Sangap Subakti
Ketua Gerakan Daulat Rakyat, Sangap Subakti. [foto : Inisiatifnews]

Inisiatifnews – Sejumlah orang yang mengatasnamakan Gerakan Daulat Rakyat menggelar aksi unjuk rasa di depan gedung Bawaslu RI.

Tujuan mereka aksi bukan untuk mendukung lembaga pengawas pemilu itu untuk berlaku adil dan tegas dalam pemilu 2019, melainkan hanya untuk mendelegitimasi Bawaslu.

“Kami ke mari tidak mau mengadu, salah kalian kalau menganggap kami mau mengadu karena kami bukan kontestan (pemilu). Kami ke sini mau mendelegitimasi. Kami mau katakan kepada publik bahwa lembaga dan orang-orang di dalam sini tidak layak dipercaya,” kata Ketua Gerakan Daulat Rakyat, Sangap Subakti dalam orasinya di atas mobil komando, Rabu (15/5/2019).

Bahkan Sangap pun menantang kepada aparat penegak hukum untuk menjeratnya dalam tuduhan apapun termasuk makar. Ia mengklaim tidak akan mundur jika memang harus disandangkan tuduhan tersebut.

“Pakailah semua UU dan aturan yang merepresif kami demi kami berhenti. Apakah kami akan berhenti, tidak, kami tidak ada sejarah mundur meskipun kami dihadapkan dengan peluru,” tegasnya.

Baca juga :  Puji Tim Hukum BPN, Mahfud MD: Kalau Sudah Ke MK, Terima Apapun Hasilnya

Sementara dalam kesempatan yang sama, juru bicara Gerakan Daulat Rakyat, Edysa Tarigan Girsang menegaskan bahwa saat ini negara sudah abai dalam tugasnya sesuai dengan amanat Undang-undang.

“Negara tugasnya adalah melindungi segenap tumpah darah dan bangsa Indonesia. (Aparat keamana) jadilah pengayom prajurit-prajurit bangsa Indonesia bukan prajurit pengawal kekuasaan. Kekuasaan hanya 5 tahun maksimul 10 tahun tapi nasib rakyat berpuluh-puluh tahun. Mana yang mereka mau perjuangkan,” kata Edysa.

Tugas lain dari negara juga kata Edysa adalah mensejahterakan kehidupan rakyat. Sayangnya ia menilai sejauh ini kehidupan rakyat Indonesia justru semakin sulit.

“Tugas negara adalah mensejahterakan. Berapa biaya kesejahteraan dan gaji prajurit dan PNS. Berapa gaji jenderal berapa yanf mereka kantongi dari rakyat?. Adilkah bangsa ini untuk rakyatnya,” tegasnya.

Selain itu, aktivis 98 ini juga menyebutkan bahwa tugas negara adalah mencerdaskan bangsanya.

“Tugas negara adalah mencerdaskan kehidupan bangsa,” imbuhnya.

Aksi Gerakan Daulat Rakyat di depan Bawaslu
Aksi Gerakan Daulat Rakyat di depan Bawalu RI dambil membawa ikat kepala dari daun palma dan keranda. [foto : Inisiatifnews]

Masih dalam aksinya itu, salah satu orator bernama Muda Saleh menilai bahwa saat ini Indonesia sedang dihadapkan dengan situasi yang tidak baik. Dimana dalam faktanya, pemilu 2019 justru telah menelan lebih dari 600 korban jiwa.

Baca juga :  Gerakan Suluh Kebangsaan Imbau Elit Politik Tahan Diri, Jangan Terprovokasi Penumpang Gelap

“Indonesia saat ini dihadapkan dengan situasi yang berbahaya, rakyat dihadap-hadapkan. 600 lebih petugas TPS meninggal dunia tapi kita di sini masih leha-leha,” ujar Muda.

Dengan adanya fakta peristiwa demokrasi itu, ia pun mempertanyakan kebahagiaan yang disebut-sebut tengah berlangsung dalam ranah demokrasi di Indonesia itu.

“Mana demokrasi ini yang dikatakan bahagia, padahal kontestannya saja ngamuk-ngamuk,” imbuhnya.

Ia pun mengajak kepada seluruh stakeholder bangsa Indonesia untuk terus mengawal dan mengontrol jalannya demokrasi di Indonesia itu.

“Pemilunya sedih, ekonomi rusak mau gimana lancarkan pemilu. Mari kita bangkitkan semangat kita, ini bukan 01 atau 02 tapi ini soal bangsa Indonesia,” tegas Muda.

“Saya malu dengan teman-teman saya jurnalis di luar negeri, mereka tanya ada apa dengan Indonesia?. Jadi kita harus tegakkan demokrasi di Indonesia,” tutupnya.

[SOS]