Oleh : Dr. Didik Novi Rahmanto / Satgas Penindakan BNPT

Menangani FTF ISIS Asal Indonesia

  • Whatsapp
Didik Novi Rahmanto
Didik Novi Rahmanto.

Polemik terkait wacana pemulangan atau repatriasi FTF ISIS asal Indonesia usai sudah, pemerintah memutuskan untuk tak memulangkan 600-an WNI yang terlibat dalam kelompok teroris internasional ISIS. Keputusan ini diambil usai rapat kabinet yang dipimpin langsung oleh presiden Joko Widodo di kompleks istana Bogor awal Februari lalu. Salah satu hal yang menjadi pertimbangan pemerintah adalah kewajiban untuk melindungi masyarakat dari ancaman terorisme. Paham kekerasan ini berbahaya tak hanya ketika berwujud dalam gerakan, tetapi juga ketika masih mengendap dalam pikiran. Itu sebabnya, keputusan tegas pemerintah untuk tak memulangkan eks-ISIS patut diapresiasi. Kita tak boleh memberi celah sedikitpun untuk terorisme.

Meski begitu, pemerintah tak menutup mata terhadap para eks-ISIS yang tak radikal atau bahkan ternyata menjadi korban. Hal ini disampaikan langsung ke publik oleh presiden Joko Widodo melalui akun media sosialnya pada 12 Februari lalu yang menegaskan bahwa pemerintah masih membuka peluang untuk menerima kepulangan eks-ISIS, terutama yatim dan anak-anak di bawah umur.

Bacaan Lainnya

Kebijakan ini perlu didukung sebab kita perlu membaca realita bahwa tak semua FTF ISIS asal Indonesia yang kini terkatung-katung di kamp-kamp pengungsian adalah kombatan, inspirator atau ideolog. Banyak dari orang-orang ini adalah “follower”. Mereka dipaksa atau terpaksa berangkat ke Irak atau Suriah karena banyak hal, yang paling sering ditemui adalah alasan keluarga, yakni diajak atau dibawa oleh suami atau ayah mereka masing-masing.

Berbekal Keyakinan

Orang-orang yang bergabung dengan ISIS nyatanya memiliki latar belakang dan motivasi yang berbeda. Tak semua orang yang nekad berangkat ke Irak dan Suriah menginginkan khilafah, banyak di antara mereka yang ternyata memimpikan hal lain. Dalam The Belief in a Just World (1980), Lerner M.J menjelaskan bahwa setiap individu memiliki kecenderungan untuk meyakini bahwa dunia ini bekerja dengan cara yang konsisten dan adil, di mana orang yang baik akan mendapat balasan kebaikan sementara orang yang jahat akan mendapat hukuman. Hanya saja, tak semua balasan tersebut bisa datang dengan sendirinya, beberapa harus diusahakan, misalnya; bergabung dengan ISIS.

Di masa awal kemunculannya, ISIS gencar menyebar kabar soal sebuah negeri yang berisi semua hal yang diimpikan manusia; pekerjaan dengan gaji tinggi, sekolah dan rumah sakit terbaik yang semuanya gratis, air, listrik, serta semua fasilitas umum yang disediakan secara cuma-cuma pula. Semuanya diklaim telah dibangun oleh ISIS di beberapa wilayah di Irak dan Suriah. Kabar ini tentu menyedot perhatian banyak orang dari hampir seluruh penjuru dunia, khususnya mereka yang memimpikan kehidupan yang lebih baik. Mereka yakin, balasan atas semua kebaikan yang telah mereka lakukan selama ini akan dapat ‘dipanen’ di Irak dan Suriah sana.

Orang-orang ini kemudian melakukan berbagai cara agar bisa sampai ke Irak dan Suriah, ada yang menjual sebagian harta bendanya, pinjam uang ke tetangga atau saudara, atau dengan cara lainnya; semuanya hanya untuk bisa sampai ke Irak dan Suriah. Banyak dari orang-orang ini yang membawa serta anggota keluarganya lantaran yakin kehidupan akan lebih harmonis jika bergabung bersama ISIS.

Nyatanya mereka salah. Sesampainya di Irak dan Suriah, tak ada hal lain yang mereka temukan selain susah. Hampir tak ada satupun janji ISIS yang terpenuhi. Tak ada pekerjaan dengan gaji tinggi, tak ada sekolah dan rumah sakit terbaik yang gratis, tak ada pula listrik dan air untuk dibagikan secara cuma-cuma; semua hanya bualan semata. Kehidupan di wilayah ISIS juga dirasakan penuh dengan penderitaan. Dalam kondisi begini, orang-orang ini mengalami kekecewaan dan bahkan frustrasi lantaran keyakinannya tak terbukti.

