Ganjar dan Prabowo. Selisih elektabilitasnya sangat tipis. Sementara elektabilitas Anies dengan Prabowo dan Ganjar cukup jauh jaraknya.

Yang perlu diperhatikan adalah tren kenaikan elektabilitasnya. Ganjar mengalami tren kenaikan, sementara Prabowo menurun jika dibandingkan saat pemilu 2019. Sementara elektabilitas Anies mengalami volatilitas. Saat ini posisinya cenderung stagnan sejak namanya muncul di radar survei capres.

Tapi sekali lagi, situasi masih bisa sangat dinamis mengingat ada beberapa pihak yang saat ini sedang menggugat Pasal 222 UU Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Beberapa dari mereka antara lain ; Rizal Ramli, Ferry Juliantono dan Fahira Idris. Mereka menginginkan agar Presidential Threshold bisa diubah menjadi 0 persen, sehingga membuka peluang besar lebih banyak calon Presiden maupun calon wakil Presiden ikut berkontestasi di dalam pemilu 2024 mendatang.

Pos terkait