Inisiatifnews – Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai satu-satunya lembaga resmi pelaksana pemilu di Indonesia telah menetapkan pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden- nomor urut 01 (Joko Widodo-Ma’ruf Amin) sebagai pemenang Pemilihan Presiden. Kubu Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, calon Presiden-Wakil Presiden 02 menyatakan tidak puas dan akan menempuh jalur konstitusi.

Setelah penetapan KPU tersebut, beberapa hari ini sejumlah kelompok berunjuk rasa baik di depan Gedung KPU maupun di depan Gedung Bawaslu dan menolak hasil yang ditetapkan. Unjuk rasa yang semula berjalan damai, aman dan tertib tiba-tiba berujung kericuhan.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Prabowo sebelumnya sudah menyatakan unjuk rasa adalah aksi damai untuk menyuarakan aspirasi menolak hasil Pilpres 2019. Prabowo juga sudah menegaskan imbauannya agar dalam unjuk rasa para pengikutnya menahan diri, tidak melanggar hukum, tidak melakukan kekerasan fisik, dan berlaku santun terhadap para petugas keamanan.

Sayang, seperti diketahui bersama, situasi semakin tidak kondusif. Dari mulai Selasa (21/05) hingga Kamis (23/05) dini hari, terjadi pengrusakan, pembakaran, dan beberapa kali bentrokan antara pengunjuk rasa dengan petugas keamanan yang dipicu oleh aksi oknum-oknum massa yang memprovokasi ke arah anarkisme. Ratusan korban luka dan sejumlah orang meninggal dunia. Lewat media sosial, Prabowo pun sangat tegas dan sempat meminta pendukungnya pulang.

Baca juga :  Mahfud MD Pernah Batalin UU BHP Yang Berpotensi Ancam Kelangsungan Ponpes

Melihat situasi ini, Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan Prof. Moh. Mahfud MD meyakini ada penyusup dan penumpang gelap yang dengan sengaja mencoba mengail di air keruh dengan membuat kerusuhan.

Kelompok ini, kata Mahfud, memiliki agenda yang berbeda dengan kelompok aksi damai dan dinilainya bukan bagian dari gerakan yang menyuarakan aspirasi menolak hasil Pilpres 2019.

“Hal ini ini sudah membahayakan bangsa dan negara Republik Indonesia, menimbulkan rasa tidak aman kepada masyarakat, dan mengurangi kepercayaan terhadap Negara,” tandas Mahfud pada konferensi pers Gerakan Suluh Kebangsaan bersama tokoh lintas ormas di Seratus Cafe Century Park Hotel, Senayan, Jakarta, Kamis (23/05).

Selain itu, ditambahkan Mahfud, narasi bela umat yang diusung oleh pengunjuk rasa adalah klaim pribadi dan kelompok. Narasi ini tidak dapat dipandang mewakili kepentingan umat Islam di Indonesia secara keseluruhan. Begitu pula dengan agenda menolak hasil pilpres, hal itu juga tidak berkaitan langsung dengan masa depan umat Islam di Indonesia.

“Kami menolak tegas tindakan sepihak yang mengatasnamakan umat Islam di Indonesia,” kata Mahfud.

Mewakili sejumlah tokoh bangsa dan ormas, Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan Alissa Wahid mengimbau seluruh pihak menghentikan tindakan anarkisme dan provokasi yang meresahkan serta menyebabkan hilangnya rasa aman dalam seluruh sendi kehidupan bermasyarakat.

Baca juga :  Mahfud MD Pernah Batalin UU BHP Yang Berpotensi Ancam Kelangsungan Ponpes

Pihaknya juga mendukung aparat keamanan bertindak tegas sesuai ketentuan perundangan yang berlaku dalam menghadapi perusuh untuk memulihkan ketertiban dan keamanan bagi masyarakat.

Selain itu, Gerakan Suluh Kebangsaan meminta elit politik menahan diri dari ucapan yang dapat memantik terciptanya ketegangan dan bentrokan antar anggota masyarakat dan menimbulkan polarisasi politik dalam masyarakat yang semakin menguat serta turut aktif meredakan ketegangan yang telah terjadi.

Gerakan Suluh Kebangsaan, lanjut Putri Presiden KH Abdurrahman Wahid ini bersama para tokoh bangsa seperti Shinta Nuriyah, Habib Luthfi bin Yahya, KH. Mustofa Bisri, Prof. Dr. Ahmad Syafi’i Marif, Sri Sultan HB X, Romo Magnis Suseno, Prof. Komarudin Hidayat, dan tokoh lainnya meyakini bahwa semua pihak mencintai bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia.

“Oleh karenanya kami mengajak segenap elite politik, para pemimpin formal dan non-formal, serta segenap lapisan masyarakat untuk mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa. Mari kita jaga bersama NKRI yang sudah diperjuangkan kemerdekaannya oleh para founding fathers. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh,” demikian sikap Gerakan Suluh Kebangsaan yang dibacakan. (FMM)

space iklan