Dalam teori Dunia yang Adil (just world), setiap individu juga cenderung percaya bahwa tiap orang mendapatkan apa yang layak baginya. Jika seseorang mendapat limpahan kemuliaan, maka itu adalah ‘upah’ untuk kebaikan yang ia lakukan. Sebaliknya, jika orang mengalami kemalangan, maka itu adalah bagian dari cara dunia memberikan hukuman. Orang-orang ini, yang menemukan cilaka bersama ISIS, telah merasakan hukuman akibat kepercayaannya yang salah. Termasuk di antara mereka adalah perempuan dan anak-anak, yang berangkat ke Irak dan Suriah bukan atas kemauan dan usaha sendiri.

Die Hard

Dari sekian banyak FTF ISIS asal Indonesia yang kini tersebar di beberapa kamp penampungan, tentu ada banyak yang menjadi die hard ISIS. Mereka adalah orang-orang yang sejak awal memang bengal. Bergabung dengan ISIS agar bisa membuat banyak kerusakan dengan mengatasnamakan Tuhan. Orang-orang yang termasuk kategori die hard tentu sangat berbahaya jika sampai bisa masuk kembali ke Indonesia. Pikiran kotor dan pengalaman bertarung bersama ISIS yang mereka miliki adalah virus mematikan yang tak boleh diberi ruang untuk berkembang.

Di kalangan internal para die hard pun, sebenarnya telah beredar imbauan untuk menolak kembali ke Indonesia. Sebab jika kembali, maka itu sama saja dengan mengaku kalah dan –lebih parah lagi—menjual akidah. Pantauan terhadap aktivitas media sosial orang-orang yang diduga kuat berada di kamp Al Hol di Suriah menunjukkan bahwa mereka saling mengingatkan agar tetap bertahan bersama ISIS dan menunggu bantuan dari para Ikhwan; hal ini dianggap lebih mulia ketimbang kembali ke Indonesia.

Soal ini juga sudah diantisipasi oleh ISIS, melalui juru bicaranya, Abu Hamzah al Quraisy, ISIS menyebar maklumat yang telah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa yang berisi seruan untuk bertahan dan menunggu aba-aba berikutnya guna melakukan serangan balasan.

Alat Redam

Perang melawan terorisme memang harus terus digalakkan, tak boleh ada celah untuk masuk dan berkembangnya paham yang mengidolakan kekerasan dan maut ini. Namun perang untuk menghadapi kejahatan yang sudah masuk kategori extra ordinary ini harus pula dilakukan dengan mix approach, yaitu hard power dengan kesiapan unsur criminal justice system (CJS) sebagai landasan untuk proses hukum bagi foreign terrorist fighters (FTF). Secara bersamaan didukung pula dengan soft power melalui pendekatan memadamkan api, yaitu kontra radikalisasi dan deradikalisasi, sebab terorisme tak bisa dikalahkan hanya dengan pengerahan senjata dan jeruji penjara, tetapi juga pendekatan lunak yang memiliki efek redam lebih lama.

‘Alat redam’ yang perlu segera kita siapkan adalah profiling yang lengkap dan menyeluruh kepada semua FTF ISIS asal Indonesia yang ada di penampungan, terutama untuk mendata kerentanan mereka terhadap tingkatan paham radikalisme dan terorisme dan seberapa besar ‘insyaf” mereka.

Kemudian menyiapkan Peraturan Pemerintah (PP) terkait deradikalisasi, khususnya menyangkut penanganan terhadap FTF, baik yang sudah tertangkap, belum ditangkap atau belum diproses. Sementara untuk mereka yang diputuskan tak diproses secara hukum, tetap perlu diwajibkan mengikuti program deradikalisasi dan rehabilitasi yang digawangi oleh Direktorat Deradikalisasi BNPT, Direktorat Idensos Densus 88 dengan melibatkan kemensos BRS-AMPK Handayani, termasuk pula kementerian dan lembaga lainnya. Program ini juga perlu melibatkan tokoh agama, LSM.

Program selanjutnya adalah resosialisasi dan reintegrasi yang ditujukan untuk memberi panduan dan kesiapan kepada masyarakat agar bisa menerima eks-ISIS kembali ke tengah-tengah mereka sebagai warga biasa.

Langkah besar selanjutnya adalah mengambil sikap tegas terhadap praktik-praktik intoleransi dan diskriminasi yang mewabah di sebagian kelompok masyarakat. Keduanya adalah ladang basah untuk persemaian radikalisme dan bahkan terorisme. Jika kedua hal ini tak segera diatasi, upaya melawan radikalisme dan terorisme hanyalah sebatas mimpi.

Pos terkait