LPSK Tuding Gas Air Mata Penyebab Suporter Meninggal Dunia

Hasto Atmojo Suroyo
Ketua LPSK, Hasto Atmojo Suroyo.

JAKARTA, Inisiatifnews.com – Penggunaan gas air mata oleh aparat kepolisian dituding menjadi biang kerok tragedi di Stadion Kanjuruhan yang menewaskan ratusan suporter Arema FC. Hal itu sebagaimana disimpulkan oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK).

Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Hasto Atmojo Suroyo, menyampaikan bahwa penggunaan gas air mata tersebut menimbulkan kepanikan suporter di pintu keluar, sehingga berakhir dengan kematian.

Bacaan Lainnya

“Penggunaan gas air mata telah menimbulkan kepanikan dan konsentrasi massa di pintu keluar, menyebabkan kurang oksigen, sesak napas, lemas, hingga berakhir kematian. Bahkan, kematian ini juga ada ditimbulkan karena terinjak-injak oleh penonton yang lain,” kata Hasto dalam Konferensi Pers, Kamis (13/10).

Selain itu, Hasto juga menyebut bahwa penyelenggara tidak melaksanakan simulasi pengamanan pra pertandingan. Hal ini lah yang kemudian muncul dugaan bahwa penyelenggara tidak siap menghadapi situasi yang terjadi pada Sabtu (1/10) lalu.

“Penyelenggara pertandingan tidak mematuhi peraturan PSSI Pasal 21 dan Pasal 22, ketiga, aparat keamanan tidak mematuhi peraturan FIFA Pasal 19,” ucap Hasto.

Simulasi itu, kata dia, sangat penting untuk menyampaikan kepada aparat kepolisian perihal peraturan FIFA tentang keamanan, dimana salah satunya mengenai larangan membawa ataupun menggunakan senjata api maupun gas, termasuk gas air mata.

“Bahkan, kita mendengar bahwa Kapolres tidak tahu ada larangan itu dari FIFA,” ucap Hasto.

Lebih lanjut, Hasto juga turut menyoroti kondisi pintu stadion yang sempit, sehingga tidak mumpuni sebagai jalur bagi penonton atau massa yang berjumlah besar untuk keluar dari stadion pada waktu yang bersamaan.

“Lebar 2 daun pintu berukuran 1,4 meter dikurangi 5 cm tiang tengah di antara daun pintu,” ucapnya.

Selain itu, Hasto juga mengungkapkan bahwa tidak adanya jalur evakuasi dan sensor asap di dalam stadion.

Terkait pelaksanaan pengamanan, LPSK menyimpulkan bahwa rencana pengamanan yang telah dibuat oleh Polres Malang tidak sepenuhnya terimplementasi dalam praktik di lapangan.

“Kedua, tidak ada satu pun petugas yang berjaga pada setiap pintu saat pertandingan usai. Penumpukan suporter di depan pintu keluar seharusnya terpantau oleh CCTV, namun tidak diikuti dengan upaya membuka pintu secara keseluruhan,” ucap Hasto.

Apabila ada petugas yang berjaga di setiap pintu, Hasto meyakini penonton yang ada di dalam stadion bisa segera dievakuasi atau mengevakuasi diri ketika terjadi penembakan gas air mata.

Pos terkait