as hikam
Muhammad AS Hikam. [foto : istimewa]

SALAH satu cara “meramal” cuaca politik di mana-mana adalah dengan membaca dan menafsirkan gestur dan bahasa tubuh, serta ujaran para politisi. Khususnya elit politik yang punya pengaruh sangat besar. Ambilah contoh, Presiden RI ke-5 Megawati Sukarnoputri.

Media, dan pengamat, pelaku politik, bahkan publik pada umumnya tahu belaka bahwa tidak ada dinamika perpolitikan Indonesia selama lebih dari 20 tahun ini tanpa dipengaruhi, langsung atau tidak, oleh Megawati Soekarnoputri. Makanya ujaran dan gestur serta bahasa tubuh puteri Proklamator tersebut akan selalu menjadi bahan “ramalan cuaca politik” yang nyaris tak mungkin diabaikan.

Itu sebabnya, ketika Ketua Umum PDI Perjuangan ini kedapatan seakan “mencuekkan” Ketua Umum Nasdem, Surya Paloh, dengan tidak menyalami yang bersangkutan, sontak muncul ramalan cuaca politik yang ramai di pentas politik Indonesia pasca-Pilpres 2019. Media dan para pengamat, serta politisi (pada level manapun) berkepentingan untuk terlibat memaknai gestur boss PDI Perjuangan tersebut.

Ketika saya ditanya wartawan tentang hal itu, jawaban saya adalah sebagai berikut: Pertama, kalau insiden tidak menyalami itu bukan kesengajaan Megawati Soekarnoputri, karena situasi yang tidak terelakkan atau alpa dan lainnya, tentunya tak perlu dipermasalahkan. Pihak-pihak yang disorot publik, PDI Perjuangan atau Megawati Soekarnoputri sendiri, tentu bisa memberi penjelasan atau, bahkan kalau perlu, meminta maaf.

Kedua, kalau insiden tak salaman tersebut adalah disengaja, atau patut diduga disengaja, tentu membuka peluang penafsiran macam-macam, termasuk spekulasi yang bersifat politik. Bisa saja insiden itu ditafsirkan sebagai sikap ketidaksukaan atau ekspressi kekecewaan Megawati Soekarnoputri, pihak yang seharusnya menyalami, terhadap Surya Paloh, pihak yang seharusnya mendapat giliran disalami beliau.

Ketiga, dalam konteks perilaku politik Megawati Soekarnoputri, insiden salaman ini tentu dikaitkan dengan kebiasaan beliau menggunakan gestur atau bahasa tubuh tertentu untuk menyatakan sikap-sikap politik terhadap pihak lain. Kita tahu, misalnya, bahasa tubuh beliau ketika dahulu masih memandang Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai nemesis politiknya. Bisa jadi dalam kasus Surya Paloh ini pun, sikap cuek Megawati Soekarnoputri itu adalah isyarat bahwa beliau kurang berkenan terhadap sikap politik Ketua Umum Nasdem itu pasca Pilpres 2019.

Keempat, hemat saya, tentu saja akan lebih kuat jika analisa ramalan cuaca politik ini didukung oleh berbagai fakta berupa langkah-langkah PDI Perjuangan dan Partai Nasdem dalam dinamika politik nyata. Misalnya, apakah Partai Nasdem akan keluar dari koalisi pendukung atau tidak di parlemen nanti. Apakah Partai Nasdem akan mendukung Perppu KPK atau tidak. Apakah Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memberikan kursi kabinet kepada Partai Nasdem atau tidak, dan sebagainya-dan sebagainya.

Kelima, perilaku politik para elit memang bisa dibaca dari berbagai macam sudut pandang. Yang perlu dicermati adalah implikasinya, apakah signifikan atau hanya manuver biasa saja? Tetapi khusus Megawati Soekarnoputri, gestur dan bahasa tubuh beliau dalam politik biasanya bisa bikin lawan atau yang dianggap lawan beliau, tergaga-gaga sampai lama!

Prof. Muhammad A.S. Hikam adalah pengamat politik President University dan Menteri Negara Riset dan Teknologi Kabinet Persatuan Nasional era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

space iklan