Oleh : Nanang Priyo Utomo (Direktur Eksekutif LPBI Nahdlatul Ulama Kabupaten Madiun)

Memahami New Normal, Pertolongan Pertama Pada Karakter Orang Indonesia

  • Whatsapp
20200528 115604
Nanang Priyo Utomo (Direktur Eksekutif LPBI Nahdlatul Ulama Kabupaten Madiun)

BEBERAPA hari terakhir jagad media sosial Indonesia diributkan dengan adanya rencana pemerintah yang akan memberlakukan protokol “New Normal Life” setelah beberapa waktu diberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Rencana ini sontak mengagetkan khalayak ramai karena berdasarkan data statistik yang ada, penularan Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan grafik membaik.

Hal ini menyebabkan publik bertanya tanya apakah gerangan motif dan tujuan pemerintah memberlakukan protokol baru ini? Sebagian masyarakat bahkan berani mengambil kesimpulan awal bahwa pemerintah hanya mementingkan persoalan ekonomi dengan mengabaikan masalah kesehatan.

Bacaan Lainnya

Sebagai sebuah dugaan, opini di atas adalah hal yang wajar. Namun demikian dugaan ini tidak begitu saja bisa diterima jika kita mereview kembali langkah-langkah pemerintah dalam mengatasi pandemi covid-19 ini. Dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, banyak langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah di sektor kesehatan terkait penyebaran Covid-19 ini. Penyiapan prasarana kesehatan dengan menyulap Wisma Atlet dalam waktu singkat menjadi Rumah Sakit Khusus Corona, pembangunan Rumah Sakit di Pulau Galang dan penunjukan Rumah Sakit Rujukan di seluruh propinsi di Indonesia membuat semua kasus positif Covid-19 sampai sekarang dapat tertangani. Hal ini patut diapresiasi sebab di beberapa negara sampai ada pasien yang harus dirawat di tenda darurat, di lorong Rumah Sakit bahkan ada yang di bawah pohon. Jumlah kasus positif di Indonesia yang sudah di atas 20 ribu kasus plus ribuan PDP sampai saat ini masih tercover perawatannya.

Pun demikian dengan alat kesehatan terkait virus corona, Alat Pelindung Diri (APD) yang awalnya sempat menjadi persoalan sekarang tidak lagi jadi masalah. Masker yang sempat langka sekarang stoknya berlimpah. Harga masker yang dulu meroket tinggi dan barangnya sulit dicari kini berbalik menjadi barang yang gampang ditemui di pinggir-pinggir jalan. Harga maskerpun cukup murah, dengan uang 5 ribu perak atau bahkan kurang kita bisa dengan mudah mendapatkannya. Alat test baik rapid test maupun swab PCR semakin banyak bahkan beberapa daerah menggelarnya gratis. Kapasitas laboratorium juga terus meningkat.

Dari sisi pembiayaan pemerintah Indonesia menanggung seluruh biaya pengobatan pasien Covid-19. Sampai sekarang belum terdengar pasien corona di Indonesia kesulitan biaya pengobatan. Jadi kalau dikatakan pemerintah mengabaikan masalah kesehatan, fakta-fakta tersebut bisa menjadi pertimbangan. Terlambat sih mungkin, tapi kalau dikatakan tidak serius, rasanya terlalu berlebihan.

Problematika Penanganan Corona di Indonesia

Kendatipun pemerintah telah melakukan langkah-langkah serius namun langkah-langkah di atas tidak lantas membuat persoalan selesai. Sebab harus disadari bahwa berbicara tentang Covid-19 ini ternyata yang tersulit bukan perawatan pasiennya tetapi pencegahan penularannya. Karakteristik virus ini yang mudah menular melalui hubungan antar manusia adalah tantangan yang cukup rumit bagi semua negara di dunia sebab sangat terkait dengan aktifitas keseharian masyarakat.

Pemerintah telah berupaya melakukan langkah-langkah mencegah penularan ini. Presiden Joko Widodo (Jokowi) sering menyampaikan tentang belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah. Tapi prakteknya ternyata sulit minta ampun.

