Inisiatifnews – Eksponen aktivis 98, Muhammad Syafiq Alielha menilai bahwa populisme Islam yang saat ini tengah berkembang justru menjadi bagian dari penyebab demokrasi terdistorsi.

“Populisme agama, politisasi agama itu sebetulnya distorsi demokrasi,” kata pria yang karib disapa Savic Ali itu dalam sebuah diskusi di bilangan Kemang, Jakarta Selatan, Senin (13/5/2019).

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Alasan mengapa populisme Islam atau politisasi agama menjadi bagian dari perusak demokrasi, karena bagian dari mereka tidak memandang seluruh rakyat Indonesia pasti sama derajatnya dengan mereka. Salah satu yang paling kentara menurut Savic adalah narasi tolak pemimpin kafir dalam urusan mencari pemimpin pemerintahan.

“Karena dari mereka tidak semua yang menganggap semua rakyat Indonesia setara, misal orang non muslim tidak sama dengan mereka. Karena ada narasi jangan mau dipimpin oleh orang Kafir, ini kan jelas distorsi yang sangat kasar dan jelas,” tegasnya.

Selain politisasi agama atau populisme Islam, Savic juga menilai oligarki kekuatan orde baru dan perilaku koruptif juga menjadi bagian yang tak kalah penting mendistorsi demokrasi.

Padahal jika dilihat dari pemahamannya, demokrasi menurut Savic sejatinya adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat.

“Ada kekuatan oligarki. Dia mendistorsi demokrasi, itu dalam konteks dari rakyat. Dan oleh rakyat kita ada persoalan yakni banyaknya korupsi yang mendistorsi demokrasi,” terangnya.

Pun demikian, Direktur NU Online itu menilai bahwa demokrasi sudah sangat baik jika dibandingkan dengan era rezim orde baru dimana Presiden Soeharto memimpin.

Namun ia menegaskan demokrasi sejauh ini masih belum sempurna.

“Demokrasi ini lebih baik dibandingkan orde baru, jelas. Tapi pakah sudah sempurna, jelas belum. Karena ada distorsi demokrasi itu,” tutupnya.

[IBN]

space iklan