Forum Umat sambang Komnas HAM lapor dugaan pelanggaran di tragedi 21 dan 22 Mei 2019. [foto : Instimewa]

Inisiatifnews – Beberapa elemen yang mengatasnamakan Komponen Umat mendatangi gedung Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengadukan terkait dengan kasus tragedi Aksi 21 dan 22 Mei di Jakarta.

Salah satu perwakilan dari Forum Umat Islam (FUI), Muhammad Gatot Saptono alias Al Khaththath menyampaikan bahwa kedatangan pihaknya ke Komnas HAM itu adalah untuk menindaklanjuti tragedi aksi di Jakarta itu.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

“Kami perlu melaporkan adanya tindakan yang kami anggap pelanggaran HAM dalam penyampaian pendapatan yang kami anggap berlebihan,” kata Al Khaththath dalam keterangannya di Komnas HAM, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/5/2019).

Ia juga mengatakan bahwa dalam peristiwa tersebut, setidaknya ada 13 orang yang sudah dinyatakan meninggal dunia

“Ada 13 orang yang meninggal, 517 luka luka, dan ratusan orang hilang. Dan kami akan buat krisis center orang hilang. Catatan kami, kenapa jadi banyak korban,” ujarnya.

Sekjen FUI ini meminta agar Komnas HAM dapat memberikan rekomendasi agar Kepolisian tidak lagi bertindak sewenang-wenang.

Baca juga :  Dampingi Warga Papua, Lokataru Ngadu ke Komnas HAM Soal Rasisme Aparat di Surabaya

“Agar Komnas HAM bisa berikan rekomendasi agar polisi tdk sewenang-wenang. Kami juga akan membentuk tim pencari fakta,” terangnya.

Bagi Al Khaththath, dalam peristiwa 21 dan 22 Mei di Jakarta itu, polisi telah membentuk stigma negatifnya sendiri yakni dengan memberikan rasa takut kepada masyarakat.

“Kalau dilihat dari slogan ; polisi melindungi dan mengayomi, siapa saja sekarang malag dibikin takut dengan polisi. Saat kita demo, kita buat izin untuk minta pelayanan agar demo ini dijaga dengan baik, tapi malah demonstran ini dihantam,” tuturnya.

Mendapati laporan itu, Ketua komisioner Komnas HAM Ahmad Taufan Damanik mengatakan bahwa pihaknya saat ini sudah berkordinasi dengan aparat kepolisian terkait dengan hal itu.

“Tahap awal kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian, dan tim kami yang di sana tidak ada yang terjadi keluar dari koridornya,” kata Taufan.

Kemudian ia juga menyatakan bahwa dirinya sudah mendatangi beberapa rumah sakit yang menjadi rujukan perawatan para korban Aksi 21 dan 22 Mei itu.

Baca juga :  Komnas HAM Janji Selidiki Kasus Rasisme Aparat ke Mahasiswa Papua di Surabaya

“Saya langsung ke rumah sakit rumah sakit untuk cek para korban, di RS Tarakan ada 2 yang meninggal dan dari keluarga tidak mau diotopsi, RS Budi Kemulian juga langsung dibawa pulang oleh keluarga,” jelasnya.

Kemudian juga ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) juga sudah dicek oleh dirinya.

“Yang di RSCM juga tidak diotopsi, karena keluarga marah dan mendesak agar jenazah bisa segera dibawa pulang,” tuturnya.

Lebih lanjut, Taufan pun menyebut bahwa ada indikasi keberadaan peluru tajam yang belum dan sudah terpakai ada yang pihak sengaja melakukan pengadaan. Namun dalam konteks itu dirinya menjelaskan apa yang menjadi temuannya itu pula masih perlu diuji secara mendalam.

“Diakui ada yang menggunakan peluru tajam, dan itu masih dalam uji balistik utk pembuktian lebih lanjut,” ujarnya.

[NOE]

space iklan