Gerakan Suluh Kebangsaan
Gerakan Suluh Kebangsaan.

Inisiatifnews – Rektor Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Komaruddin Hidayat menilai bahwa sikap masyarakat Papua dalam kerusuhan di Papua Barat bukan hanya sekedar persoalan ekonomi, melainkan persoalan harga diri mereka sebagai manusia dan bangsa Indonesia.

“Bahwa (kasus Papua) ini bukan soal ekonomi tapi soal dignity atau harga diri,” kata Komaruddin Hidayat di Jakarta beberapa waktu yang lalu.

Ia juga menyinggung tentang mengapa para pejuang kemerdekaan rela berkorban harta benda bahkan nyawa untuk merebut kedaulatan Indonesia dari tangan penjajah bangsa asing.

“Orang rela menderita berjuang demi harga diri. Nenek moyang kita memperjuangkan kemerdekaan itu rela karena ada dignity di dalamnya,” ujarnya.

Maka dari itu, mantan rektor UIN Syarif Hidayatullah tersebut mengajak semua pihak untuk melihat bangsa Papua yang juga disebutnya sebagai ras melanesia, ras tertua di bumi nusantara itu sebagai sesama manusia dan sebangsa, sehingga tidak ada lagi bangsa Indonesia lainnya yang melukai mereka akan tetapi semakin memperkokoh rasa persaudaraan dengan mereka.

“Mari kita jangan lukai papua, kita rajut kembali persaudaraan antar kita,” tegas Komaruddin.

Lebih lanjut, Komaruddin juga memberikan pandangan kepada seluruh pihak untuk kebhinekaan bukan hanya sekedar narasi dan pujian semata, melainkan harus dielaborasi dengan sikap yang nyata yakni bagaimana antar sesama yang sudah fitrahnya berbeda-beda itu bisa saling peduli dan mewujudkan rasa keadilan yang nyata. Jika tidak, justru kebhinnekaan itu akan membawa petaka.

“Kebhinnekaan itu ternyata tidak cukup dipuji-puji. Kebhinnekaan ini punya potensi konflik. Di era digital dan liberal kalau tidak dirawat baik-baik dengan keadilan dan empati, maka kebhinneakaan kita akan menguras energi,” tuturnya.

Terakhir, Komaruddin meminta lagi agar sebagai sesama anak bangsa agar tetap menjaga persaudaraan termasuk dengan masyarakat Papua. Jika tidak, kerugian bukan hanya Papua saja yang merugi bahkan seluruh bangsa Indonesia.

“Kalau kita ribut yang repot bukan hanya Papua tapi kita semua dan mari rajut kebersamaan dan kebhinnekaan kita,” tutupnya. []

space iklan