anies
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat berdialog dengan warga di TransJakarta.

Inisiatifnews – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus gencar menekan masyarakat untuk beralih ke Transportasi umum dengan berbagi kebijakan yang dibuat salah satunya sistem Ganjil Genap.

Sayangnya, pemerintah sendiri belum siap memberikan keamanan dan kenyamanan kepada masyarakat yang menaiki kendaraan umum seperti TransJakarta dan KRL.

NH pelajar SMK menjadi korban pelecehan seksual di dalam kereta. Di mana pelaku Hengki (27) meraba bagian payudara korban beberapa waktu lalu di Stasiun Klender, Jakarta Timur. Sontak korban berteriak dan pelaku diamankan oleh security stasiun dan orangtua korban membuat laporan ke Polda Metro Jaya.

Sebab, di dua transportasi umum ini sering terjadi pelecehan seksual karena padatnya di dalam kendaraan yang dimanfaatkan para predator.

Pakar Kebijakan Publik Trubus Rahadiansyah mengatakan, pemerintah kerap membuat kebijakan akan tetapi lupa cara memberikan pelayanan prima kepada para pengguna trasnportasi umum.

“Dalam hal ini kan masyarakat itu dipaksa oleh Pak Anies untuk beralih ke trasnportasi umum, tapi transportasi umumnya sendiri tidak memadai mas tidak ada kenyamanan dan keamanan,” ujar dia kepada wartawan di Jakarta, Minggu (18/8/2019).

Ia menilai dengan adanya beberapa peristiwa itu pemerintah gagal menyediakan transportasi yang memadai. Sebab, peristiwa seperti ini sudah berulang terjadi dan tidak ada penanganan serius dari Pemprov DKI.

“Tidak ada penanganan yang komperhensif. Hingga akhirnya publik yang merasa di rugikan,” ungkap dia.

Lantas Trubus memberikan solusi kepada Pemprov DKI untuk menyediakan KRL untuk para penumpang kelas menengah ke atas. Pasalnya, saat ini KRL semuanya merupakan penumpang dari semua kalangan.

Selain itu, ia juga meminta kepada Pemprov DKI untuk menekan KCI memberikan kereta khusus penumpang wanita. Hal ini dilihat, kurang efektifnya gerbong khusus wanita di setiap kereta listrik.

“Kalau kelas menengah ke atas itu harus ada jalur khusus, karena saya yakin yang kelas menengah ke atas mampu bayar seharga 25 ribu untuk naik kereta. Ini untuk antisipasi agar tidak berjubel penumpang. Terus sediakan juga kereta khusus wanita bukan gerbong untuk wanita,” tegas dia.

Kendati begitu, ia mengingatkan apabila ada kereta khusus wanita maka yang perlu di waspada kepada perempuan yang perilakunya menyimpang.

“Perilaku menyimpang ini juga kan sama jadi predatornya bagi penumpang. Jadi saya harap pemerintah bisa berikan keamanan dan kenyamanan untuk publik yang naikin transportasi umum baik TransJakarta maupun KRL,” tutup dia. []

space iklan