Romo Benny
Antonius Benny Susetyo

Inisiatifnews – Idul Fitri merupakan momentum yang baik untuk meneguhkan semangat keberagamaan dalam keberagaman. Momen ini, khususnya, mendidik kaum muda Muslim dan Kristen menciptakan perdamaian dan keadilan yang merupakan agenda mendesak. Itulah setidaknya kesimpulan dalam pesan akhir Ramadan tahun ini yang dirilis Dewan Kepausan.

Dalam pesan bertajuk mendidik kaum muda Kristen dan Muslim untuk keadilan dan perdamaian itu, Vatikan ingin mengingatkan kembali bahwa kekerasan merupakan awal mula lenyapnya perdamaian dan keadilan di muka bumi ini.

Kardinal Jean-Louis Tauran dari Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama Vatikan menegaskan, perlunya mendidik kaum muda untuk menyudahi semua bentuk kekerasan di muka bumi ini. Pesan itu menyiratkan suatu persaudaraan sejati di dalam suasana perbedaan. Keberagamaan kita di Nusantara ini meniscayakan perbedaan. Namun, sering kali perbedaan dijadikan alasan untuk melegalkan kekerasan atas nama agama. Itu terjadi karena klaim kebenaran yang lebih ditonjolkan alih-alih mencari persamaan untuk membangun kekuatan.

“Paus Fransiskus menekankan penting membangun dialog antar umat Kristiani dan Muslim. Untuk mewujudkan aktualisasi agama menjd rahmat perdamaian.”

Kebersamaan dalam Keberagaman

Ada banyak sebab kekerasan di antara para pemeluk agama, misalnya manipulasi agama untuk tujuan politis atau lainnya, diskriminasi atas dasar etnisitas atau identitas religius, atau perpecahan dan ketegangan sosial.

Ketidaktahuan, kemiskinan, tertinggal dalam pembangunan, juga merupakan sumber langsung atau tidak langsung untuk kekerasan baik antara maupun dalam komunitas-komunitas religius. Disadari bahwa semangat perayaan Idul Fitri bagi kaum muslim adalah untuk kembali pada kesucian. Momentum ini jelas sangat tepat digunakan untuk membangun tali persaudaraan sebangsa. Dengan kembali pada kefitrian inilah tali persaudaraan akan mudah diwujudkan, sebab manusia akan lahir kembali dalam keadaan suci.

Pesan Vatikan dalam menyambut Idul Fitri kali ini adalah perlunya mendidik kaum muda kristiani dan muslim bersama-sama mengatasi kekerasan antara pemeluk pelbagai agama. Kekerasan antarpemeluk agama dewasa ini merupakan masalah yang begitu hangat dibicarakan, sebab faktanya hal itu terjadi di berbagai belahan dunia.

Kita mesti menyadari ini merupakan suatu masalah mendesak. Kekerasan antarpemeluk agama terjadi akibat kesepahaman yang tidak dijadikan sebagai titik tolak untuk membangun persaudaraan sejati, melainkan justru lebih banyak mengedepankan ketidaksepahaman. Kekerasan begitu mudah terjadi karena masalah-masalah sepele yang mengatasnamakan agama.

Di negeri kita, hal itu seperti makan tahu-tempe, seperti sebuah kebiasaan sehari-hari yang tak habis-habis. Kita patut bersedih atas hal ini. Sudah saatnya kita mengangkat kesepahaman atas kebaikan ajaran agama ketimbang menonjolkan perbedaan-perbedaan yang tiddak mungkin disamakan.

Kita merasakan pentingnya meneguhkan kembali rasa persaudaraan itu karena ancaman dan tantangan yang ada di hadapan kita untuk ”mengoyak, memudarkan, dan mencerabut” itu sangatlah besar, nyata dan berbahaya. Tidak jarang hubungan persaudaraan antarwarga sebangsa ini dirongrong kepentingan politik, ekonomi, egoisme, dan lainnya.

Persaudaraan Sejati

Persaudaraan sejati akan melahirkan ikatan solidaritas antarwarga di tengah gejolak dunia yang dipenuhi ketegangan. Ketegangan ini kita sadari dipicu tata dunia tidak adil yang berpotensi melahirkan perlawanan. Bentuk perlawanan itu salah satunya adalah ketika orang melakukan tindakan di luar batas-batas kemanusiaan. Wajah dunia tidak lagi damai, tetapi dipenuhi kecurigaan/prasangka.

