Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD mengimbau seluruh masyarakat Indonesia, khususnya masyarakat Sulawesi Selatan berpartisipasi pada Pilpres 17 April 2019. Menurut Mahfud, pihak yang mengajak golput adalah orang yang putus asa.

“Memilih itu adalah hak konstitusi, dan golput itu orang putus asa. Tidak ada alasan masyarakat untuk golput, karena negara menjamin hak-hak tersebut berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang 1945. Salah satu isinya negara berhak memberikan perlindungan kepada warga untuk bebas memilih,” begitu kata Mahfud dalam forum sarasehan kebangsaan yang digelar Gerakan Suluh Kebangsaan di Phinisi Ballroom, Hotel Claro Makassar, Jalan AP Pettarani, Kota Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (24/1/2019).

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) ini menyinggung generasi milenial yang berpotensi tidak memberikan hak pilihnya dalam pemilu. Karenanya, dia meminta elite politik menjadi contoh yang baik untuk anak-anak muda. Supaya generasi milenial ini tak apatis.

“Berdasarkan penelitian, milenial itu punya sikap politik. Milenial yang menentukan arah politiknya sekitar 82 persen. Akan tetapi, generasi milenial inilah yang justru berpotensi tidak memilih karena tak mampu melawan kemalasannya,” ingat Mahfud.

Mahfud yang juga Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini mengingatkan, pesta demokrasi lima tahunan sekali ini adalah tanggungjawab dalam berbangsa dan bernegara. Dengan partisipasi lewat pemilu, masyarakat berhak mengawal dan mengkritisi kerja pemimpin.

Yang paling utama, tambah Mahfud, perbedaan pilihan tidak berarti saling bermusuhan. Selain itu, semua pihak hendaknya tak gampang percaya dan mudah terprovokasi apalagi sampai terpecah belah karena berita hoaks. Masyarakat wajib berusaha mencari kebenaran informasi yang beredar. “Demokrasi itu tanggung jawab, dan menyalurkan suara di pemilihan umum itu adalah tanggung akibat. Bijaklah dalam mencari dan menyebarkan informasi,” imbau Anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

Baca juga :  Mahfud MD : Abdul Somad Tak Harus Minta Maaf

Selain Mahfud, hadir pula Guru Besar UIN Alauddin Makassar Prof Qasim Mathar, Guru Besar Unhas Prof Nurhayati Rahman, Ketua Muhammadiyah Sulse Prof Dr Ambo Asse, Ketua MUI Sulsel KH Dr Sanusi Baco Lc Ketua, dan rohaniawan Romo Benny Susetyo Pr.

Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Sulsel, Asmanto Baso Lewa mengungkapkan, persoalan golput memang tengah mendapatkan perhatian serius oleh pemerintahan Provinsi Sulsel. “Saat ini kami mengupayakan sebuah cara untuk menyadarkan masyarakat agar ikut serta dalam pesta demokrasi yang tidak lama lagi. Forum seperti ini sangat penting untuk menyadarkan kita bersama. kita berharap ada forum seperti ini untuk mengedukasi masyarakat,” ujar Asmanto

Akademisi Unhas yang juga budayawan Sulsel, Nurhayati Rahman mengaku, forum yang menghadirkan tokoh nasional sekelas Mahfud MD dapat menjadi suluh bagi persoalan-persoalan yang tengah dihadapi masyarakat. Terutama situasi dan kondisi masyarakat menjelang Pilpres 2019 di mana banyak berita hoaks yang semakin menghangatkan situasi. “Kegiatan seperti ini sangat penting untuk gerakan membanguan ruang kesadaran untuk tidak meninggalkan nilai kearifan-kearifan kecil kita di tengah serbuan berita bohong di internet,” kata Nurhayati.

Baca juga :  Mahfud MD Desak Penyulut Kerusuhan Papua Ditindak Tegas

Gerakan Suluh Kebangsaan

Srasehan Gerakan Suluh Kebangsaan dikemas dalam diskusi kreatif dan interaktif ini rencananya berlangsung di 10 kota di Indonesia. Gerakan perdana berlangsung di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tujuan gerakan suluh kebangsaan adalah untuk mengajak elemen masyarakat membangun kesadaran berbangsa, dan bernegara yang Berbhinneka Tunggal Ika dengan meningkatkan toleransi dan memperluas esensi keadilan sosial di Indonesia.

Awalnya, gerakan ini digagas Mahfud MD bersama putri Presiden Gus Dur Alissa Wahid, Roni Beny Susetyo, dan Ajar Budi Kuncoro yang prihatin dengan maraknya potensi perpecahan dari berbagai kelompok bangsa. Seperti maraknya politik identitas, saling serang antar kelompok dan saling mengklaim kebenaran serta penjaga identitas primordial yang sama.

Selain itu, yang tengah berlangsung saat ini adalah kecenderungan kontestasi untuk mencari menang dan bukan mencari yang baik. Sementara diam-diam radikalisme menumpang dan mengadu domba melalui produksi berita-berita hoax.

Gagasan gerakan suluh kebangsaan mendapatkan dukungan yang sangat besar dari para tokoh seperti Buya Syafii Maarif, KH Mustofa Bisri (Gus Mus), Ibu Nyao Shinta Nuriyah, Sri Sultan HB X, Romo Magnis Suseno, Prof Komarudin Hidayat, Prof John Titaley, Budayawan Garin Nugroho, Wartawan Senior Rikard Bagun, aktivis gerakan perempuan Siti Ruhaini Dzuhayatin dan tokoh-tokoh lain. (FAQ)

space iklan