JAKARTA, Inisiatifnews – Sejumlah mahasiswa yang mengatasnamakan BEM Seluruh Indonesia (BEM SI) menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Bidakara, Jakarta Selatan.

Dalam aksinya, massa mendesak agar KPU sebagai penyelenggara Pemilu menggelar debat Capres-Cawapres 2019 di lingkungan kampus.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

“Tema hari ini kami ingin debat ke 5 diselenggarakan di Kampus,” kata perwakilan massa aksi, Erpan Kurniawan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) di tengah-tengah aksi, Kamis (17/1/2019).

Ia mengatakan bahwa pihaknya sudah melayangkan surat dua kali kepada KPU untuk melakukan audiensi. Hanya saja ia menyebutkan jika surat permohonan tersebut tidak diindahkan oleh KPU.

“Kami sudah lakukan 2 kali taruh surat ke KPU RI pada hari Jumat kemarin, tapi surat itu ditolak dengan alasan KPU tidak bisa diintervensi oleh siapapun,” terangnya.

Alasan mengapa mereka ingin agar KPU menyelenggarakan debat Capres-Cawapres 2019 di kampus, bahwa debat seharusnya milik rakyat yang harus diuji materi debatnya secara akademik. Dan kampus menurut Erpan adalah representasi dari tempat akademis tersebut.

“Semua ilmuan ada di kampus, semua sumber daya kampus harus dipakai dan diberdayakan. Makanya ilmu-ilmu yang ada di kampus mau kita pertanyakan dan uji ke capres cawapres,” ujarnya.

Sementara untuk surat permohonan audiensi ketiga akan dilayangkan besok pada hari Jumat (18/1) langsung ke KPU. Namun jika sampai upayanya itu masih tidak diindahkan oleh penyelenggara pemilu, ia menegaskan jika pihaknya akan melakukan ultimatum.

“Hari Jumat besok adalah surat ke 3 untuk audiensi dari UNJ. Ketika besok Jumat tidak diterima lagi oleh KPU, maka kita akan ultimatum. Bahwa demokrasi di Indonesia masih belum layak. Kita akan gelar aksi segel KPU,” tegasnya.

Terakhir, dalam aksinya itu mahasiswa juga tampak mengenakan kantong plastik hitam di kepala. Dijelaskan Erpan, bahwa tindakan mahasiswa tersebut sebagai salah satu ekspresi protes bahwa demokrasi yang ada di Indonesia tidak dapat dilihat dengan jelas oleh kaum Mahasiswa.

“Plastik ini ibarat kami diberikan penglihatan tapi kami gelap tidak bisa lihat karena demokrasi tidak bisa dirasakan oleh masyarakat luas dan hanya dirasakan oleh elite saja,” tuturnya.

Aksi tersebut berjalan dengan tertib dan lancar. Pengamanan dari aparat kepolisian pun disiagakan untuk mengawal aksi penyampaian pendapat mereka itu.

Sampai berita ini diturunkan, aksi tersebut sudah selesai dan mahasiswa meninggalkan lokasi dengan tertib. (**)

space iklan