Inisiatifnews – Kegiatan Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD tak melulu mengajar dan mengisi seminar. Adakalanya ia menghabiskan waktu bersama keluarga, kulineran dan kegiatan santai lainnya.

Salah satunya tadi malam, Mahfud MD nonton teater bertajuk “Para Pensiunan 2049” di Ciputra Artpreneur Theatre, Jakarta, yang dibesut oleh seniman Djaduk Ferianto. Mahfud MD sangat antusias menonton adegan demi adegan yang diperankan kelompok Teater Gandrik. Kebetulan tema dan isinya soal kritik sosial dunia politik dan korupsi.

“Wah asyik, bagus. Semalam nonton pentas Teater Gandrik di Ciputra Artpreneur Theatre dalam lakon PARA PENSIUNAN: 2049. Lucu dan menyegarkan, tapi padat berisi dengan nasihat dan kritik sosial yang sangat aktual, kekinian termasuk masalah politik dan pemilu. Banyak sindiran tapi tidak menyakitkan,” kicau Mahfud menceritakan pengalamannya nonton teater dalam akun Twitter @mohmahfudmd.

Mahfud MD bersama Kepala Bekraf Triawan Munaf usai menonton Teater Gandrik

Mahfud pun memuji seluruh tim Teater Gandrik yang telah berhasil mengangkat kritik sosial dan politik dalam balutan humor.

“Ada nasihat kepada para koruptor & keluarganya, tapi disampaikan dengan humor. Ada juga narasi-narasi dan pemiripan aktor-aktor politik terkini tanpa merendahkan. Semua mendapat sindiran, nasihat dan oksigen spiritual. Salut untuk Butet, Susilo Nugroho, Djaduk, dan Agus Noor. Ingin nonton lagi,” kicau Mahfud selanjutnya.

Baca juga :  Naik Kereta Bandung-Jakarta, Mahfud MD: Tak Kalah Dengan Kereta Jepang

UU Pelakor Jenazah Koruptor Dipersulit untuk Dikubur

Dalam lakon ini, Teater Gandrik menyuguhkan cerita yang menyentil kondisi sosial politik dibalut dengan humor. Hampir 2,5 jam, adegan demi adegan, sukses membuat penonton tersenyum dan tertawa nyinyir lewat dialog renyah, segar, serta jenaka.

Kelompok teater asal Yogyakarta ini menyajikan tema kematian dan korupsi. Diceritakan lakon pensiunan yang sangat berkuasa di negara antah berantah, meninggal dunia. Pensiunan ini bernama Doorstoot (Butet Kartaredjasa). Saat meninggal, jenazahnya tak bisa dikubur jika tak ada Surat Keterangan Kematian yang Baik (SKKB) dan Surat Izin Meninggal (SIM).

Aturan ini tertulis dalam Undang-undang Pemberantasan Pelaku Korupsi (Pelakor). Tujuannya membuat koruptor jera. Jenazah Doorstoot gelisah dan menuntut kepada Kerkop (Susilo Nugroho) untuk segera dikubur.

Gegara aturan dalam UU Pelakor ini, banyak para pensiunan lain, pensiunan jenderal, politisi, pejabat sampai hakim, bertambah gelisah menunggu akhir hayatnya. Jangan-jangan mereka juga bernasib seperti Doorstoot. UU Pelakor digugat oleh arwah gentayangan Doorstoot. Aturan ini dianggapnya kriminalisasi dan penistaan terhadap jasa para pensiunan.

Baca juga :  Wacana Presiden Satu Periode 8 Tahun, Ini Penjelasan Mahfud MD

Guyonan, sindiran halus, hingga plesetan blak-blakan para pemain terasa sesuai dengan konteks sosial politik di Tanah Air saat ini. Lakon yang dibawakan Teater Gandrik ini adalah naskah saduran dari mendiang Heru Kesawa Murti di tahun 1986 yang ditulis ulang Agus Noor.

Sebelum fix dipentaskan, naskah tulisan Agus Noor digodok ulang oleh Tim Teater Gandrik. Akhirnya diubah total karena naskah Agus Noor terlalu frontal. “Naskah ini latar awalnya di Indonesia, tapi karena kami ketakutan betul masuk Cipinang, masa saya atau Butet ikut-ikutan masuk Cipinang. Bongkar naskah, setting di negara antah berantah. Visual kostum juga perpaduan gaya klasik Eropa, China, Mesir, dan lain-lain,” terang sutradara ‘Para Pensiunan 2049’, Djaduk Ferianto sembari terkekeh.

Butet Kartaredjasa menyebut, Teater Gandrik mengajak penonton ‘menertawakan’ kondisi bangsa termasuk drama klaim presiden-presidenan hingga kelakar Pemilu 2019 yang sedang terjadi. “Ada banyak pesan yang disampaikan lewat lakon ini. Korupsi, moralitas, Pilpres, dan segala perubahan yang cukup menarik,” ujar Butet. (FMB)