Tambengnya Dorce Gamalama Minta Diurus Jenazahnya Sebagai Perempuan

dorce gamalama
Dorce Gamalama.

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Publik saat ini tengah dihebohkan dengan statemen Dedi Yuliardi Ashadi alias Dorce Gamalama yang ingin diuruskan jenazahnya nanti dengan cara perempuan. Hal ini disampaikan melalui program wawancara dengan Denny Sumargo di Youtube.

“Ya (urus jenazah saya) sebagai saya sekarang. Karena setelah saya operasi, saya punya kelamin perempuan, mandikan saya dengan perempuan, sebagai perempuan,” kata Dorce.

Bahkan ia mengaku jika dirinya sudah menyiapkan kain kafan dan tempat pemakaman sendiri. Ini ia persiapkan untuk nanti ketika dirinya meninggal dunia.

“Rumah saya di Lubang Buaya itu ada masjid, di sebelah masjid itu nanti tempat pulang saya,” sambungnya.

Namun bagaimana dengan kacamata agama menyikapi permintaan Dorce Gamalama tersebut. Beberapa tokoh agama pun angkat bicara. Salah satunya adalah Ketua bidang Dakwah dan Ukhuwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis.

Menurut Kiai Cholil Nafis, seseorang yang mengganti jenis kelaminnya secara medis karena keinginan pribadi tidak bisa dijadikan dasar untuk pengurusan jenazah orang tersebut layaknya profesi gender yang dipilih.

“Jenazah transgender itu diurus sebagaimana jenis kelamin awal dan asalnya ya,” kata kiai Cholil Nafis, Minggu (30/1).

Karena di dalam Islam, tidak mengenal perubahan kelamin semacam itu. Sehingga ketika transgender meninggal, maka hukum pengurusan jenazahnya tetap menggunakan hukum asal.

“Jadi mengubah kelamin itu tak diakui dalam Islam sehingga ia hukumnya tetap seperti jenis kelamin pertama,” tegasnya.

“Laki-laki yang pindah perempuan disebut mukhannats dan perempuan yang mengubah ke laki-laki itu (disebut) mutarajjil,” sambungnya.

Selain kiai Cholil Nafis, Yahya Zainul Ma’arif alias Buya Yahya juga sampai turun tangan untuk menyampaikan hukum yang benar terkait dengan permintaan Dorce tersebut.

“Seorang laki-laki yang lahir laki-laki, kemudian dirubah menjadi perempuan, hakikatnya dia tetap laki-laki. Cara merawat jenazahnya laki-laki, karena dia bukan perempuan sesungguhnya,” ucapnya.

Tak hanya itu, pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah yang berpusat di Cirebon ini juga mengungkapkan bahwa ada sejumlah orang yang memang memiliki ujian dalam identitas sejatinya.

“Hanya dibuatkan alat seperti alat perempuan, tidak akan berubah menjadi perempuan (utuh) kecuali yang terbukti kelaki-lakiannya atau perempuannya,” kata Buya Yahya.

“Ada orang yang lahir tak jelas dia laki-laki atau perempuannya, karena alatnya gak jelas, tapi kadang berjalannya waktu itu tampak hormon ke-lakian nya, semuanya dilihatkan kepada ahli,” katanya lagi.

Secara tegas, Buya Yahya mengatakan jika pria yang berubah menjadi perempuan tetap dianggap sebagai pria.

“Dia tetap ahli iman, bukan keluar dari iman, kalau meninggal ya semoga Allah ampuni.Kalau yang hidup jangan tiru karena besar dosanya, tapi kalau sudah meninggal jangan di dosa-dosakan wong dia orang beriman kok,” tuturnya.

Meski begitu, Buya Yahya juga kecewa dengan caci maki yang diarahkan kepada Dorce Gamalama terkait wasiatnya itu.

“Jika ada teman-teman yang sedang diuji oleh Allah, itu kami ingin menyambungkan dengan mereka untuk mengobrol secara khusus, bukan untuk dihinakan kemudian dilaknat enggak,” pungkasnya.

Dorce Marah

Kemudian, Dorce pun memberikan respon tentang adanya nasehat yang disampaikan beberapa ustadz yang menetang permintaannya untuk diurus jenazahnya nanti layaknya jenazah perempuan.

“Assalamulaikum.. Kepada Kiai, Ustadz-Ustadz yang telah menerangkan keadaan mati saya, siapa yang akan memandikan saya, siapa yang akan mengubur saya, biarkanlah keluarga saya yang akan nanti mengurusnya,” ungkapnya dalam unggahan Instagram, (30/1).

Dorce Gamalama pun membebaskan siapa pun baik laki-laki maupun perempuan yang akan mengurus jenazahnya kelak, jika dirinya tutup usia.

“Mau kain kafan 7 lapis, mau 8 lapis, saya serahkan kepada yang mengurus. Mau yang mengurus laki-laki boleh, perempuan boleh, laki-laki perempuan boleh, jadi siapa saja boleh yang memandikan saya,” tambah Bunda Dorce.

Dirinya meminta agar Kiai dan Ustadz-Ustadz untuk tidak ikut campur dan memperkeruh urusan kehidupannya.

“Jadi Kiai-Kiai yang sudah terkenal sekaligus, jangan memberikan komentar yang kurang baik, harusnya anda seorang kiai memberikan suguhan dan juga himbauan kepada siapapun, karena saya juga manusia yang mempunyai tanggung jawab untuk hidup dan mati kelak,” tutupnya.