Inisiatifnews – Wasekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Masduki Baidlowi menilai bahwa dalam menyikapi kontestasi politik harus dengan kedewasaan, salah satunya adalah siap menerima kekalahan jika memang kalah.

“Berpolitik dalam sistem demokrasi itu adalah siap menang dan siap kalah, namun kali ini kan berbeda ada yang tidak siap menang dan ada yang tidak siap kalah,” kata Kiyai Masduki dalam Simposium Kebangsaan BEM Nasionalis di Hotel Sofyan Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (1/6/2019).

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

Sayangnya lagi kata Kiyai Masduki, bahwa ada pihak yang justru menjadikan dogma agama sebagai senjata untuk melegitimasi ketidakpuasannya terhadap hasil yang dicapai.

“Unsur agama dijadikan pembenar dalam gerakan, oleh karena itu kalau sudah menyangkut agama seharusnya dipangkas, unsur agama agar tidak masuk ke dalam politik-politik tersebut,” tuturnya.

Saat ini proses konstitusional tengah diupayakan berjalan di Mahkamah Konstitusi (MK), dimana di majelis sidang MK itulah penyelesaian sengketa politik dilakukan. Yakni dimana pihak Capres-cawapres nomor urut 02 tengah menggugat hasil Pilpres 2019.

Ditambah lagi, ada insiden kerusuhan yang terjadi dalam peristiwa 21 dan 22 Mei 2019 antara perusuh dengan aparat. Kondisi ini juga membuat setidaknya 8 orang dikabarkan meninggal dunia.

Melihat dua poin tersebut, ulama yang karib disapa Cak Duki itu meyakini gerakan-gerakan yang mengarah pada kondisi yang destruktif tidak akan terjadi lagi apalagi sampai sebesar aksi protes di bilangan Sarinah itu.

Ia masih yakin aksi protes dan dukungan moril kepada tim kuasa hukum Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Sandi di MK akan tetap berjalan sesuai dengan koridor hukum yang berlaku.

“Jawabannya, tidak akan ada gerakan-gerakan destruktif, hanya ada kebebasan berekspresi sesuai yang dilindungi oleh UUD,” pungkasnya.

[NOE]

space iklan