Inisiatifnews – Komunitas seni Kuaetnika besutan seniman Djaduk Ferianto, Butet Kartaredjasa, dan Purwanto meluncurkan album baru lewat konser bertajuk Sesaji Nagari.

Konser Sesaji Nagari yang diaransemen oleh Djaduk dan Kuaetnika berlangsung di Concert Hall Taman Budaya, Yogyakarta, Minggu (10/03/2029). Konser ini didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation & BNI 46.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Konser mempersembahkan lagu-lagu baru dari berbagai daerah di NKRI seperti Sesaji Nagari, Ulan Andung-Andung, Batanghari, Kadal Nongak, Lalan Belek, Doni Dole, Anak Khatulistiwa, Made Cenik, Sigule Pong dan Air Kehidupan.

Hadir dalam konser Sesaji Nagari ini mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD. Djaduk meminta semua penonton berdoa bersama untuk keutuhan NKRI dan meminta Mahfud memimpin doa.

Dalam doanya, Mahfud yang juga Ketua Dewan Pembina MMD Initiative ini berharap Indonesia kembali bersatu setelah pemilu. “Memohon kepada Allah agar bangsa Indonesia kembali bersatu setelah pemilu 17 April mendatang. Untuk bersama menyatukan langkah membangun negara ini,” begitu untaian doa yang dibacakan Mahfud.

Baca juga :  Mahfud Ingatkan Bahaya Demokrasi Jual Beli

Setelahnya, Djaduk meminta Mahfud memotong tumpeng sebagai simbol sesaji untuk negeri.

Djaduk menyebut, ragam budaya Indonesia dapat dilihat hampir di setiap daerah yang ada di Indonesia, terutama musik daerahnya. Setiap daerah memiliki alat musik khas dengan bentuk dan bunyi-bunyian unik yang membedakan satu dengan daerah lainnya.

Sayangnya, seiring berjalannya waktu, nada dan melodi indah ini semakin ke sini semakin jarang terdengar di telinga, khususnya generasi muda.

“Berangkat dari hal tersebut, kami mencoba melakukan inovasi dengan menyajikan aransemen dan memadukan musik tradisi dan menambahkan unsur modern. Kami berharap, inovasi yang kami lakukan dapat menyelaraskan semangat ke-Indonesia-an dari ujung barat hingga ujung timur, merekatkan kembali apa yang disebut Indonesia dan mengingat kembali menjadi orang Indonesia yang menghargai keberagaman,” ungkap Djaduk.

Baca juga :  Mahfud Ingatkan Bahaya Demokrasi Jual Beli

Didirikan pada tahun 1996, Kuaetnika dibentuk sebagai upaya dialog di dalam bermusik, menafsirkan kembali musik-musik tradisi dengan semangat inovasi sehingga dapat dinikmati dalam nuansa berbeda dan menggugah selera generasi milenial.

Sekadar diketahui, dalam perjalanannya, Kuaetnika telah mengeluarkan beberapa album musik sekaligus menggelar konser. Seperti Nang Ning Nong Orkes Sumpek (1996), Ritus Swara (2000), Unen Unen (2001), Many Skyns One Rhythm (2002), Pata Java (2003), Raised From The Roots, Breakthrough Borders (2007), Vertigong (2008), Nusa Swara (2010), dan Gending Djaduk (2014). Berbagai festival internasional juga telah diikuti Kuaetnika. (FMQ)

space iklan