Rektor UIN Yogyakarta Prof. Yudian Wahyudi bersama sejumlah rektor di lingkungan perguruan tinggi Yogyakarta saat menginisiasi rekonsiliasi nasional. (Foto ; uin-suka.ac.id)

Inisiatifnews – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. KH. Yudian Wahyudi mengajak sejumlah Rektor Perguruan Tinggi di Yogyakarta untuk menyerukan untuk rekonsiliasi nasional usai pasca penyelenggaraan Pemilu 2019. Seperti diketahui, dua pasangan capres-cawapres Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno belum bertemu hingga kini sejak 17 April lalu. Situasi dan kondisi politik juga masih menghangat.

Sejumlah Rektor Perguruan Tinggi Yogyakarta ini berharap, Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Sri Sultan Hamengkubuwono (HB) X bersedia menjadi inisator rekonsiliasi kedua kubu. Sebab Sultan adalah tokoh nasional yang netral dan tidak memiliki kepentingan di Pilpres.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

“Saya berharap dari Yogyakarta ini dapat mendorong rekonsiliasi nasional. Kita meyakini Sri Sultan HB X sebagai Raja, sekaligus tokoh nasional yang dianggap sesepuh pastilah didengar suaranya untuk mendamaikan kedua kubu pasangan calon Pilpres,” ungkap Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Prof. Sutrisno Wibawa di Kampus UIN Sunan Kalijaga belum lama ini.

Selain Rektor UIN Sunan Kalijaga dan Rektor UNY, hadir Rektor UGM Prof. Panut Mulyono, Rektor UPN Veteran Yogyakarta Prof. Muhammad Irhas Effendi, Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Yogyakarta Prof. Purwo Santoso, dan Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) Prof. Fathul Wahid.

“Hanya saja, harus dijaga, beliau Sri Sultan tampil bukan sebagai Gubernur DIY, harus sebagai Raja Yogyakarta. Karena kalau sebagai gubernur akan dicurigai sebagai kepanjangan tangan dari Pak Jokowi,” tambah Prof. Sutrisno.

Sedangkan Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Yudian Wahyudi menegaskan, rekonsiliasi nasional perlu segera dilakukan untuk meredam dan mencegah konflik meluas di akar rumput. Dia mengajak seluruh elite politik mengambil peran dan menjadi contoh perdamaian.

“Para elite mohonlah menjadi contoh. Pemilu, Pilpres ini hanya proses mengganti pejabat presiden dan wakil presiden, bukan soal hidup dan matinya bangsa Indonesia atau Republik ini. Yang termahal adalah persatuan yang dibangun oleh konsensus,” imbaunya.

Prof. Yudian Wahyudi menambahkan, tempat rekonsiliasi dapat dilakukan di Keraton Yogyakarta. Menurutnya, inilah tempat yang paling tepat. Selain itu, pertemuan kedua kubu ini mestinya disegerakan, apalagi saat ini masih dalam suasana halal bi halal usai Hari Raya Idul Fitri 1440 Hijriah.

“Kita minta mudah-mudahan terjadi halal bi halal dari puncak. Pak Jokowi dan Pak Prabowo, Ngarso Dhalem bukan sebagai Gubernur DIY tapi Raja Yogyakarta rekonsiliasi di Keraton Yogyakarta yang netral,” sarannya.

Apalagi, sambung Prof. Yudian Wahyudi, Prabowo masih memiliki hubungan keluarga dengan Keraton, sementara Jokowi berasal dari Solo. Karenanya, ia merasa rekonsiliasi akan lebih mudah terselenggara di tempat ini. Jika benar-benar terlaksana, ini akan semakin memperkuat bukti bahwa agama dan keraton-keraton nusantara berperan mempersatukan bangsa selama ini. (FMM)

space iklan