Ketua Umum APHTN-HAN Prof Mahfud MD dan Presiden Joko Widodo.

Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof. Mahfud MD kerap menjadi rujukan narasumber baik di media mainstream seperti televisi dan surat kabar, maupun media online. Hampir setiap peristiwa yang terjadi di republik ini, terutama berkaitan dengan hukum dan politik, tak lepas dari pendapatnya.

Selain menjadi rujukan di dunia nyata, Mahfud juga rajin berkicau di media sosial Twitter. Di jagad ini, dia pun sering dimintai pendapat dan komentar atas berbagai kasus dan peristiwa.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Setiap cuitan Mahfud di akun Twitter-nya, selalu viral dan menjadi perbincangan warganet. Pria kelahiran Sampang, Madura 13 Mei 1957 ini mengaku, dia mengelola sendiri akun Twitter resminya @mohmahfudmd.

“Saya posting sendiri, tidak memakai admin. Jari saya sendiri ini yang membuat cuitan-cuitan di Twitter,” ujar Mahfud dalam perbincangan dengan Inisiatifnews, Senin (09/09/2019).

Berdasarkan pantauan di Twitter, Mahfud termasuk salah satu tokoh Indonesia yang memiliki follower di angka jutaan. Untuk diketahui, tak mudah bagi tokoh atau politisi memiliki pengikut jutaan di media sosial ini. Kebanyakan yang punya jutaan follower adalah kalangan artis.

Follower Mahfud di atas tiga juta netizen. Dengan modal tiga juta follower ini, mantan Menteri Perdagangan dan eks Dubes RI di Jepang, Muhammad Lutfi dalam sebuah acara Tokoh Perubahan Republika Award 2018 bahkan menyebut, hampir setiap cuitan Mahfud mem-viral dan dibaca oleh 44 juta orang.

Artinya, setiap cuitan Mahfud yang dibaca oleh sejumlah orang, di-retweet oleh sejumlah orang lainnya dan setiap yang mengicaukan kembali memiliki follower yang akan meretweet lagi secara berantai. Belum lagi penyebaran lewat platform media sosial lain dan berbagai group WhatsApp, serta pengutipan oleh media mainstream dan terutama oleh media online.

Baca juga :  Mahfud Ingatkan Bahaya Demokrasi Jual Beli

Bully-an Akun Buzzer Dianggap Sampah Saja, Gitu Ajak Kok Repot

Seperti diketahui bersama, dalam setiap cuitan Mahfud, selalu saja ada netizen yang berinteraksi, baik sekadar setuju dengan pendapatnya, bertanya, hingga membantah. Ia pun sabar meladeni dan antusias menjawab pertanyaan warganet. Baginya, diskusi lewat platform seperti ini, menyenangkan. Apalagi banyak yang terlibat dan menanggapi cuitannya.

Menteri Pertahanan era Presiden KH. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur ini mengaku, selalu mengecek aktivitas Twitter-nya. Tak dipungkirinya, ia kerap menemui bully-an kepadanya.

Macam-macam jenis netizen yang mem-bully Mahfud. Dari yang hanya sekadar berbeda pendapat dan pilihan politik, netizen salah paham hingga akun bayaran atau akun buzzer yang namanya aneh-aneh dan follower-nya hitungan jari.

Untuk buzzer dan akun bayaran, biasanya memiliki kesamaan konten. Seperti pertanyaan yang menyudutkan dan bernada menjatuhkan. Kadang diulang-ulang dan tidak substantif. Misalnya pada kasus Papua, meski sudah berpendapat mengenai kasus ini jauh hari setelah peristiwa, Mahfud dituding diam dan membisu. Padahal, netizen yang waras atau akun asli, pasti dengan mudah menemukan pernyataan Mahfud soal kerusuhan Papua di mesin pencarian Google dan ratusan link berita daring.

Karena itulah, Mahfud menganggap enteng saja komentar-komentar netizen jenis ini.

“Yang mem-bully karena beda pendapat dan pilihan politik saya hargai. Biar saja, ini kan demokrasi di era digital. Nah, yang buzzer dan akun bayaran, saya anggap sampah saja. Gitu saja kok repot,” ungkap Mahfud sembari tersenyum.

Baca juga :  Mahfud Ingatkan Bahaya Demokrasi Jual Beli

Apa ia tak terganggu dengan bully-an yang menyerangnya setiap saat? Mahfud mengaku, dia tak terlalu peduli. Sebab yang mem-bully hanya segelintir akun. Sedangkan yang menyetujui dan menyukai, jutaan orang.

Bully-an terhadapnya dianggap angin lalu. Ia tak sakit hati. Apalagi para buzzer dan akun bayaran ini pengecut dan tak berani menampakkan identitasnya.

“Kalau sakit hati, bisa berhenti main medsos. Lagian untuk apa sakit hati. Tak ada gunanya. Sebab yang pembully bayaran dan buzzer itu bisanya hit and run, ngomong lalu lari dan menyembunyikan identitas,” ujar anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ini.

Mahfud menilai, bully-an kepadanya tak ada apa-apanya. Ia pun cukup berbesar hati karena yang menjadi korban bully bukan hanya dirinya. Banyak orang besar dan hebat seperti Jokowi, Megawati, SBY, Prabowo, Amien Rais bahkan Prof. Quraish Shihab tak pernah sepi dari bully-an. Selain itu, praktik semacam ini wajar di media sosial.

“Maka saya tak perlu risau dengan bully-bully terhadap saya. Isinya, materinya kan itu-itu saja, orangnya yang itu-itu juga, saling follow di antara mereka, menyembunyikan identitas nama akun dan foto yang bukan jati dirinya. Itu mudah dihitung dengan instrumen IT yang ada di HP kita sendiri,” ungkapnya.

“Dibandingkan dengan, ternyata viralnya ratusan ribu, dikutip oleh media online resmi maupun televisi dan surat kabar. Yang membuat like ribuan. Maka saya terus saja bermain media sosial,” pungkas Dewan Pembina MMD Initiative ini. (INI)

space iklan