Oleh : Antonius Benny Susetyo / Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP)

Pendidikan Vokasi Itu Penting, Tapi Indonesia Juga Butuh Pemikir

  • Whatsapp
Romo Benny
Romo Antonius Benny Susetyo.

Globalisasi merupakan keniscayaan. Globalisasi mendorong terciptanya persaingan lintas negara/global, baik persaingan antar negara maupun persaingan individu dalam pasar kerja. Persaingan tersebut mendorong negara-negara dan individu di dunia berupaya untuk menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Sistem untuk menjadi yang terbaikpun diciptakan, termasuk di antaranya sistem pendidikan.

Negara-negara di dunia mencoba menciptakan dan merumuskan sistem pendidikan terbaik untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM)-nya bersaing di pasar global. Sejumlah negara di daratan Eropa dan Amerika Utara menjadi kiblat bagi perumusan sistem pendidikan terbaik dunia. Negara-negara Skandinavia seperti Finlandia dan Swedia, menduduki pringkat teratas dunia sebagai negara yang dirujuk untuk merumuskan sistem pendidikan kelas dunia.

Bacaan Lainnya

Indonesia juga merupakan salah satu negara yang menjadikan negara-negara Skandinavia sebagai salah satu rujukan dalam merumuskan sistem pendidikan dalam negeri. Sistem pendidikan dalam negeri Indonesia dibuat sedemikian rupa demi menciptakan SDM unggul dan siap bersaing dalam pasar global. Namun ada yang berpendapat sistem pendidikan Indonesia sudah kuno atau tertinggal jauh dibandingkan negara-negara di bumi bagian barat.

Di era-globalisasi skill untuk melakukan pekerjaan teknis dianggap penting oleh sejumlah kalangan. Bahkan sistem pendidikan yang dibangun dewasa ini, lebih ditekankan kepada kemampuan teknis individu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Intelektualitas pemikiran seolah kurang mendapatkan tempat dalam sistem pendidikan dewasa ini. Meskipun kreativitas untuk menciptakan sesuatu atau menghasilkan suatu karya didorong oleh sistem pendidikan saat ini. Namun sistem pendidikan yang mendorong individu untuk memikiran wacana dan gagasan intelektualitas guna merumuskan pembangunan Bangsa dan Negara Indonesia, seperti belum mendapatkan tempat dalam sistem pendidikan tanah air.

Mendorong individu atau SDM mampu dalam bidang teknis sangatlah penting, dalam mempersiapkan SDM untuk bersaing dalam pasar global. Namun jangan lupa juga mencetak pemikir besar tanah air yang ke depan mampu merumuskan kebijakan dan tahapan untuk menuju Indonesia Raya. Mengisi ruang teknis dan ahli memang penting, namun menciptakan pemikir yang mampu melahirkan wacana dan gagasan besar juga tak kalah penting. Bukankah Indonesia merdeka diawali oleh pemikir-pemikir lokal berkelas global atau mancanegara? Penting juga mempersiapkan SDM unggul dalam pemikiran intelektualitas.

Oleh karena itu, mulai sejak dini atau tahapan pendidikan awal (mungkin sejak sekolah menengah), sebaiknya sudah dipersiapkan sistem pendidikan yang mulai menjurus kepada kekhususan masing-masing. Sistem yang harus dibangun pendidikan vokasi sejak sekolah menengah sampai ke jenjang doktoral, untuk mereka yang tertarik pada ilmu terapan dan bersifat teknis.

Sebagai contoh, ketika seseorang memutuskan hendak mengambil jurusan keperawatan, dia sudah mengambil jurusan tersebut sejak sekolah menengah sampai pada jenjang pendidikan lebih tinggi. Jenjang pendidikan yang lebih tinggi, diambil bukan sekadar untuk mengejar gelar. Lebih dari itu, ada ilmu terapan yang bisa dipelajari secara spesifik dari tiap jenjangnya.

