Inisiatifnews – Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) terus bergulir. Kali ini GSK mampir di Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung. Aula Universitas Parahyangan membludak dipenuhi oleh generasi milenial dari berbagai perguruan tinggi dan universitas di Bandung.

Hadir sebagai pembicara Ketua GSK, Prof. Mahfud MD, Sekjen GSK yang juga putri Presiden Gus Dur Alissa Wahid, stand up comedian milenial Arie Kriting dan Andreas Doweng, Ketua Pusat Studi Pancasila Unpar.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Sesuai tajuk diskusi ini, Milenial dan Partisipasi Politik, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) dalam keynote speech-nya mengimbau milenial menggunakan hak pilihnya dengan mencoblos pada pemilu serentak Rabu 17 April 2019 mendatang.

Sebab, pemilu akan tetap melahirkan pemimpin dan wakil-wakil rakyat, berapapun jumlah pemilihnya. “Kalau generasi milenial tidak memilih, bisa-bisa yang terpilih nanti orang-orang yang tidak baik dan tak bisa menyerap aspirasi kaum milenial. Gunakan hak pilihmu untuk turut mewarnai perjalanan kepemimpinan politik lima tahun ke depan. Jangan sampai terpilih yang terjelek dari calon-calon yang ada,” kata Mahfud yang juga dewan Pembina MMD Initiative ini di Aula Unpar Bandung, Kamis (11/04/2019).

Baca juga :  Mahfud Ingatkan Bahaya Demokrasi Jual Beli

Mahfud kembali mengingatkan kepada generasi milenial untuk tidak alergi dengan politik. “Jangan alergi dengan politik. Saya mendengar anak milenial 13 juta tidak akan memilih. Sempatkan waktu setengah jam untuk memilih karena memilih atau tidak 575 DPR akan terisi. Saudara tidak memilih di Pilpres maka Presiden akan tetap dipilih. Rugi jika kita tidak memilih,” ingatnya lagi.

Selain mengajak untuk memilih, Mahfud kagum dan berterimakasih kepada rektor dan seluruh civitas akademika Unpar. “Ini Universitas Katolik tapi inklusif terhadap Pancasila, mahasiswanya banyak yang muslim bahkan ketua BEM-nya juga ada yang muslim, namun tidak ada resistensi,” puji Mahfud.

Mahfud mengingatkan, masa depan republik ini ada di tangan kaum milenial. Karenanya, milenial harus menjadi baris terdepan untuk mensyukuri kemerdekaan dengan tetap menjaga keutuhan NKRI di tengah berbagai perbedaan yang ada.

“Dulu saya hidup di desa kecil dan keluarga miskin tapi saya hidup saat Indonesia merdeka. Kata Bung Karno, kemerdekaan adalah jembatan emas di mana setiap orang memiliki kesempatan yang sama. Karena merdeka, saya bisa menjadi menteri, anggota DPR, Ketua MK. Karenanya NKRI ini harus terus dijaga. Jangan terpecah,” ungkap eks Menteri Pertahanan era Presiden Gus Dur ini.

Baca juga :  Mahfud Ingatkan Bahaya Demokrasi Jual Beli

Sementara Alissa menyoal banyaknya kaum milenial yang alergi terhadap politik. Namun, dia mengingatkan, alergi kepada politik tidak serta merta diartikan tidak ikut memilih dalam pemilu. “Banyak anak muda putus asa, gemes melihat politikus, tikusnya banyak. Karenanya, milenial harus memilih pemimpin yang berintegritas. Sebab siapapun yang terpilih pasti akan berpengaruh buat kita,” imbaunya.

Dia mengimbau, milenial melihat rekam jejak dan keberpihakan calon-calon yang ada kepada kemanusiaan. Selain itu, yang paling penting adalah siapapun yang terpilih, harus diterima dengan fair. “Jangan pakai hati, jagan terlalu baper. Tanggal 17 April bukan hari kiamat. Misalnya pilihan kita gak menang, Indonesia berakhir. Bukan dan jangan seperti itu,” tandas Alissa. (RMN/FMV)

space iklan