Mahfud MD bersama Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Musthafa Abu Bakar, Adnan Ganto, Syafzen Nurdin saat acara berbuka puasa bersama masyarakat Aceh di Jakarta, Rabu (08/05/2019).

Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD berbuka bersama dengan masyarakat Aceh di Ibu Kota. Sejumlah tokoh dan masyarakat Aceh yang hadir tak mempersoalkan frasa “garis keras” serta menyambut baik dan mengapresiasi Mahfud MD.

Usai tarawih, Mahfud MD diberi kesempatan berceramah dalam acara yang diselenggarajan DPP Taman Iskandar Muda (TIM) Jakarta di Gedung Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Rabu (08/05/2019) malam.

Hadir dalam acara ini Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, tokoh-tokoh Aceh di Jakarta seperti mantan Menteri BUMN Musthafa Abu Bakar, Banker Imternasional Adnan Ganto, mantan Dubes RI di Baghdad Syafzen Nurdin, mantan Wakil Ketua MPR Farchan Hamid, anggota DPR-RI dari Aceh Nasir Djamil dan Teuku Riefky Harsa serta puluhan tokoh dan masyarakat aceh lainnya.

Baca juga :  Gerakan Suluh Kebangsaan Imbau Elit Politik Tahan Diri, Jangan Terprovokasi Penumpang Gelap

Dalam ceramahnya, Mahfud berbicara tentang implementasi filsafat puasa menurut konsep Imam Ghazali dalam bernegara dan bermasyarakat. Dikatakannya, rakyat, pemerintah, dan ulama harus melakukan ibadah puasa khusus yang paling khusus, bukan hanya puasa awam semata.

Sebab, kata Mahfud, rakyat suatu negara rusak jika pemerintahnya rusak, pemerintah rusak jika ulamanya rusak, dan ulama rusak jika cinta jabatan dan harta.

“Oleh sebab itu semuanya harus berpuasa khusus paling khusus, yakni tak hanya menahan makan dan minum, syahwat saja. Menahan pendengaran, penglihatan, dan omongan disertai fokus untuk selalu berkonsultasi dengan Allah. Adapun dalam kehidupan bermasyarakat maka setiap kita harus peduli terhadap kaum dhu’afa,” terang Mahfud.

Dalam kesempatan itu, Mahfud yang termasuk salah seorang cendikiawan muslim yang acap diundang berceramah oleh Taman Iskandar Muda (TIM) Jakarta ini juga menyinggung tentang istilah “garis keras” yang sempat dikaitkan dengan masyarakat Aceh. Diterangkan Mahfud, menurut definisi ilmu yang berlaku secara internasional, garis keras itu justru bagus.

Baca juga :  Puji Tim Hukum BPN, Mahfud MD: Kalau Sudah Ke MK, Terima Apapun Hasilnya

“Garis keras adalah kuat pendirian, berprinsip dan tidak mau mengkompromikan prinsip dengan keperluan atau kepentingan politik jangka pendek. Penganut garis keras bukan radikal atau ekstrem melainkan tak mudah terpengaruh oleh kampanye atau propaganda politik,” terang Mahfud yang juga Ketua Dewan Pembina MMD Initiative ini.

Dalam sambutannya, Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menegaskan, masyarakat Aceh sendiri tidak ada kesan negatif atas pernyataan Mahfud MD tentang istilah garis keras yang tempo hari ramai jadi perbincangan tersebut. “Pernyataan Prof. Mahfud itu biasa saja, clear and clean,” kata Gubernur penerus Irwandi Yusuf tersebut. (FMV)