Pengamat Intelijen Sebut Terorisme yang Dihukum Perilakunya, Bukan Agamanya

stanislaus
Stanislaus Riyanta. [foto : Istimewa]

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Pengamat intelijen dan keamanan, Stanislaus Riyanta. Ia justru mempertanyakan kembali siapa yang memunculkan framing bahwa penanggulangan radikalisme dan terorisme adalah bentuk penyudutan agama tertentu.

“Saya kembali bertanya, siapa yang menyudutkan umat Islam?. Saya sendiri sebagai seorang peneliti, saya tidak pernah menyebut bahwa (radikalisme dan terorisme) ini ada hubungannya dengan agama atau umat tertentu,” kata Stanislaus dalam webinar yang digelar oleh Pemuda Moeslim Jakarta (PMJ), Rabu (16/2).

Bacaan Lainnya

Kemudian, ia pun menegaskan bahwa radikalisme dan terorisme adalah bentuk kesalahan dalam pemahaman dan tindakan seseorang terhadap ajaran agamanya. Sehingga ketika ada tindakan hukum terhadapnya, maka bukan latar belakang agamanya yang dipersalahkan, melainkan tindakan dan perilakunya.

“Saya hanya menyebut bahwa ini adalah adanya pemahaman dan tindakan yang salah. Dan yang dihukum adalah tindakannya,” terangnya.

Oleh karena itu, untuk mereduksi pemikiran bahwa penanggulangan terorisme adalah bentuk islamophobia atau memusuhi agama tertentu, Stanislaus mengajak semua tokoh agama untuk bersatu untuk bersuara bahwa tidak ada ajaran agama mereka yang mengajarkan intoleransi, radikalisme dan terorisme.

“Jika ada oknum yang menggunakan agama untuk pembenaran, ini jangan agamanya yang dimusuhi. Jadi semua tokoh agama harus berkumpul melawan terorisme. Karena terorisme ini sebenarnya adalah musuh agama,” tegasnya.

Pos terkait