indonesia barokah
Tabloid Indonesia barokah. [net]

Inisiatifnews – Direktur eksekutif Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai bahwa tabloid Indonesia Barokah merupakan media propaganda yang dikategorikan negative campaign bukan black campaign.

“Kampanye negatif, karena tabloid ini menyampaikan sisi negatif salah satu kandidat Pilpres namun dengan fakta,” kata Karyono dalam sebuah diskusi di Hotel Peninsula, Slipi, Jakarta Pusat, Rabu (30/1/2019).

Statemen ini juga disampaikan Karyono dengan membandingkan tabloid Obor Rakyat yang sempat keluar saat Pilpres 2014 silam, dimana konten yang dimuat cenderung berisi konten hoaks dan fitnah.

Maka Obor Rakyat dikatakan Karyono lebih dikategorikan sebagai black campaign. Sementara tabloid Indonesia Barokah lebih dikategorikan negatif campaign karena hanya berisi pemberitaan berat sebelah namun tetap menggunakan data dan fakta sebagai rujukan karya mereka.

“Sementara kasus Obor Rakyat penuh konten kebencian, hate spech, juga serangan fisik, terutama ke Joko Widodo,” tuturnya.

Perlu diketahui bahwa Dewan Pers telah menyimpulkan bahwa tabloid Indonesia Barokah bukan merupakan produk jurnalistik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Maka dari itu, Ketua Dewan Pers Yosep Adi Prasetyo mempersilahkan kepada siapapun yang merasa dirugikan atas terbitan tabloid tersebut untuk menempuh jalur hukum lain dalam memperkarakannya.

“Pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh Indonesia Barokah dipersilakan menggunakan UU lain di luar UU 40/1999 tentang Pers, karena dilihat dari sisi adminitrasi dan konten, Indonesia Barokah bukan pers,” kata Yosep yang juga karib disapa Stanley itu dalam keterangannya, Selasa (29/1).

Baca juga : Soal Indonesia Barokah, Mahfud MD : Proses Hukum Jika Terbukti Berisi Fitnah

Kajian Dewan Pers juga menyatakan bahwa tulisan dan konten dalam rubrik laporan utama dan liputan khusus hanya memuat beberapa pernyataan dari narasumber yang telah dimuat oleh media siber lain.

Apa itu Black Campaign dan Negative Campaign ?

Seperti yang pernah dikatakan oleh pakar hukum Prof Mahfud MD, bahwa perbedaan black campaign dan negative campaign berada pada isi atau kontennya.

Dimana black campaign hanya berisi fitnah dan kebohongan yang dialamatkan kepada pihak lawan. Sementara negative campaign hanya berisi konten negatif yang diungkapkan untuk mendagradasi lawan namun tetap menggunakan data yang faktual.

“Black campaign adalah kampanye yang penuh fitnah dan kebohongan tentang lawan politik. Negative campaign adalah kampanye yang mengemukakan sisi negatif/kelemahan faktual tentang lawan politik. Negative campaign tidak dilarang dan tidak dihukum karena memang berdasar fakta. Yang bisa dihukum adalah black campaign,” kata Mahfud lewat Twitternya, Senin (15/10/2018).

Mahfud lalu memberi contoh apa yang dimaksud negative campaign dan black campaign.

“Kalau Anda bilang bahwa Jokowi PKI atau bilang bahwa Prabowo terlibat ISIS, itu adalah black campaign. Tapi kalau Anda bilang Jokowi kerempeng atau bilang Prabowo dulu kalah terus dalam pilpres, maka itu negative campaign. Black campaign bisa dipidana, negative campaign bisa dilawan dengan argumen,” ucapnya.

[ibn]