Hal yang sama juga diterapkan pada sistem pendidikan yang mengisi ruang intelektualitas pemikiran. Sudah mulai difokuskan pada bidang tertentu, seperti politik, hukum, humaniora dan lain sebagainya. Jika ini dilakukan, Indonesia niscaya akan memiliki pemikir-pemikir besar di masa mendatang. Buah pikiran dari mereka bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan bangsa yang semakin kompleks dan mungkin bertambah kompleks.

Sementara sistem pendidikan vokasi, bisa diintegrasikan dengan kebutuhan industri dalam negeri. Dibtuhkan SDM unggul untuk membangun industri dalam negeri Indonesia. Pengintegrasian pendidikan vokasi ke industri membuka peluang terjadinya transferring of technology, yang bertujuan membangun industri nasional.

Sistem pendidikan di Indonesia perlu disesuaikan dengan masing-masing bidang dan kebutuhan bangsa dan negara, bukan sekadar mengikuti pola yang dilakukan oleh negara lain. Hal itu dikarenakan tiap negara memiliki karakteristik dan kebutuhan masing-masing dalam membangun SDM dan negaranya untuk siap dalam persaingan global. Sejumlah pendapat dikemukakan, termasuk oleh tokoh penting di negeri ini.

Memberikan perhatian khusus kepada pendidikan vokasi merupakan langkah yang patut diapresiasi. Hal itu telah dilakukan sejak era-Presiden SBY, semakin diperkuat pada era-Presiden Jokowi jilid pertama. Pada era-pemerintahan Presiden Jokowi jilid kedua, Presiden menunjuk Nadhim Makarim sebagai Menteri pendidikan.

Jokowi menaruh harapan besar pada Bos Gojek itu. Pengalaman Nadhim dalam mendirikan start up Gojek, diharapkan memberikan terobosan bagi sistem pendidikan di Indonesia. Pendidikan yang lebih menekankan kepada penyiapan individu yang siap kerja, serta berwirausaha. Gagasan dan pemikiran Menteri yang lebih senang dipanggil “Mas Menteri” itu, mulai diutarakan di sejumlah ruang publik. Salah satu gagasannya yang paling mendapat respon positif dari sejumlah kalangan (terutama siswa dan siswi) adalah penghapusan Ujian Negara (UN).

Melatih pemuda dan pemudi usia produktif menjadi individu yang siap kerja, merupakan tugas mulia dan suatu keharusan. Oleh sebab itu, kita patut mengapresiasi langkah pemerintah yang melakukan pembinaan dan memperkuat peran Pendidikan kejuruan dan vokasi dalam dua dekade belakangan. Pendidikan yang lebih mengutamakan softskill dan mencetak manusia Indonesia yang siap kerja dan menjadi wirausahawan muda semakin gencar digaungkan, semenjak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dipegang oleh Menteri berusia muda sarat prestasi.

Mas Nadim Makarim, sukses dengan start up gojek yang memberikan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang lapangan pekerjaan dalam waktu kurang dari satu dekade. Berkat prestasinya yang gemilang tersebut, Presiden Jokowi memberikan tanggung jawab untuk Beliau mengemban tugas mulia menjadi panglima dalam bidang Pendidikan dan Kebudayaan. Presiden Jokowi menaruh harapan besar kepada Mendikbud yang lebih suka dipanggil Mas Menteri itu.

Presiden dan seluruh Rakyat Indonesia berharap Mas Menteri bisa memberikan terobosan-terobosan dan gagasan jenius untuk membawa Pendidikan di Tanah Air ke arah yang lebih baik. Tidak butuh waktu lama, sejumlah wacana dilontarkan oleh Mas Nadim ke publik. Mulai mengubah konten dan cara penyampaian pidato pada Hari Guru; sampai penghapusan UN. Terobosan lain yang membuat Rakyat kagum adalah ketika Mas Nadim mengharapkan anak Indonesia untuk belajar koding.

Pendidikan menjadi salah satu penentu masa depan peradaban suatu bangsa. Jika gelap Pendidikan suatu bangsa, maka suramlah masa depan peradabannya. Tidak heran jika semua negara dan bangsa di dunia berupaya saling berkompetisi dalam meningkatkan Pendidikan di negaranya.

Pos terkait