Sebagai contoh di saat Gubernur DKI Jakarta sudah menyampaikan ancaman sanksi tegas bagi perusahaan yang masih beroperasi saat pelaksanaan PSBB ternyata puluhan perusahaan tertangkap saat diadakan inspeksi. Anak sekolah diliburkan supaya belajar di rumah ternyata saat razia banyak yang tertangkap ikut balapan liar. Apalagi masalah ibadah sampai dituduh pemerintah PKI gara-gara menghimbau sholat tarawih di rumah saja.

Belum lagi kasus-kasus unik yang jarang ditemui di luar negeri. Ada pasien positif yang mengajak duel saat dijemput oleh tenaga medis, pembatas jalan dirobohkan secara demonstratif dengan alasan Idul Fitri adalah hari kebebasan, pasien lari dari Rumah Sakit malah dijemput oleh keluarganya, orang mudik naik di bak truck tertutup bahkan di bagasi bus untuk mengelabui chek point dan banyak kasus neko-neko khas Indonesia lainnya. Di saat pemerintah menghimbau tetap di rumah, mereka menolak dengan alasan butuh makan, ketika pangan sudah dibantu lewat bantuan sosial ganti mengeluhkan cicilan leasing. Sampai-sampai ada pikiran apakah Cina bisa lockdown kemarin karena di sana tidak ada “Bank Harian atau Bank Titil?”.

Memahami Dimensi Sosial Masyarakat

Banyak dimensi sosial di masyarakat Indonesia yang membedakan dengan masyarakat di negara lain. Masyarakat kita yang sudah terlanjur terpola “mangan ora mangan asal kumpul” membuat langkah-langkah pembatasan sosial sulit untuk berjalan efektif. Kebiasaan beraktifitas kolektif mulai dari nongkrong, ngopi apalagi menyangkut kegiatan ritual seperti tahlilan, misa dan kegiatan ibadah lain sudah mendarahdaging di masyarakat. Sering kita jumpai pelanggaran sosial distancing yang berbahaya dari sudut pandang kesehatan terjadi karena masalah-masalah sepele. Sampai-sampai kejengkelan atas hal ini memunculkan ucapan “Indonesia Terserah”.

Perjalanan sosial distancing, physical distancing dan PSBB yang terseok-seok adalah cerminan bahwa masalah utama di Indonesia ini adalah masalah karakter masyarakat. Karakter yang sudah melekat ini bahkan sampai pada tingkat melawan aturan jika dirasa perlu.

Berkaca dari hal-hal di atas, pemerintah berupaya mengambil langkah tegas dengan melakukan penertiban pada aktifitas masyarakat. Fakta bahwa dalam masa PSBB sekalipun masyarakat tetap beraktifitas normal mendapatkan respon dengan memberlakukan protokol atas aktifitas itu.

Pilihan ini layak diambil sebab jika pilihannya adalah menghukum tegas masyarakat yang tidak taat prosedur, anda bisa bayangkan sebanyak apa kasus hukum yang akan diperkarakan. Pemberlakuan protokol ini diharapkan akan menjadikan aktifitas masyarakat yang ada tetap dilakukan dengan koridor pencegahan penularan penyakit.

Pemerintahpun tidak gegabah melakukan ini terbukti dengan memulainya secara bertahap dan di daerah-daerah tertentu. Mungkin ini bukanlah pilihan ideal tetapi merupakan pilihan terbaik jika melihat konteks kekinian dan kedisinian.

Protokol New Normal Life mendapat dukungan dari beberapa opinion leader dan influencer, antara lain Firman Syah Ali yang akrab disapa Cak Firman, opinion leader dan social trend setter asal Surabaya ini terang-terangan keberatan dengan perpanjangan PSBB di Kota Surabaya, hal ini dapat kita lihat melalui unggahan statusnya di media sosial, Bakal Calon Walikota Surabaya ini mengatakan PSBB selama ini hanyalah “wujuduhu kaadamihi“, adanya sama dengan tidak adanya.

Demikian juga tokoh advokasi masyarakat asal kota Surabaya M. Sholeh sempat mengumpulkan massa untuk bersama-sama menolak PSBB, namun PSBB tetap diperpanjang untuk Surabaya Raya hingga tanggal 8 Juni 2020.

Begitulah New Normal Life, ada daerah yang belum siap dan ada yang sudah siap. Mudah-mudahan daerah yang bisa memulai protokol New Normal Life terlebih dahulu bisa menunjukkan hasil yang baik sehingga daerah yang lain tidak ketakutan untuk segera memulai juga.

Pos terkait