Pesan Vatikan tahun ini berkaitan erat dengan pesan-pesan sebelumnya, yang intinya bagaimana memperkuat persaudaraan untuk mengatasi masalah kemanusiaan yang semakin menipis. Semuanya bertujuan agar umat Kristen dan Muslim terus memperkuat hubungan persaudaraan. Atas nama persaudaraan, akan lebih mudah untuk memperjuangkan tata dunia yang adil dan damai. Hal ini sudah sejalan dengan komitmen Gereja dalam rangka membangun hubungan-hubungan baik di kalangan umat dari berbagai agama, meningkatkan dialog budaya, dan bekerja sama demi keadilan yang lebih besar dan perdamaian abadi.

Pesan itu memang hanyalah sebuah kata-kata, namun disampaikan dari hati yang sangat tulus. Sebagai umat beragama yang beriman, adalah kewajiban semuanya dalam menjadi pionir untuk menjaga perdamaian, hak asasi manusia, dan kebebasan yang menghargai setiap pribadi, sekaligus menjamin semakin kuatnya ikatan-ikatan sosial yang ada. Setiap orang harus memperhatikan saudara dan saudarinya tanpa diskriminasi. Dalam masyarakat kenegaraan tidak seorang pun boleh dikucilkan karena kesukuan, keagamaan, atau karena kekarakteristikan lain mana pun. Bersama-sama, sebagai warga dari pelbagai tradisi agama yang berbeda-beda, kita semua dipanggil untuk menyebarluaskan suatu ajaran yang menghormati semua manusia.

Dalam hal itulah upaya untuk meneguhkan kembali persaudaraan sejati dirasakan sangat penting adanya. Hubungan baik dalam persaudaraan sejati merupakan sikap awal untuk sampai pada hubungan saling pengertian dalam perbedaan. Sikap ini akan bisa mendorong melanjutkan dialog antara umat Katolik dan umat muslim dalam rangka merajut dunia agar lebih adil dan damai. Itu semua didasari keinginan yang tulus untuk mewujudkan tali persaudaraan sejati sesama saudara satu keturunan Bapak Abraham.

Momentum Idul Fitri adalah saat tepat untuk merenda habitus baru dalam membangun dialog kemanusiaan demi tercapainya sebuah tata dunia yang adil. Tata dunia saat ini yang berorientasi materialistik tidak lagi mampu memekarkan nilai-nilai solidaritas, kebersamaan, keadilan, dan penegakan moralitas. Problem kemanusiaan yang akut inilah yang harus kita hadapi bersama untuk melanjutkan dialog demi menciptakan cita rasa kebersamaan.

Kebersamaan ini akan melahirkan saling pengertian dalam kehidupan bersama. Kehidupan bersama ini diharapkan bisa membuktikan bahwa dalam komunitas muslim dan Kristen telah terjalin hubungan yang mendalam. Langkah konkret berikutnya adalah untuk terus melanjutkan dialog kemanusiaan sebagai sebuah jembatan untuk membangun keutamaan bagi dunia.

Persaudaran di antara dua komunitas ini amat dibutuhkan untuk memberikan alternatif bagi peradadan dunia yang saat ini dilanda kerusakan moral. Tandanya, dunia ini tidak lagi menghargai kehidupan. Kehidupan yang seharusnya memberikan tata dunia yang damai tiba-tiba dirusak kejahatan kemanusiaan. Kita harus bersungguh-sungguh dalam dialog untuk mewujudkan tata dunia yang adil dan bermoral. Dialog sendiri bisa dilakukan dengan cara memperbesar persamaan dan memperkecil perbedaan. Tentu saja, perbedaan adalah indah.

“Idul Fitri harus menjadi sarana untuk merajut persaudaran sejati lewat perjumpanan teman lintas agama dalam menghayati sila pertama dan ketiga Pancasila. Selamat Idul Fitri, semoga Tuhan memberi hari yang penuh rahmat bagi saudara kami kaum muslim.”

*) Penulis adalah Rohaniwan Komisi HAK Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Anggota Satuan Tugas Khusus Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)