Oleh : Hari Purwanto / Direktur Studi Demokrasi Rakyat (SDR)

Selamat Ulang Tahun Presiden, Perhatikan Lawanmu, Awasi Kawanmu

  • Whatsapp
Hari Purwanto
Hari Purwanto.

Saya mengenalnya sebagaimana yang sederhana cenderung polos dan tidak banyak cakap. Publik mengenal sebagai sosok yang hangat, polos, beberapa juga menyalahartikan kepolosan ini sebagai plonga-plongo.

Saya tentu tak setuju dengan diksi tersebut. Alangkah bodoh bangsa ini, jika membiarkan seorang plonga-plongo menjadi presiden dua periode melalui Pemilu Raya yang terbuka. Alangkah dungunya saya, jika menuding presiden sebagai si Dungu. Faktanya, dia bertanggung mengelola negara dengan penduduk 240 juta lebih. Negara yang tercatat memiliki bangsa dan suku bangsa asli paling beragam. Negara yang daratan nya berupa 17 ribu pulau.

Bacaan Lainnya

Jika negara ini belum juga bisa maju menyaingi negara tetangga, maklumi saja. Kalau negara ini masih belum mampu memenuhi hak-hak dasar rakyatnya, kita maafkan saja.

Bahwa, negara ini masih bertahan menghadapi badai krisis global pasca pandemi saja patut kita syukuri. Setidaknya, pelanggaran HAM oleh negara pun menyusut. Meski pekerjaan rumah urusan HAM masih menumpuk.

Di momen krisis seperti ini, mata saya terbuka, kenapa Joko Widodo yang mesti jadi presiden di era krisis. Pola pikirnya yang sederhana, tidak pernah memandang persoalan terlalu rumit. Semua masalah pasti ada jalannya, mbuh piye cara ne.

Karena casing plonga-plongo membuat oposisi mati gaya. Kebijakannya pun menjadi populer, sebab mayoritas bangsa ini masih simpatik dengan inferioritas. Semakin pemimpin dihina oposisi, semakin simpati dia peroleh. Meskipun based on prihatin.

Jokowi membuktikan, meskipun dinilai gegabah dan tidak efisien, tetapi dia bisa melalui pandemi COVID-19 relatif mulus. Bayangan social unrest, pembangkangan sipil ternyata tidak terjadi. Kepolosan Jokowi telah menghipnotis rakyat untuk mau bersama-sama patuh menghadapi krisis pandemi.

Apakah itu berarti rakyat sepenuhnya mendukung dia? Belum tentu, Jokowi menenangkan putaran kedua dengan suara 55 persen. Terlalu moderat bagi incumbent. Sekedar pembanding, Susilo Bambang Yudhoyono memperoleh 67 persen suara di periode kedua kepemimpinannya.

Rakyat bisa dipastikan menginginkan dia bertahan hingga 2024, lebih karena rakyat lelah oleh drama politik. Oposisi pun sudah lebih realistis dan mulai konsolidasi politik menghadapi 2024.

Namun, bukan berarti pemerintahannya akan nyaman pasca krisis. Oposisi ideologis saja selalu mengawasi rapat, terutama dengan isu ideologi Pancasila.

Gangguan terbesar justru akan datang dari pendukung yang mulai nyinyir. Mereka tidak akan berani menyeberang jadi oposisi, namun akan mengganggu dari dalam. Kelompok yang bakal ramai mengkritisi kebijakan adalah dari rekan pendukung, karena merekalah yang memiliki peluang sekiranya terjadi reshuffle.

Maka, saran saya di hari lahir Presiden Joko Widodo, mulailah memilih dan memilah kawan. Siasat musuh sangatlah mudah diterka, namun langkah sahabat sulit dicerna.

Hanya sahabat terdekat yang memiliki peluang untuk makan siang sambil diam-diam menabur racun.

Pos terkait