Ribut-ribut Shalat Ala Fikri Bareno, Mahfud MD : Shalat Gerhana 2 Rukuk 2 Sujud

Mahfud MD
Menko Polhukam, Prof Mohammad Mahfud MD saat mengikuti salat Tarawih berjamaah di Masjid Istiqlal Jakarta pada hari Jumat 16 April 2021. [foto : Junaidi/Inisiatifnews]

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Praktik shalat ashar yang dilakukan oleh koordinator lapangan Aksi Bela Islam FPI dan PA 212 di depan gedung Kementerian Agama, Fikri Bareno masih menjadi perbincangan seru di berbagai kalangan.

Betapa tidak, saat melakukan shalat berjamaah, Fikri Bareno melakukannya di atas mobil komando sendirian, kemudian ditemani bilal yang hanya duduk santai sambil memegang microphone untuk memberikan kode gerakan shalat imam.

Bacaan Lainnya

Yang menjadi unik, Fikri Bareno langsung berdiri dari sujud di saat jamaah hendak melakukan sujud. Kemudian imam bangkit dari sujud untuk melanjutkan rakaat selanjutnya, dan di saat itu pula Fikri Bareno lalu rukuk, dan setelahnya ia kembali bersedekap. Setelah itu, imam kembali rukuk dan Fikri pun mengikuti imam untuk rukuk.

Praktik shalat ini pun ikut menjadi perhatian Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD. Ia menilai, seharusnya publik tak perlu heboh dengan praktik rukuk dua kali di dalam shalat. Karena ada praktik shalat semacam itu, namanya shalat khusuf.

“Kok ada ribut-ribut mempersoalkan orang salat dengan 2 kali ruku’? Di fiqh ibadah dalam Islam memang ada kok jenis salat yang pakai 2 kali ruku’ dan 2 kali sujud. Yakni salat gerhana (shalat khusuf),” kata Mahfud MD di akun Twitter pribadinya @mohmahfudmd, Minggu (6/3).

Statemen Mahfud ini adalah guyon sekaligus satir. Ia sekaligus mengingatkan tentang adanya praktik shalat khusuf tersebut, di mana seseorang melakukan shalat dengan rukuk dan sujud sebanyak dua kali.

“Kalau sedang gerhana memang disunnahkan salat dengan ruku’ dan sujud masing-masing 2 kali. 🙏🏻🤣,” pungkasnya.

Tata cara shalat khusuf

Salat khusuf adalah rangkaian shalat yang dijalankan oleh umat Islam saat terjadi fenomena alam yakni gerhana bulan maupun gerhana matahari.

Bahkan ada kemuliaan menjalankan shalat khusuf tersebut, yakni sebagai pengagungan kepada Sang Khaliq atas kuasa-Nya terhadap langit dan bumi.

“Sungguh, gerhana matahari dan bulan tidak terjadi sebab mati atau hidupnya seseorang, tetapi itu merupakan salah satu tanda kebesaran Allah ta’ala. Karenanya, bila kalian melihat gerhana matahari dan gerhana bulan, bangkit dan shalatlah kalian,”(HR Bukhari-Muslim).

Shalat khusuf ini kadar hukumnya di dalam syariat Islam adalah sunnah. Jadi ketika dijalankan akan mendapatkan pahala, sementara ketika tidak dikerjakan pun tidak mendapatkan dosa.

Lantas bagaimana tata cara shalat khusuf ?

A. Tata Cara Sholat Gerhana Matahari

Para ulama bersepakat bahawa tidak disyariatkan adzan dan iqamah dalam rangkaian pelaksanaan sholat gerhana. Namun, disunahkan untuk menyeru jamaah untuk melakukan sholat dengan seruan “ash-shalatu jaami’ah”. Adapun tata cara sholat gerhana matahari sebagai berikut:

1. Niat

2. Takbiratul Ihram

3. Membaca doa iftitah yang dilanjutkan Al-Fatihah dan surat lain dengan ayat yang panjang dan suara yang keras

4. Rukuk sambil memanjangkan bacaannya

5. Bangkit dari ruku (itidal)

6. Tidak langsung sujud namun kembali membaca Al-Fatihah dan surat dengan ayat yang lebih pendek

7. Kembali ruku yang bacaannya tidak sepanjang yang pertama

8. Itidal

9. Sujud yang lamanya seperti ruku dilanjutkan duduk di antara dua sujud serta sujud kembali

10. Bangkit dari sujud dan mengerjakan rakaat kedua dengan bacaan dan gerakan seperti sebelumnya namun lebih singkat

11. Salam.

B. Tata Cara Sholat Gerhana Bulan

Sholat gerhana bulan dimulai sejak awak terjadinya gerhana bulan sampai gerhana tersebut. Adapun tata cara sholat gerhana bulan sesuai ajaran Rasulullah SAW sebagai berikut:

1. Niat

2. Takbiratul Ihram

3. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya. Disunnahkan surat yang panjang

4. Ruku’

5. Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri

6. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya. Disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya

7. Ruku’ lagi. Disunnahkan waktunya lebih pendek dari ruku pertama

8. I’tidal

9. Duduk di antara dua sujud

10. Sujud kedua

11. Berdiri lagi (rakaat kedua), membaca surat Al Fatihah dan lainnya

12. Ruku’. Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri

13. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya

14. Ruku’ lagi. Disunnahkan waktu ruku’ lebih pendek dari ruku’ pertama

15. I’tidal

16. Sujud

17. Duduk di antara dua sujud

18. Sujud kedua

19. Duduk Tahiyah akhir.

Pos terkait