lukman hakim saifuddin
Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin. [net]

Inisiatifnews – Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin menyatakan dukungannya terhadap upaya penegakan hukum pasca salah satu anak buahnya di Kantor Wilayah Kemenag Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) yang tertangkap melakukan tindak pidana korupsi.

“Saya mendukung sepenuhnya aparat penegak hukum untuk menuntaskan penyelidikan kasus tersebut sehingga hukum bisa ditegakkan,” kata Menteri Lukman dalam siaran pers, Minggu (20/1/2019).

Tidak hanya itu, Menteri Lukman juga meminta agar hukuman paling maksimal dapat dijeratkan kepada oknum pegawai Kemenag yang melalukan tindakan pelanggaran hukum tersebut.

“Saya minta ketika yang bersangkutan jelas terbukti bersalah secara hukum, maka yang bersangkutan haruslah mendapatkan sanksi yang seberat-beratnya sesuai dengan hukum dan ketentuan berlaku,” lanjutnya.

Dalam kasus tertangkapnya tiga orang tersangka yang merupakan anak buahnya di Mataram itu, Lukman mengaku sangat sedih dan terkejut.

Namun demikian, ia kembali memberikan pesan kepada seluruh jajaran pegawai Kemenag agar kasus tersebut bisa menjadi pelajaran sehingga tidak dicontoh oleh pegawai lainnya.

“Bagi ASN Kemenag yang lain saya pesankan bahwa kasus ini benar-benar menjadi pelajaran yang sangat berharga. Sekali lagi saya minta seluruh ASN Kemenag untuk menarik pelajaran dan mengambil hikmah dari kejadian ini,” tutur Menag.

Perlu diketahui bahwa Kepolisian Resor Mataram telah melakukan penangkapan terhadap tiga orang oknum pegawai Kemenag. Mereka adalah (BA) adalah pegawai Kanwil Kemenag Kabupaten Lombok Barat, (IK) yang merupakan Kepala Tata Usaha (KTU) Kemenag Lombok Barat, dan (SL) yang merupakan Kepala Sub Bagian Kepegawaian di Kemenag NTB.

“Sudah kita tetapkan tiga orang tersangka, yakni BA, IK, dan SL. SL merupakan Kasubag Kepegawaian di Kemenag Provinsi NTB,” kata Kapolres Mataram, AKBP Saiful Alam, Jumat (18/1/2019).

Masih menurut keterangan Kepolisian, mereka mengutip dana rehab masjid di 13 wilayah. Yaitu 4 masjid di Gunungsari, 4 masjid di Lingsar dan 5 masjid di Batu Layar. Dari pungli itu, mereka mendapatkan lebih dari Rp100 juta.

“SL menyuruh IK dan IK di samping mengambil sendiri juga menyuruh BA. IK memberikan uang hasil pidana kepada SL,” jelasnya.

[]

space iklan