Ani Yudhoyono dan keluarga
Momentum Ani Yudhoyono tampak bahagia bersama suami dan menantunya di NUH Singapura. [dokumen foto : Tribunnews]

Inisiatifnews – Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mohammad Mahfud MD sempat memiliki firasat tertentu terkait dengan menjelang kematian ibu negara ke 6, Kristianti Herawati alias Ani Yudhoyono.

Melalui kicauan di akun twitternya itu, Mahfud melihat bahwa ada gejala yang dianggapnya familiar melihat video di televisi di National University Hospital (NUH) Singapura beberapa waktu yang lalu. Yakni tampak cerianya istri Presiden ke 6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saat menggunakan kursi roda sembari menghirup udara segar.

space iklan
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia

“3 hari lalu, Rabu 29/5, saya melihat di TV Bu Ani Yudhoyono tampak agak gembira sambil mengangkat 2 lengannya dari kursi roda. Dia didampingi oleh Anisa Pohan. Saya tak tahu, apakah itu gambar lama atau baru, tapi berita di TV Bu Ani gembira karena bisa menghirup udara lagi. Hati saya berdetak,” kata Mahfud MD, Minggu (2/6/2019).

Melihat tayangan video itu, Mahfud lantas teringat firasat Jawa yang mendasari firasatnya itu terhadap kondisi Ani Yudhoyono. Dimana keceriaan ibunda Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) itu adalah pertanda bahwa sedang memberikan pesan khusus kepada orang-orang di sekitarnya.

“Saya teringat pada fitasat yang umum di Jawa: Jika orang sakit serius tiba-tiba tampak sehat dan komunikatif biasanya berpamitan untuk wafat,” ujarnya.

Baca juga :  Mahfud MD Pernah Batalin UU BHP Yang Berpotensi Ancam Kelangsungan Ponpes

Karena firasat itulah, Mahfud langsung mengajak istrinya memanjatkan doa untuk Ani Yudhoyono.

“Pagi itu saya mengajak isteri untuk berdoa dan membaca Alfatihah untuk Bu Ani. Batin saya berbisik, tampaknya sang ibu negara sudah akan segera pergi,” paparnya.

Dan ternyata firasat Jawa yang diyakininya itu benar adanya. Usai melihat keceriaan sang Ibu Negara ke 6 itu, mendadak pada tanggal 1 Juni dikabarkan harus mendapatkan perawatan intensif di ruang ICU NUH Singapura hingga pukul 11.50 waktu setempat, Ani Yudhoyono menghembuskan nafas terakhirnya.

“Demikianlah, berita duka itu betul-betul datang. Hari ini, Sabtu 1 Juni 2019, jam 10.50 WIB atau jam 11.50 waktu Singapore Bu Ani Yudhoyono wafat. Inna lillah wa innaa ilaihi raji’un,” ucap Mahfud.

“Selamat jalan menuju istirahat panjang, namamu akan terus dikenang, Bunda,” tutupnya.

Mahfud MD dan Gerakan Suluh Kebangsaan
Rombongan Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) pimpinan Mahfud MD saat silaturrahmi dan menjenguk Ani Yudhoyono di Singapura. [foto : twitter/mohmahfudmd]

Kondisi sel kanker darah Ani Yudhoyono sempat menurun hingga alami ledakan parah sebelum menjemput ajal

Kondisi Ani Yudhoyono ini juga sempat dipaparkan oleh SBY yang merupakan suami tercintanya. Dimana dalam pengawasan di Rumah Sakit NUH Singapura sepanjang 4 bulan terakhir itu, kondisi besan Hatta Rajasa itu sempat mengalami perkembangan yang positif. Bahkan SBY menyebutkan jika harapan sembuh sang istri tercinta sudah tampak terlihat.

Baca juga :  Mahfud MD Pernah Batalin UU BHP Yang Berpotensi Ancam Kelangsungan Ponpes

“Benar, sekitar tiga minggu sebelum ada krisis ini sebetulnya perkembangannya positif. Bahkan kami punya harapan Insya Allah bisa disembuhkan,” kata SBY di Puri Cikeas, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (1/6).

Menurut SBY, saat itu dokter yang merawat Ibu Ani mengatakan, sel-sel kanker dalam tubuh menurun secara tajam.

Namun, tiga hari yang lalu, sel-sel kanker yang tadinya sudah dilumpuhkan, kembali meningkat secara tajam. Kondisi inilah yang secara mendadak membuat kondisi kesehatan sang Istri semakin memburuk hingga harus mendapatkan perawatan intensif di ICU.

SBY pun menyebutkan bahwa perkembangan baik yang sempat diterima oleh Ani Yudhoyono tidak sesuai harapan besar dirinya dan keluarga. Bagi SBY, Tuhan memiliki kehendak-Nya sendiri.

“Namun Allah menetapkan lain. Tiga hari yang lalu, ada sebutlah krisis, tiba-tiba ada ledakan dari sel-sel kanker yang tadinya sudah dilumpuhkan itu meningkat dengan sangat tajam sehingga tim dokter kewalahan sehingga masuk ICU dengan perlakuan khusus,” tutur Ketua Umum Partai Demokrat itu.

[RED]

space iklan